Roma Hari itu telah tiba. Penantian yang selama ini kami tunggu-tunggu. Menunggu selama empat tahun. Dengan sabarnya Dien masih menunggu saya hingga saya benar-benar mapan dan benar-benar mampu untuk menikahi dirinya. Ketika kabar itu tiba, dia mengatakan jika semua baik-baik saja. Jika kita akan menikah dengan tanpa restu atau izin dari mamahnya. Dien sudah tidak lagi peduli dengan izin, restu yang tidak diberikan. Dengan omongan mamahnya yang membuatnya menyerah dalam hubungan ini. Satu hal yang hanya Dien miliki adalah sebuah keyakinan. Yakin jika semuanya akan berjalan dengan semestinya. Saya percaya dengan hal itu. Kuncinya hanyalah yakin jika memang Tuhan telah mentakdirkan kami bersama, segala perjalanan kami pasti kan dimudahkan oleh-Nya. Tidak ada yang tidak mungkin. Pun saat ini

