"Roma berulah lagi Pak hari ini. Dia baru saja kedapatan memukuli Dani," ujar kepala sekolah berbicara pada kedua orang tuanya Roma. Ibunya Roma sempat shock awalnya mendengar kembali perkelahian Roma. Suryono memasang wajah amarah yang tertahan. Roma melirik ayahnya, dilihatnya tangan Suryono yang terkepal di atas pahanya. Masalah lagi. Roma sudah tahu apa yang akan ia alami nantinya.
"Bukan cuma itu aja, Pak!" Seseorang datang menyela obrolan kepala sekolah dengan kedua orang tua Roma. Guru itu datang dengan marah-marah. Guru yang sempat berseteru dengan Roma tadi pagi. "Anak ini juga berani menghina dan merendahkan harga diri saya. Anak murid macam apa dia seperti tidak dididik oleh kedua orang tuanya" sambungnya lagi setelah berdiri di samping kursi kepala sekolah.
"Pak! Jangan bawa-bawa kedua orang tua saya. Bapak sendiri yang telah menghina saya duluan," balas Roma tidak mau kalah. Dasar tukang mencari kesempatan dalam kesempitan. Sudah menemukan celahnya, ia malah kesempetan menambah masalah Roma.
"Eh diam kamu!" gertak Guru itu yang bernama Suherman. "Liat sendiri, kan Pak betapa tidak sopannya anak ini sama orang yang lebih tua dari dia," tambahnya lagi semakin memanasi suasana.
"Saya minta maaf atas kejadian hari ini, say----"
"Enak saja minta maaf!" potong wali murid Dani yang muncul tiba-tiba sambil berjalan angkuh. "Anak anda sudah merusak wajah tampan anak saya dan anda hanya bilang maaf saja?" Sambil menunjuk-nunjuk wajah Suryono. Suryono paling tidak suka ditunjuk-tunjuk seperti itu sebab dia akan merasa terhina. Dan saat dirinya terhina ia akan melawan namun itu dulu. Saat sekarang dia sudah menjadi pria dewasa yang tentu tahu kapan ia harus melawan orang-orang yang telah menghinanya. Tapi saat ini, mustahil untuk dia lawan karena semakin ditentang dan dia memberontak, akan semakin besar masalah yang ada. "Tidak bisa!" tandasnya cepat dan suara tingginya semakin menegaskan keinginannya.
"Pak kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik," ucap bapak kepala sekolah sebagai orang penengah dari orang-orang yang terlibat dalam masalah ini.
"Bicara baik-baik? Berdamai maksud kamu? Baik. Kalo gitu saya minta biaya pengobatan anak saya sekarang juga baru masalah kita saya anggap selesai. Saya minta dua juta!"
"Apa? Dua juta?" Sri nyaris mau jatuh dari kursinya tapi untungnya Roma dengan sigap menahan tubuh sang ibu yang kaget mendengar tuntutan dari ayah Dani yang terkenal orang yang sangat serakah.
"Tapi saya mau dapetin uang sebanyak itulah dari mana?" Suryono kebingungan, ia tahu ia pasti akan dipaksa untuk mengganti biaya pengobatan Dani tapi dia tidak menyangka bila dia harus membayar uang sebanyak itu. Mau makan saja susah. Yang benar saja, sudah miskin diperas lagi. Hidup mereka apa harus seblangsak itu?
"Kenapa tanya saya? Emangnya saya bapak kamu. Iya, usaha dong. Minjem kek ke rentenir," selorohnya nyolot.
Roma berpikir ini salahnya, harusnya orang tuanya tidak menanggung kesalahannya. Ia lah yang harus bertanggung jawab membereskan permasalahan ini. "Tapi Pak, kami----"
"Roma!" sela Suryono. "Mending we meneng wae," katanya lagi. Meskipun pelan suaranya tapi terdapat penekanan yang kuat di intonasinya. Ada tersirat sesuatu untuk tidak meledak emosinya.
(Lebih baik kamu diam saja!)
Roma awalnya kaget ketika dia mau berbicara namun bapaknya langsung mengambilnya alih pembicaraan.
"Pak tunggu dulu sebentar," seru pak Wiranto datang bersama Dien. Anak perempuan itu berlari mendekati Suryono. Suryono memasang wajah ramah. Ia tersenyum pada anak perempuan ini sambil membelai lembut rambut panjang anak perempuan tersebut. "Pak, jangan marahin Roma, ya. Roma tidak bersalah. Roma cuma membela Dien sewaktu Dien dikata-katain sama Dani dan teman-teman yang lainnya," jelas Dien dengan polosnya. Wajahnya tersirat takut dan khawatir. Sementara Suryono masih tetap bersikap tenang.
"Itu benar Pak, sebenarnya Dani yang salah," ujar pak Wiranto menjelaskan detail tentang kejadian yang telah Dien beritahukan padanya. Namun, ayah Dani pun tidak terima seolah-olah anaknya yang bersalah.
"Pokoknya saya tidak peduli. Saya minta biaya pengobatan untuk anak saya kalau tidak saya tuntut sekolah butut ini," ancamnya masih keras kepala pada pendiriannya. Pak kepala sekolah dan kedua guru tersebut langsung kaget dan bilang, "Jangan pak! Jangan!"
"Iya, Pak jangan nanti kita mau ngajar di mana kalo sekolah ini ditutup."
Akhirnya daripada terjadinya keributan yang tidak diinginkan dan kepala sekolah tersebut memahami kondisi keuangan keluarganya Roma yang tidak akan memungkinkan bahwa akan bisa memberikan biaya pengobatan Dani. Solusi yang hanya dapat diberikan adalah ada pada apa yang diucapkan oleh bapak kepala sekolah. "Begini saja Pak, urusan biaya pengobatan Dani biar kami yang tanggung karena kejadiannya juga masih di dalam lingkungan sekolah dan masih tanggung jawab sekolahan juga."
"Nah, gitu dong! Dari tadi kek ngomongnya jadi nggak buang-buang waktu saya di sini," katanya, wajahnya berseri-seri. "Dua juta, ya!" Lagi, dia memastikan bila yang dia dapatkan harga sekian yang dia minta. Ayah Dani menatap tajam Roma sebelum ia pergi. "Dan kamu... awas kamu nyentuh-nyentuh anak saya lagi. Mati kamu di tangan saya." Roma tidak takut akan ancamannya. Itu hanya omongan saja yang tidak terbukti. "Pak... anak saya juga... Roma terluka. Apa dia juga bisa mendapatkan biaya dari sekolah untuk diberi perawatan di puskesmas seperti Dani?" tanya Sri. Pasalnya Sri memang sudah memeriksa bahwa tubuh Roma ada yang terluka. Pertama di kedua lututnya yang berdarah dan di sikut tangannya juga sama halnya banyak goresan hingga mengeluarkan darah namun Roma tidak menunjukkan rasa sakitnya. Dien bahkan tak percaya, Roma masih tenang-tenang saja padahal Dien yakin pasti yang Roma rasakan sangatlah perih.
Bapak kepala sekolah tersebut tertawa mendengar permintaan dari wali murid. Sri. Kedengarannya sangat konyol sekali dan sangat lucu sekali bila ia mengabulkan permintaan dari Sri sementara itu Suherman sendiri juga ikut tertawa, baginya ini adalah lawakan komedi yang sangat menggelikan untuk didengar. Namun, bagi keluarga Roma tawa mereka adalah sebuah hinaan. Sri tertunduk malu. Apakah yang barusan ia katakan itu salah? Wiranto tampak merasa kasihan pada Roma dan kedua orang tuanya sedangkan Dien, anak perempuan itu hanya memasang ekspresi bingung yang tak ia pahami apa yang sedang orang-orang tua ini bicarakan.
"Heh! Suherman diam kamu. Ngapain ikut-ikutan ketawa?" tegur sang kepala sekolah yang sejak tadi memerhatikan Suherman yang makin lama makin besar saja tawanya padahal ia sudah berhenti tertawa. "Sudah kalian berdua pergi sana ngajar. Jangan makan gaji buta!" titahnya pedas.
"Pak.. bagaimana dengan Roma yang juga perlu harus ke puskes-----"
"Sssttttttttt!!!!!" Jari telunjuk menempel di bibirnya dan ia pun mendesis panjang sebagai tanda untuk menghentikan Suryono berbicara. "Saya sudah bantu kalian. Kalian tidak perlu menanggung urusan biaya pengobatan Dani. Apa itu masih kurang?" Mereka semua terdiam. "Saya tahu Roma ini dari keluarga miskin. Mau makan saja susah." Mendengar kata miskin, tentu hal itu membuat mereka yang merasa dibicarakan sangat tersinggung dan rendah juga tak tertinggal rasa malunya. "Mana sanggup buat bayar pengobatan Dani." Bapak kepala sekolah tersebut memasang wajah serius. "Dan kalian masih meminta saya untuk membiayai pengobatan Roma? Alangkah tidak tahu dirinya kalian. Sudah miskin, tak tahu rasa berterima kasih. Orang miskin obatin aja pake yang ada di rumah kalian. Kalo Dani wajar, dia keluarga yang berkecukupan, lah, Roma. Anak miskin minta dibiayain. Mimpi kalian." Sudah puas dihina-hinakan diri mereka dan harga diri mereka rasanya sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan di sini. Roma ingin sekali melawan namun apa daya. Ia tak bisa melakukan apa-apa kalau tidak mau hukumannya makin bertambah terlebih bapaknya menyuruhnya untuk lebih baik diam saja.
Akhirnya karena tak ada kata yang harus diucapkan lagi oleh mereka selain berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Mereka mengangkat kaki dari sana, bergegas untuk pergi dengan kepala tertunduk. Dien dan Sri membantu Roma untuk berjalan.
"Pak Suryono." Tiba-tiba mereka dipanggil dan terpaksa harus menghentikan langkah mereka kembali. Mereka semua berbalik badan. "Tolong kasih tau ke anak kamu, kalian, kan bukan orang punya. Suruh Roma sekolah yang benar, jangan kebanyakan tingkah pake acara buat keributan segala atau saya tidak segan untuk mengeluarkannya dari sekolah ini. Tolong pahami kata-kata saya ini, ya, Pak Suryono," tuturnya. Mereka tak lagi bisa berkutik setelah diberitahukan dengan cara yang sangat tidak menyenangkan. Menghina harga diri dan martabat mereka.
* * * *
"We pengen dadi jagoan ? Yo to . Berarti we yo kudu nahan ambek pentunganku."
(Kamu mau jadi jagoan? Iya, kan? Berarti kamu harus tahan pukulan saya!)
"AAAAKHH!!!!" teriak Roma kesakitan di dalam kamarnya. Bapaknya memukul dirinya dengan rotan kayu dari kakinya, pahanya, tangannya hingga semua tubuhnya memerah. "Puas to we wes ngawe keluarga kene dinyek diidek idek ntek ntek.an."
(Puas kamu sudah membuat keluarga kita dihina habis-habisan)
Lagi, semakin Suryono berbicara, semakin itu pula pukulannya tidak akan pernah berhenti. Sri menangis sejadi-jadinya. Ia memohon untuk menyudahi hukuman Roma.
"Wes lah pak mandek . Roma wes loro iku lo, gausah mok tambahi lorone . Wonge rasalah rasalah."
Sudahlah Pak, berhenti. Roma sudah kesakitan, jangan kamu tambah lukanya. Dia tidak salah Pak, tidak salah," mohon Sri teramat sangat. Suryono akhirnya mengalah karena mendengarkan apa kata istrinya.
"Bagian mana yang menurut Ibu dia itu tidak salah? Bagian mana Bu? Bapak menyekolahkan dia itu biar dia jadi anak yang pintar. Nggak bodoh seperti kita. Bapak kepengen dia jadi orang yang sukses di masa depan Bu. Bukan jadi anak sok jagoan. Dia kalo mau bertingkah seperti preman, bergaul aja sana sama berandalan di jalanan," katanya penuh dengan rasa kekecewaan. Bahkan saat berbicara pun, Suryono sempat menunjuk anak itu dengan alat pemukulnya. Setelah ia berbicara dengan Sri, ia pun keluar dari kamar anaknya. Sri mendekati Roma. Ia menoyor dahi Roma dengan gerakan pelan. "Gimana, sih, Le kamu ini. Susah payah bapakmu menyekolahkan kamu tapi ya kok kamu malah melakukan sesuatu yang mengecewakan kami. Capek Ibu le ngadepin sikap kamu yang begini-begini terus. Buat malu," ungkap Sri mengenai kekecewaannya pada anak sematawayangnya. Sri memilih meninggalkan Roma dalam kesendiriannya. Tak ada lagi yang bisa Roma lakukan selain hanya memilih berbaring di kasurnya yang tak empuk yang hanya membuat tubuhnya semakin terasa sangat sakit.
* * * *
Dien telah selesai beribadah bersama mamahnya dan kedua kakaknya. Kakak pertamanya bernama Melly. Ia sempat menanyakan soal cerita Dien tadi sebelum berangkat ibadah ke gereja. Ini kesempatan yang bagus karena mamahnya sedang memesan makanan bersama Mella, kakak perempuan kedua Dien. Saat ini mereka ada di tempat makan dekat dengan tempat ibadah mereka yang baru didatangi tadi.
"Roma... Roma udah menolong Dien Ce, tapi Roma jadi sasaran yang selalu dipojokkan. Dien merasa kasihan sekali. Roma itu orang yang baik, Ce. Dien selalu diejek orang China tapi item, Dien tidak sama seperti Ce Melly dan Ce Mella. Kalian putih tapi Dien hitam," lirih Dien bersedih.
"Dien, kita punya darah pribumi, Jawa seperti papa. Kita juga keturunan Tionghoa. Dien tidak perlu bersedih soal apa yang mereka katakan tentang Dien. Kulit Dien memang tidak sama seperti mamah, Cece dan ce Mella tapi Dien... ingat satu hal ini, apa yang terlihat berbeda luarnya bukan berarti Dien tidak sama. Dien jangan pedulikan orang-orang yang menghina Dien, ya," terang sang kakak yang mulai menghangatkan hati Dien kembali. Rasa sedih itu perlahan pupus berkat sang kakak.
"Ce Melly itu benar," celetuk Mella tiba-tiba datang namun tidak bersama dengan mamanya.
"Di mana mama?" tanya Melly, celingak-celinguk melihat di belakang Mella tidak ada mama mereka.
"Oh, ya, aku sempat dengar apa yang kalian bicarakan." Mella menatap sang adik bungsunya yang duduk di sampingnya. Dirangkulnya Dien dengan penuh kasih sayang. Mella bicara lebih dekat dengan sang adik. Ia menyentuh kulit Dien yang memang memiliki kulit sawo matang tidak seperti cece-cecenya dan mamanya yang memiliki kulit putih dan kuning langsat untuk Mella. "Kulit kamu mengambil dari papa. Papa itu Jawa jadi kulit kamu persis seperti papa dan mata kamu..." Mella menyentuh manik mata Dien dengan lembut. "Mirip seperti mama, sipit. Kamu perpaduan antara mama dan papa. Sangat unik Dien daripada dibandingkan dengan aku dan Ce Melly. Kamu mirip keduanya, mirip mama dan papa. Kamu memiliki ciri khas dan tidak semua orang punya. Jadi, buat apa kamu harus bersedih."
* * * *
Dien
Bila mengingat kembali kenangan itu. Ada rasa sakit di dalam d**a, rasa sakit tidak rela harus kehilangan kedua kakakku yang sangat aku sayangi. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana aku bisa kehilangan mereka. Aku hanya ingin membicarakan bagaimana aku akhirnya menyadari tentang jati diriku. Hanya mengenai diriku. Aku telah pulang dari perjalanan yang panjang dengan sahabatku, Samuel. Sekarang, yang menjadi pemandangan yang ku lihat adalah mama tengah menyiapkan makanan hanya untuk kami berdua. Dulu meskipun tidak ada sosok lelaki di keluarga kami, tapi suasana tetap ramai. Dengan mama, dengan adanya Ce Melly dan Ce Mella. Rasanya itu suasana rumah benar-benar hidup. Tidak seperti saat ini. Hanya ada aku dan mama. Kami tidak bisa menutupi satu sama lain bila memang kami sangat merasa kesepian dan juga masih dilingkupi perasaan kesedihan dan kerinduan walaupun kejadiannya sudah bertahun-tahun lamanya tapi tetap saja hal itu akan menjadi memori yang tak akan bisa terlupakan sepanjang sejarah. Namun, keadaan kami setelah sekian lama berkelut dengan jiwa yang tak pernah tentram dan tenang, terguncang dan hampir goyah. Kini kita harus bangkit dan tetap melihat masa depan bukan? Hidup masih terus berlanjut. Keadaan memang memaksa kami pada saat itu untuk menjadi sosok yang kuat dan tegar bahkan sampai hari ini, kita bercermin pada masa lalu untuk siap menghadapi ujian berikutnya yang datang silih berganti, teramat tiba-tiba. Sejujurnya, sebelumnya kita tidak ada persiapan dan tidak yakin akan hidup tragis yang harus kita alami. Tapi, di mana manusia masih hidup, masih memiliki kehidupan, masalah tidak pernah berhenti.
Aku masih terpekur di tempatku dan mama belum menyadari kehadiranku. Pelan-pelan ku melangkahkan kakiku menuju ke arahnya. Ia berdiri membelakangi ku yang sibuk tengah menyajikan makan malam kami. Dan saat sudah tepat di belakangnya. Ku tepuk bahunya pelan. Dan kilas balik tentang masa laluku itu, pun kembali.
* * * *
Malam hari pada saat itu gelap. Keadaannya tengah mati lampu. Hanya ada penerangan sedikit di tiap rumah itu pun tidak semua rumah. Tanah Surabaya masih diguyur hujan yang deras. Tidak apa-apalah. Setidaknya mereka tidak tidur kepanasan. Dien pada malam hari itu tengah belajar seperti biasanya. Ia harus mendapatkan juara satu di kelasnya. Makanya dia itu terkenal dengan kecerdasannya dan juga prestasinya. Saat dirinya yang tengah belajar di bawah kegelapan dan hanya diterangi oleh lilin yang menyala di atas mejanya, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya. Dien terkaget-kaget apalagi dia paling parno urusan hantu. Dia berteriak-teriak ketakutan tapi mamanya langsung menyebut namanya. "Dien ini Mama!" Barulah Dien terdiam. Ia sudah merasa tenangan. "Mama, ngagetin Dien aja," protes Dien kesal. Sebab jam belajarnya malah diganggu.
"Mama mau bicara sama kamu soal kejadian di sekolah kamu."
"Ah," desah Dien pelan. Dia mulai gugup. Dien sengaja tidak menceritakan kejadiannya itu pada mamanya karena tidak mau membuatnya khawatir apalagi bila sudah berurusan sama Roma.
"Mella yang menceritakan ke Mama kalo kamu bingung kenapa Mama bisa tahu masalah kamu. Kenapa kamu tutup-tutupi masalah kamu dari Mama? Apa Mama tidak boleh berhak tau soal masalah anak Mama sendiri?" tanya mamanya bertubi-tubi. Mamanya ini sering sekali bersikap dingin padanya. Dien tidak merasa dekat dengan mamanya tidak seperti dua kakak perempuannya yang memang dekat dengan mamanya. Kadang kala perlakuan mamanya kepada dirinya dan kedua kakaknya itu berbeda. Mamanya memang perhatian tapi entah mengapa Dien merasa seperti ada jarak atau sekat yang memisahkan antara dirinya dengan sang mama. Karena itulah Dien sungkan untuk menceritakan masalahnya kepada mamanya.
"Mama jangan marah. Dien hanya nggak mau membuat Mama kha----"
"Khawatir okey," potongnya cepat. "Tapi ini ada kaitannya dengan teman kamu itu, kan? Roma... Roma itu."
"Ma... Roma yang udah menyelamatkan Dien dari olokan teman-teman," balas Dien berusaha untuk menjelaskan apa yang memang terjadi. Ia tidak mau ada kesalahpahaman.
"Tetap saja. Mama tidak peduli apa yang sudah teman kamu lakukan. Tapi Mama sudah bilang, kan sama kamu..." Mamanya menjeda lebih dulu apa yang akan ia katakan. Dien duduk berhadapan dengan mamanya. Dien duduk di kursi belajarnya sementara mamanya duduk di tepi ranjang tidurnya. Mamanya memajukan sedikit tubuhnya. Memegang erat kedua lengan atas Dien. Menatapnya penuh lekat tanpa membuang pandang barang sedetik pun. "Apapun alasannya. Jangan pernah berteman dengan Roma. Mama tidak suka Dien. Mama tidak suka anak lelaki itu."
Dien itu anaknya cengeng. Dia tidak bisa bila ada seseorang yang menggertaknya. "Hey! Kamu dengar, kan apa yang Mama bilang ke kamu. Jangan nangis. Mama nggak suka sama anak yang cengeng," ucapnya kesal. Meskipun Dien masih terbilang anak kecil tapi ia dapat memahami perbedaan perlakuan mamanya antara dirinya dan saudari-saudari kandungnya.
"Tapi... tapi Roma anak yang baik, Mah." Mamanya sempat memejamkan mata sejenak. Mendesis kesal. Seperti tak ingin mendengar kata-kata yang membela anak lelaki itu dari mulutnya Dien.
"Ssssttt!!! Sudah diam! Jangan membela anak itu terus. Dia anak yang tidak baik buat kamu Dien. Dia anak nakal."
"Tapi cuma dia yang mau berteman dengan Dien Mama."
"Tetap saja Mama tidak peduli!" bentak mamanya melepaskan kedua lengan Dien secara kasar dan tiba-tiba saat ia hendak berdiri. Tak lagi mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya. "Yang Mama mau tau adalah kamu jangan lagi berteman sama anak itu. Jangan melawan apa kata Mama, Dien. Kalo kamu masih mau Mama urusin," putusnya telak. Lalu meninggalkan Dien dalam kesunyian yang gelap bersama tangisannya.
* * * *
Dien kebingungan saat tahu Roma tidak masuk hari ini. Tadinya ia mau menyusul Roma ke rumahnya namun sikap posesif mamanya mulai lagi. Ia diantar ke sekolah oleh mamanya sampai masuk ke gerbang bahkan ditungguin sampai masuk kelas. Mungkin karena memang mamanya takut semenjak Dien berteman dengan Roma, mamanya takut bila Dien kabur dan tidak masuk sekolah. Akhirnya, daripada Dien dibilang membolos lebih baik Dien membohong saja. "Dien kamu kenapa?" tanya Wiranto, gurunya yang baru masuk ke kelas. Melihat anak muridnya meringkuk, menelungkupkan kepalanya di lipatan tangannya di atas meja, Wiranto menduga bila anak muridnya, Dien tengah, "Dien sakit?" Dien merasa bahunya ditepuk-tepuk. Ia pun lantas mengangkat kepalanya dan mengangguk. "Ya, sudah Dien pulang saja. Mau Bapak antar atau bagaimana?" tawarnya. Dien menggelengkan kepalanya. "Dien bisa pulang sendiri, Pak." Meskipun pak Wiranto agak enggan untuk membiarkan Dien pulang sendirian tapi pada akhirnya ia mengizinkan Dien pulang dengan sendirinya. Hanya saja Dien tak pulang ke rumah namun ia diam-diam mencari Roma. Ia tidak ingin ketahuan oleh kedua orang tua Roma tapi sepertinya Tuhan berkata lain. Ia kepergok oleh bapaknya Roma tengah mengintip jendela kamar Roma yang terbuka.
"Dien, ngapain kamu di situ?"
"Huh?"
Dien dibuat kaget dan nyaris terjatuh dari kursi kayu yang ia jadikan tumpuan kakinya supaya ia bisa mengintip dari jendela tersebut. Untungnya Suryono dengan sigap menahan tubuh Dien dari belakang. Lalu Dien di bantu turun dan mendudukkan anak itu di kursi yang ia pijaki tadi. Suryono mensejajarkan tinggi tubuhnya biar setara dengan tubuh Dien yang terbilang pendek.
"Eum... Dien... Dien mau ketemu sama Roma soalnya Roma nggak masuk sekolah. Ada tugas sekolah Pak. Dien... Dien mau kasih tau soal tugas sekolah ke Roma." Suryono terdiam mendengar penjelasan Dien. Dien berkata jujur. Ini bukan hanya sebuah alasan tapi memang kenyataannya yah seperti itu. Suryono menepuk bahu anak itu. Dien memang sudah seperti anaknya sendiri. Dien memang termasuk anak yang sangat dekat dengan Roma. Semua orang juga tahu Dien dan Roma bersahabatan. Dien selalu datang ke rumah untuk ikut Suryono dan Roma pergi berburu di hutan. Itu pun kalau mamanya Dien tidak tahu atau mamanya Dien sedang berada di luar kota seperti di Bangka Belitung untuk pekerjaan sebagai manager di suatu pabrik produk pangan. Sementara kedua kakaknya, Melly yang tidak kuliah tapi bekerja di pertokoan yang ada di kota Surabaya sementara Mella yang kuliah di universitas swasta. Iya, tentu kesibukan mereka jadi jarang memberikan perhatian pada Dien. Pada akhirnya Dien lebih memilih menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga Roma.
"Susul dia," ujar Suryono tersenyum hangat dan ramah. Mata Dien melebar berbinar-binar sangking gembiranya. "Dia ada di sungai," lanjutnya lagi. Tanpa pikir panjang lagi Dien langsung berlari menuju tujuan yang di mana Roma sedang berada di sana.
[]