XIII. Petunjuk Kecil

1493 Kata
Mula-mula Zachary pergi menghampiri Hans dan memastikan apakah yang di ambil adiknya itu dari meja kepala sekolah. Saat dilihat tajuknya, benar yang diambil Hans adalah surat data orang hilang. Hans bahkan belum sempat melihat isinya, tetapi lengannya ditarik tiba-tiba oleh Zachary yang akan membawanya entah ke mana. Beberapa saat lengan Hans ditarik, ternyata Zachary membawa adiknya itu ke belakang gedung perpustakaan. Tak lama, Sera datang menghampiri keduanya sambil membawa tas milik Hans. “Sudah dapat datanya?” tanya Sera. “Aman, aku berhasil mendapatkannya,” ujar Hans sambil menunjukkan kertas datanya. Sera melirik Zachary. “Setelah ini kau akan mengalihkan penjaga itu, kan?” “Tidak hanya mengalihkan, aku akan membuatnya pergi dan menciptakan banyak waktu untuk kita berada di dalam perpustakaan.” Zachary berkta. “Tunggu aba-aba dariku! Sebelum mendapatkan aba-aba dariku, tetaplah berada di sini. Jangan sampai ketahuan. Sebentar ya, aku akan melakukannya.” Zachary pun pergi. Karena ia sudah tau bahwa decitan di antara engsel pintu perpustakaan sangat berisik, ia membuka pintunya dengan sangat perlahan. Zachary melihat Andy yang berdiri lurus di depannya sedang menaruh buku di atas rak. Andy lalu menoleh dan menghampiri Zachary. “Ada apa lagi? Apakah ada barangmu yang tertinggal atau kau ingin meminjam buku?” tanya Andy. Zachary menelan ludahnya sendiri, jantungnya berdetak sedikit lebihkencang. “I- itu … guru Diana memintamu untuk menemuinya.” Tanpa alasan yang jelas, Andy menampakkan ekspresi terkejutnya. “Benarkah? Sekarang ia ada di mana?” Kini Zachary menggaruk kepalanya yang tidak gatal berusaha mencoba berdalih. “Tadi guru Diana mengatakan jika ingin bertemu denganmu di gedung aula. I- iya benar gedung aula, ia juga mengatakan ada sekardus buku di ruang berkas yang sepertinya bisa dipindahkan ke perpustakaan.” “Gedung aulah ya? Baiklah, aku akan segera pergi ke sana. Terima kasih, ya!” “Iya, sama-sama. Kalau begitu, aku permisi ingin bersiap `tuk pulang.” Zachary pergi ke luar perpustakaan duluan, ia melangkah menuju bagian belakang perpustakaan. Namun, di tengah langkahnya ia bersembunyi di balik tiang penyangga bangunan dan diam-diam melihat Andy keluar dari perpustakaan. “Baguslah, ia sudah keluar. Ini saatnya mencari tahu tentang rahasia di dalam perpustakaan!” gumam Zachary. -Path- Andy sampai di depan gedung aula, tetapi hanya sepi yang dilihatnya. Tidak ada seorang pun bahkan Diana. Ia berkeliling di sekitaran aula dan tak kunjung menemui Diana. Hingga Andy melihat seorang petugas sekolah lainnya datang membawa rantai dan gembok. Lalu Andy menghampirinya. “Maaf, apa kau melihat wakil kepala sekolah kita?” tanya Andy. “Bu Diana … aku baru saja melihatnya ada di gedung olahraga. Tetapi bukannya kau adalah penjaga perpustakaan, mengapa mencarinya?” “Aku memiliki urusan dengannya. Terima kasih ya, sampai jumpa!” Andy menepuk pundak petugas itu dan segera berlari kecil menuju tempat Diana berada. Petugas itu tersenyum sambil menggeleng setelah pundaknya ditepuk Andy. Setelah Andy sampai ke gedung olahraga, akhirnya ia bertemu dengan Diana. “Akhirnya ketemu juga, lelah aku berjalan ke sana kemari,” batin Andy. “Hei, kau ke mana saja? Aku sudah menunggumu sejak tadi,” ujar Diana. “Kau mencariku? Tadi ada seorang siswa yang mengatakan padaku jika kau ingin menemuiku di gedung aula. Namun, saat aku pergi ke sana ternyata kau tidak ada.” Andy menjelaskan. Diana tertawa mendengarnya. “Pasti anak itu salah mendengar ucapanku. Karena itu kau jadi salah tujuan untuk menemuiku. Baru saja aku meminta petugas untuk menggembok gedung aula karena data di sana sudah selesai di cek.” “Lalu, apa kepentinganmu denganku?” tanya Andy. “Sebelum itu, apakah kau sudah menemukan buku Troundarial bagian pertama dan kedua?” “Belum, aku tidak menemukannya di mana-mana. Sepertinya hanya itu yang tersisa, kemungkin bagian pertamanya sudah rusak atau hilang.” “Aku tidak bisa menemukan jawaban dari dua buku terakhirnya,” gumam Diana. “Ada lagi?” tanya Andy memastikan apakah masih ada yang harus ia kerjakan atau tidak. “Oh ya, hampir saja lupa. Aku masih harus merapihkan data-data gedung olahraga untuk libur sekolah nanti, semua data murid beserta nilainya akan kurapihkan terlebih dahulu. Tolong cek-kan beberapa data di gudang penyimpanan berkas. Seingatku, datanya ada di dalam kardus rak penyimpanan nomor dua. Jika ada berkas nilai atau aktivitas sekolah di tahun pelajaran kali ini langsung berikan padaku, ya.” Diana menjelaskan. “Baiklah, aku akan segera membereskannya.” Andy menanggapi. “Jika kau menemukan sekardus buku bekas di dalam kardus, ambil yang sekiranya masih bisa dibaca lalu pindahkan ke perpustakaan,” tambah Diana memerintahkan. Lalu Andy pergi menuju ruang penyimpanan berkas sesuai dengan permintaan Diana kepadanya . Di tempat lain, tepatnya di seberang ruang kepala sekolah. Julian datang menemui Redd yang masih bersembunyi di balik tembok. Julian menanyakan apa saja yang dilakukan oleh Zachary dan Hans, dengan santainya Redd mengatakan bahwa Hans mencuri sebuah data dari dalam ruangan kepala sekolah. Julian mengerutkan dahinya setelah mendengar informasi tersebut dari mulut Redd. Tak lama terlihat Andy yang berjalan di depan ruangan guru sambil membawa sekardus berisikan buku tak terpakai. Sepertinya sekardus buku itu ia ambil dari gudang penyimpanan berkas. Redd dan Julian tidak sadar sama sekali akan kehadiran Redd. Lalu, sampailah Andy di depan ruang kepala sekolah dan ia melihat pintunya yang tidak terkunci. Sontak Andy menaruh kardus yang ia bawa di atas lantai dan ia memasuki ruangan kepala sekolah. Di dalam ruangan, Andy seperti mencari-cari sesuatu sampai semua berkas di atas meja kepala sekolah berantakan. Sepertinya ia sedang mencari data orang hilang yang telah duluan diambil Hans dengan bantuan Zachary. Mengetahui yang ia cari `tlah hilang dari tempatnya, Andy bergegas pergi ke luar ruangan mengambil kardus yang berisikan buku-buku tak terpakai. Setelahnya Andy berjalan-jalan melihat sekitar dan ia melihat Redd yang tengah berbincang dengan Julian di balik tembok, Andy-pun menghampirinya. “Umm permisi, kalian berdua. Bolehkah aku bertanya?” “Iya, ada apa?” Redd menanggapi. “Apakah kalian melihat seseorang keluar dari ruang kepala sekolah dengan membawa sebuah data atau semacamnya?” tanya Andy. “Tidak, kami tidak melihat siapa pun apalagi keluar dari ruangan kepala sekolah. Bahkan aku sendiri tidak tahu jika pintu ruangan kepala sekolah tidak terkunci.” “Kau serius dengan ucapanmu, kan? Aku harap kau tidak berbohong,” ucap Andy. Julian mengerutkan dahinya lalu berkata, “Hei ayolah untuk apa kami berbohong? Sejak tadi kami hanya membicarakan rencana liburan kami nanti saat sekolah diliburkan.” “Begitu ya, maaf jika aku mengganggu kalian. Aku permisi terlebih dahulu,” pungkas Andy yang setelah berbalik badan dan pergi. Baru beberapa langkah berjalan, tak disangka Andy tersandung. Untung saja buku yang sedang dibawa tidak jatuh berceceran. Redd dan Julian terpaku hanya memandangi Andy yang tersandung tanpa memberikan respon sedikit pun. Andy melirik ke arah belakang untuk sesaat dan setelahnya langsung bergegas pergi. “Gerak-geriknya mencurigakan sekali,” ujar Redd. “Ya, kau benar. Seingatku dia hanyalah petugas penjaga perpustakaan. Tetapi mengapa jadi ia yang khawatir jika ada data yang dicuri dari ruang kepala sekolah. Apa hubungannya dengan dia.” Julian berkata sambil kebingungan. “Apa lagi ia mengatakan data yang diambil dari ruang kepala sekolah itu secara terang-terangan. Dari mana ia tahu ada data yang hilang? Padahal aku sendiri tidak pernah melihatnya di lingkungan sekolah ini.” “Itu karena ia adalah penjaga perpustakaan yang baru, belum lama menggantikan penjaga sebelumnya yang sakit,” ungkap Julian. “Sepertinya data yang diambil Hans tadi sangat penting baginya. Kita harus mengetahui apa isinya.” Julian menambahkan. “Pastilah data itu sangat dicari olehnya,” ucap Redd. “Atau mungkin ia tidak mencarinya. Tapi ada orang lain yang menyuruhnya untuk mencari data tersebut.” Redd menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ah sudahlah. Permasalahan ini lama-lama bisa membuatku gila. Ayo kita pergi mencari Hans dan mencari tahu apa isi dari data yang ia ambil!” keluh Redd mengajak Julian untuk pergi. Julian tertawa mendengar Redd. Lalu keduanya pergi untuk mencari informasi lebih lanjut terkait data yang diambil Hans dari ruang kepala sekolah. Namun, baru saja beberapa langkah yang dilalui Julian mendadak berhenti. Ia melihat sebuah kalung yang terjatuh di antara tanah berpasir. Julian mengambil kalung tersebut dan megamatinya untuk beberapa saat. Kalung dengan plakat perak kecil yang memiliki ukiran bertuliskan Heirloom of Ashes. “Pasti penjaga perpustakaan itu yang menjatuhkannya.” Julian bergumam. “Hei apa yang sedang kau genggam itu?” tanya Redd membungkukkan tubuhnya. “Hanya sebuah kalung perak,” jawab Julian. “Oh ya Redd, apakah kau mengetahui tempat-tempat yang mencurigakan di wilayah keluarga terpandang?” tanya Julian setelahnya. Redd memiringkan kepalanya. “Eh? Maksudmu tempat yang diasingkan?” “Ya … semacam itulah.” “Kalau itu ada Gravettonn, Merchalite dan Tintetown. Juga seingatku ada satu lagi kota yang diasingkan yaitu kota tanpa nama di tengah Ashen Route. Kota itu sangat misterius dan tertutup jadi tidak banyak yang tahu apa yang ada di dalamnya.” “Hmm, sepertinya dugaanku benar,” lirih Julian berkata. Redd menyipitkan matanya. “Jujur saja aku tidak paham akan apa yang kau bicarakan.” Julian tertawa kecil. “Jangan kau hiraukan. Lebih baik kita mencari keberadaan Hans dan Zachary sekarang,” ujar Julian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN