Emma berdecak kesal, meratapi ketidak beruntungannya karena harus menghabiskan liburannya dengan pria seperti Douglas Blackwood.
Pria itu menyebalkan. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara pria itu mengacuhkannya.
Bahkan sekarang saat mereka berada di dalam pesawat pria itu tak kunjung menanyai keadaannya. Pria yang tidak sopan, pikir Emma berang.
Emma memutuskan untuk memejamkan matanya dan terbangun saat sebuah tangan mengguncang bahunya dengan kuat dan mengatakan mereka akan segera tiba.
Emma nyaris menyeringai saat dia menjejakan kakinya di bandara. Sudah lama dia ingin berlibur di sini. Tapi seringainya segera pudar saat dia ingat dimana dia akan tinggal selama berlibur.
Emma melihat ke arah Douglas Blackwood yang berjalan didepannya. Pria itu sangat menjengkelkan tapi juga sangat tampan.
Ah, tidak..tidak jangan sampai terpesona pada pria tua itu. Batinnya mengingatkan.
Mereka dijemput oleh supir Douglas. Dan saat berada dalam Mobil pria itu berbicara padanya
“Kau akan tinggal bersama ku di penthouse milikku, dan karena untuk beberapa hari kedepan aku sangat sibuk, maka aku akan menyediakan supir untuk mengantar mu berkeliling Manhattan” katanya dengan nada malas
“Terserah..” jawab Emma tak acuh
Douglas melirik kearah gadis itu, menghela nafas panjang dia terlalu lelah untuk menanggapi sikap gadis itu. Dia kembali bersikap tak acuh sampai mobil mereka tiba di pelataran parkir penthousenya.
Supirnya membukakan pintu untuk mereka. Douglas memberi isyarat pada Emma untuk mengikutinya. Mereka tetap diam saat berada dalam lift yang membawa mereka ke penthouse Douglas.
Saat tiba di penthouse mereka disambut oleh seorang wanita cantik seumuran ayahnya
“Agatha, mari kuperkenalkan pada putri temanku. Dia adalah Emma McGrath. Dia akan berlibur disini. Dan Ms. McGrath ini adalah Agatha, yang mengurus rumahku ” kata Douglas tersenyum lembut ke arah wanita yang bernama Agatha tersebut.
Emma tersenyum canggung ke arah Agatha yang disambut pelukan hangat
“Oh sayang, Selamat datang. Kau cantik sekali. Aku sempat mengira Douglas akan memperkenalkan mu sebagai kekasihnya” kata Agatha ramah
“Yang benar saja Agatha, aku tak mungkin mengencani perempuan yang belum tumbuh” kata Douglas seraya menatap tubuh Emma
Wajah Emma memerah menahan malu dan marah. Pria ini benar-benar b******k. Emma tersenyum dibuat-buat kearah Douglas.
“Aku bisa memakluminya Sir, aku tahu kau tak muda lagi yang menyebabkan mata mu sedikit lamur hingga tak begitu bisa melihat dengan jelas” kata Emma tersenyum membuat Douglas mengatupkan rahangnya geram
Agatha tertawa melihat Douglas yang tak berkutik dihadapan Emma
“Douglas belum terlalu tua untuk menjadi kekasihmu sayang” goda Agatha
“Tidak Agatha, gadis seusiaku tak menyukai pria tua, mereka lebih cocok menjadi ayah kami. Bukan begitu daddy?” tanya Emma tersenyum mengejek ke arah Douglas
Emma melihat tubuh Douglas menjadi kaku. Lalu Douglas meninggalkan mereka. Emma mengangkat bahu tak peduli akan sikap Douglas. Pria itu memang menyebalkan.
Agatha mengantarkan Emma ke kamarnya. Kamar itu sangat luas di d******i warna coklat. Emma berjalan kearah balkon memandang suasana kota yang terlihat sibuk. Emma menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, dia merasa sangat lelah.
Pikirannya melayang ke kejadian tadi. Emma sangat kesal pada Douglas karena mengatakan tubuhnya belum tumbuh. Pria b******k. Tubuhnya sangat berlekuk begitu teman-temannya bilang, dad*nya kencang begitu juga bkongnya.
***
Emma terbangun saat hari mulai beranjak gelap. Dia bergegas mandi, mengambil sebuah dress dari dalam kopornya untuk dia pakai lalu turun untuk makan malam.
Dia melihat Agatha sedang menyiapkan makan malam
“Selamat malam Agatha” sapa Emma
“Halo sayang, tidurmu nyenyak?” tanya Agatha
“Ya, seperti mati” kekeh Emma. “Apakah Ada yang bisa kubantu?” tanyanya lagi
“Duduklah aku hampir selesai, kita akan makan berdua saja malam ini karena Douglas pergi setelah mendapat telpon dari salah satu temannya” kata Agatha
“Oh, Apakah Mr. Blackwood sudah Pernah menikah?” tanya Emma. “Maaf jika aku terlalu ikut campur, hanya saja aku sedikit heran bukankah pria seusianya seharusnya sudah berkeluarga?” sambungnya
“Dia pernah menikah, mantan istrinya seorang model dan sekarang tinggal di Eropa” kata Agatha
“Apa yang terjadi?” tanya Emma penasaran
“Sudah.. sudah.. Tak baik membicarakan hal seperti ini di meja makan. Sebaiknya kita makan sekarang sebelum makanannya dingin” kata Agatha
Emma makan dengan diam, dia masih penasaran dengan masalah perceraian Douglas Blackwood dan mantan istrinya.
Apa yang terjadi, pasti pria itu selingkuh dari istrinya. Dasar pria b******k.
Apa semua pria tampan dan kaya raya selalu bersikap seperti itu, seenak hati mempermainkan wanita, membayar wanita untuk kesenangan mereka semata, setelah puas mereka campakkan begitu saja! Dengus Emma.
Dan sialnya saat ini dia tinggal bersama salah satu spesies mereka! Douglas Blackwood.
Mengapa ayahnya harus menempatkan dia disini, tidak tahukah ayahnya, bagaimana reputasi pria itu. Menjijikkan!
“Apakah kau baik-baik saja, sayang?” Tanya Agatha.
“Ya. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit berpikir tentang sesuatu” jawab Emma.+
“Apa itu?”
“Bukan sesuatu yang penting” senyum Emma.
“Apakah kau memikirkan kekasihmu yang ada disana?” Goda Agatha.
“Aku tak punya kekasih.” Kekeh Emma.
Agatha mengernyitkan dahinya. “Aku tak percaya”
Emma tertawa. “Aku bersumpah. Aku belum bertemu seseorang yang kusukai. Pria-pria yang kutemui, mereka…kau tahu. Kekanakan dan hanya memikirkan tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang”
Agatha tersenyum. “Mungkin, nanti disini kau akan menemukan seseorang seperti yang kau inginkan.”
“Hmmm. Semoga. Tapi aku tidak terlalu berharap. Aku hanya ingin menikmati liburanku. Itu saja.” jawab Emma.
“Aku mengerti. Tapi, tak menutup kemungkinan kau terlibat asmara dengan seseorang yang kau kenal” timpal Agatha.
“Agatha. Kau tidak berpikir menjodohkanku dengan Mr. Blackwood bukan?” Tanya Emma curiga.
Agatha tertawa. “Apa salahnya? Dia pria yang tampan, mapan dan tidak kekanakan seperti pria-pria yang kau bicarakan tadi”
Emma mengerang. “Ohhhh tidak! Tidak akan! Dia terlalu tua, dia teman ayahku!”
Agatha hanya tertawa, melihat kekesalan Emma. “Oh sayang, kau tak tahu apa-apa tentang pria” godanya.
“Hmmm.” Gumam Emma.