Arka merasa sangat terburu-buru pagi itu. Saat ia sedang bersiap menuju kampus, ponselnya berdering dan nama papanya muncul di layar. Sang papa memintanya untuk segera datang ke kantor. Sejujurnya, Arka merasa enggan memenuhi permintaan tersebut. Ada perasaan tidak nyaman yang selalu muncul setiap kali ia harus berhadapan dengan orang tuanya, apalagi jika harus bertemu di kantor, tempat yang sejak dulu tidak pernah ia sukai. Langkah kakinya yang terlalu cepat membuatnya kurang memperhatikan situasi di sekitar. Ia berjalan setengah berlari melewati lobi gedung yang megah itu. Tepat di dekat pintu masuk lobi, ia hampir saja menabrak seorang gadis yang baru hendak melangkah masuk. Arka bergerak sigap dengan refleks yang cukup baik untuk menghindar agar tubuh mereka tidak bentrok secara langs

