Kehamilan sintetik apa simpatik?

1145 Kata

Pagi adalah waktu yang indah, apalagi indah. Apalagi jika cuacanya cerah, angin sepoi-sepoi. Tapi sayang seratus kali Sayang. Hal itu tidak terjadi pada Kangcil alias tukang cilok alias Panji Supitra. Pagi-pagi dia sudah kepentok meja gegara mimpi di datangi oleh kecebong yang mengaku sebagai miliknya, setelah itu dia harus berjalan ke sini ke sana, Timur ke Barat, Utara ke Selatan, demi mencari kitab kunci yang ia pegang dari Ingka tadi. Setelah menemukan rumah keluarga besar Nela. Panji kembali pulang, karena waktu sudah tak sepagi tadi alias sudah siang bolong. “Panasnya,” gumam Panji saat ia berteduh di bawah pohon talas. Eiitttsss! Jangan salah ya, di desa pohon talah lebar-lebar cuy, bisa buat tikar juga, dan nanti setelah itu pasti akan bentol-bentol kulitnya. “Pengen cilok bakar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN