BAB - 51

2572 Kata

Pada malam hari ini udaranya terasa begitu dingin menusuk hingga menembus kulit, daging sampai ke tulang. Rintik-rintik hujan jatuh ke kepala saya. Perlahan-lahan sampai menderas membasahi seluruh tubuh saya. Tak peduli untuk harus berteduh seperti orang-orang yang terburu-buru mencari tempat berteduh. Saya justru terus saja mengayuh sepeda dengan ransel hitam di punggung saya. Cengkraman di jari jemari saya pada stank sepeda onthel milik bapak menguat. Sepeda ini satu-satunya yang saya miliki. Aji untungnya rela datang ke Jakarta hanya untuk memberikan sepeda onthel tua milik bapak yang bapak titipkan kepadanya saat bapak sedang sakit-sakitan dan mulai sekarat. Aji melupakan sepeda tersebut untuk memberikannya kepada saya pun saya juga lupa dengan sepeda itu tapi ternyata Aji membawa hal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN