Poker Face

1274 Kata
“Tunggulah di sini sebentar bersamanya, aku akan ke ruang mayat untuk melihat korban. Jangan ke mana pun dan jika kau membutuhkanku temui aku langsung,” ujar Detektif Joker yang menyuruh Jea untuk menunggunya di ruang tunggu miliknya. Ruangan milik Detektif Joker di kantor kepolisian memang disediakan karena secara tertulis dia menjabat sebagai pekerja di sana meskipun dia tidak menginginkannya. Jea sebenarnya tidak ada keharusan menunggu di ruangan tersebut, hanya saja Agatha ada di sana. Dia harus terus mengawasi wanita tersebut. Meskipun ini di kantor kepolisian, tetapi tetap saja dia tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya. “Ya, aku tidak akan ke mana-mana,” jawab Agatha sambil duduk di kursi ruangan Detektif Joker. Jea menatap Detektif Joker sesaat, ada yang harus dibicarakannya kemudian dia mengikuti sang detektif keluar. “Tunggu sebentar, Detektif,” kata Jea sambil menghampirinya. “Ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Detektif Joker menaikkan alisnya sambil menatap Jea. “Jangan katakan kau ingin bicara mengenai isi hatimu?” Jea mengernyit heran. “Tidak di sini. Nanti kita akan bicara setelah urusan dengan mayat sialan itu selesai,” sambungnya sambil menangkap sisa-sisa keheranan di wajah Jea. “Baiklah,” jawab Jea setelahnya. Detektif Joker kemudian berlalu ke arah ruang mayat. Dia menatap punggung pria tersebut sambil menghela napas panjang. Bisa-bisanya isi hati dan pikirannya terganggu oleh pria gila tersebut. Setelah Detektif Joker dan Jea meninggalkan ruangannya, Agatha memperhatikan ruangan itu, banyak tumpukan kertas di atas mejanya. Cukup berantakan memang, tetapi tidak terlalu mengganggu penglihatan Agatha. Agatha lalu duduk di kursi kerja Detektif Joker, dia melihat ada foto anjing peliharaannya yang berjenis German Shepherd dan foto senjata api yang tidak diketahui Agatha jenis apa. “Aku tidak tahu apakah aku ini jahat atau benar, seharusnya aku tidak melibatkanmu dalam masalah ini.” Agatha berkata pelan sambil memperhatikan ruangan milik sang detektif yang cukup nyaman. Saat dia memperhatikan sekitar, Jea kembali masuk ke ruangan detektif. Dia tersenyum lebar. “Kau perlu sesuatu? Ingin minum?” tawarnya sambil membuka tirai ruangan agar cahaya matahari bebas masuk. “Terima kasih, tetapi tidak perlu,” jawabnya membalas senyum Jea. Dia mengakui bahwasannya polisi wanita yang bernama Jea itu amatlah sangat cantik. Dari wajahnya sudah terlihat dia berdarah campuran sepertinya. Kontur wajahnya lebih banyak ke Asia. “Maaf aku jadi merepotkanmu.” “Tidak apa-apa, ini memang sudah menjadi tugasku.” Dia mengangguk seadanya. Jea memilih membuka majalah lama di ruangan sang detektif, sementara Agatha hanya duduk diam sambil melihat keluar jendela yang menghadap taman kantor. Dia tidak ingin bertanya mengenai hal yang bersifat pribadi padahal dia ingin sekali tahu tentang sang detektif. Dia penasaran mengapa sang detektif menyuruhnya untuk tinggal di apartemen miliknya dan hubungan polisi cantik serta Detektif Joker karena dia pernah mendengar percakapan keduanya dan melihat sang detektif ingin mencium sang polisi cantik. Dia merasa menjadi beban dan penghalang kedua insan tersebut. Jea pun sekarang menjaganya karena pekerjaan. “Detektif, ini laporan yang Anda minta.” Natasha langsung membulatkan matanya ketika ia melihat siapa yang berada di dalam ruangan Detektif Joker. “Agatha!” kagetnya dengan intonasi yang tidak memercayai penglihatannya. “Natasha!” Agatha tidak kalah terkejut mengetahui siapa orang itu. Jea menatap keduanya bingung. Dia kemudian merasa tidak enak dan memilih untuk tersenyum. “Maaf, bisa biarkan kami bicara sebentar? Kau boleh menunggu di depan pintu,” pinta Agatha memohon. Jea bergantian menatap Agatha dan Natasha, dia merasa curiga, tetapi segera dia tepis. Akhirnya Jea keluar dan memutuskan menunggu di luar. Dia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. “Mengapa kau ada di sini?” tanya Natasha yang langsung masuk kemudian menutup pintu ruangan Detektif Joker lalu dia mendekat ke Agatha. “Kau tidak perlu tahu, ini urusanku!” jawab Agatha tidak suka. Natasha memegang lengan Agatha dan dia menatap tajam Agatha. “Aku tidak bertanya apa yang kau lakukan di sini Natasha, jadi jangan tanya mengapa urusanku di sini!” jawab Agatha mulai marah. Dia berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Natasha. “Jawab aku, Agatha! Apa yang kau lakukan di sini? kau terlibat di dalam kasus ini?” tanya Natasha penuh penasaran. “Sudah aku katakan itu bukan urusanmu. Kita mempunyai tugas masing-masing. Cepat keluar, aku tidak ingin Detektif Joker tahu kau mengenalku! Polisi wanita itu juga akan curiga! ” Usir Agatha sambil mencoba mendorong Natasha keluar. “Tidak sebelum aku mendapat penjelasan atas ini semua. Kenapa kau ada di Las Vegas? Tugasmu bukan di sini. Ini adalah bagianku!” jawab Natasha setengah berteriak. “Aku mempunyai urusanku sendiri. Jangan ikut campur. Kau dengar aku Natasha.” Kali ini Agatha berbicara dengan nada yang lebih pelan, tetapi tetap dengan penekanan. “Jangan ikut campur urusanku dan jangan sampai kau membocorkan siapa aku sebenarnya kepada Detektif Joker. Kau mengerti,” gertak Agatha sambil menatap Natasha tajam. “Kau mendekatinya lalu memanfaatkannya? Ciri khasmu sekali, Agatha Roths,” cibir Natasha balas menatap Agatha tajam. “Diam kau! Bukankah kau juga melakukan hal yang sama. Menyamar menjadi bawahannya. Apa tujuanmu!” ucap Agatha lagi dengan intonasi yang mulai meninggi. Kecemasan saat ini mulai menghantuinya. Dia tidak menyangka bahwa Natasha Koizumi mengenal Detektif Joker dan ida akan terlibat di dalamnya. “Ini urusanku dan tugasku jadi aku akan tetap menjalaninya. Aku sebisa mungkin akan lebih dulu pergi darinya sebelum dia tahu siapa aku,” sambung Agatha lagi. Natasha menatapnya tajam lalu dia membuang wajahnya dan kemudian Natasha dengan cepat keluar dari ruangan Detektif Joker. Jea yang tadi berdiri di depan pintu merasa heran melihat Natasha keluar dari ruangan Detektif Joker dengan wajah kesal. Agatha langsung terduduk lemas kemudian dia menarik napasnya dalam-dalam. Tubuhnya gemetar dan degup jantungnya berpacu. Masa lalunya yang cukup buruk dengan Natasha membuat hubungan mereka tidak akur. Semua itu karena keirian Natasha terhadap Agatha. “Tuhan kumohon tolong aku, aku takut,” lirih Agatha sambil mengusap wajahnya. Kecemasannya tiba-tiba memuncak kembali sama seperti saat Tanaka dan pihak kepolisian mengejarnya. Detektif Joker diikuti oleh Jea memasuki ruangannya, Agatha langsung terkejut dengan kehadiran Detektif Joker. Dia menyangka itu adalah Natasha lagi. Detektif Joker yang melihatnya merasa aneh. Seperti baru saja terjadi sesuatu kepada Agatha. Detektif Joker memperhatikan keringat di pelipis Agatha padahal ruangan tersebut memiliki pendingin udara terlebih jendela ruangannya sudah dibuka oleh Jea. Dia yakin sirkulasi udara di ruangannya tidak panas sama sekali. Agatha yang tahu Detektif Joker curiga kepadanya langsung berpura-pura tidak terjadi apa-apa kepada dirinya. “Aku hanya takut itu bukan kau, Detektif,” ucap Agatha cepat sebelum Detektif Joker bertanya. Jea menatap Agatha yang gugup. Dia memang belum memberitahu kepada detektif mengenai kedatangan Natasha ke ruangannya. “Kenapa kau berkeringat? Aku rasa ruangan ini dingin,” ucap Detektif Joker sambil duduk di kursinya. “Apa baru saja terjadi sesuatu kepadamu, Wanita Sialan?” tanya Detektif Joker dengan tatapan menyelidik. Dia kemudian menatap Jea yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu pasti tahu sesuatu dan dia akan menginterogasi Jea bila dirasa kurang mendapat informasi dari Agatha. “Ya sebenarnya, tadi ada sekertarismu yang ingin mengantarkan berkas dan aku tidak tahu harus berkata apa kepadanya jadi aku sedikit cemas,” jawab Agatha dengan penuh keyakinan. Detektif Joker masih menatap Agatha, tetapi setelahnya dia mengangguk. Berarti memang benar dia harus bertanya kepada Azalea. Sudah menjadi tugasnya untuk mengawasi terduga. “Ayo kita pulang, urusanku di kantor sialan ini sudah selesai. Aku tahu kau sedikit tidak nyaman berada di kandang kotor ini,” ucap Detektif Joker sambil menyerahkan mantel kepada Agatha. Detektif Joker sedikit memijat lengan atasnya dengan satu tangannya yang bebas. Agatha menerimanya lalu memakainya. Pikirannya sangat tidak tenang saat ini. Sementara Jea memperhatikan perubahan raut wajah sang detektif. Semakin dia sering berinteraksi dengan Detektif Joker, semakin dia bisa membaca perubahan raut di wajahnya. Padahal selama ini dia dikenal dengan julukan Poker Face.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN