Nana terkesiap. Kedua matanya membelalak besar dengan menatap tinju Frans yang masih menempel pada dinding tersebut. Tersenyum puas, Frans menarik tinjunya lepas dari dinding. Senyumnya semakin lebar saat ia mendapati tinjunya telah membuat tembok itu retak hingga permukaannya sedikit amblas ke dalam. Kembali duduk di samping Nana yang masih terperangah, Frans berbicara, “Satu tinjuku bisa membuat dinding bata retak dan rusak. Aku tidak keberatan harus meninju dinding itu ribuan kali, bahkan hingga tanganku hancur, demi bisa menjebol dinding tak berpintu itu.” “K-kau…” Nana tergagap. Frans mengangguk. “Aku rasa tidak seharusnya kau terkejut seperti itu, Na. Jangan melupakan siapa aku. Aku mungkin bukan lagi seorang pemimpin kelompok mafia, namun jiwa itu masih tetap ada di dalam diriku

