Bab 6. jika dan jika, hanya jika.

1175 Kata
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Nela memungut pakainya yang sudah tidak berbentuk. Untung ia mempunyai baju ganti di dalam jok motornya. Ia segera memakai baju gantinya, kemudian memilih untuk pulang. Tubuhnya berada di atas motor kesayangannya, tapi pikirannya seolah hilang entah ke mana. Kejadian yang baru saja merenggut kebahagiaannya, seolah menghilangkan segalanya dari dirinya. “Astagfirullah, Nela! Kamu kenapa?” tanya Atul. “Tadi jatuh, Mak. Badanku sakit semua, aku mandi dulu ya,” ucap Nela lemah. Atul menatap aneh pada anak gadisnya itu, sebagai seorang ibu ia busa merasakan ada yang aneh dari sikap anak gadisnya itu. Ia segera menyusul Nela ke belakang. “Nel? Kamu tidak apa-apa kan? Biar ibu obati dulu luka-luka kamu,” ucap Atul. “Tidak usah, Mak. Ini hanya luka kecil saja, aku bisa mengobatinya sendiri,” ucap Nela, lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi “Tuh bocah kenap ya? Kok perasaanku tidak enak,” monolog Atul. “Kenapa Mak?” “Astagfirullah! Bapak mengagetkan orang yang tidak kaget saja sih!” gerutu Atul. “Lah, kan tadi Bapak sudah tanya, tapi Emak tuh yang tidak dengar.” “Eh, Pak. Nela tadi jatuh katanya, tangannya penuh dengan luka, dan bibirnya juga lebam. Tapi dia tidak mau aku obati, terus nih ya sikapnya itu kayak aneh banget loh,” ucap Atul. “Aneh bagaimana Mak?” tanya Tono. “Dia biasanya pulang teriak-teriak mengalahkan Tarzan di hutan rimba dan mengalahkan toa seribu masjid. Nah ini tadi malah lesu lemas lunglai kayak tidak ada tenaga gitu,” adu Atul pada suaminya. “Mungkin dia capek, dan lagi dia habis jatuh, mungkin cadangan absurd nya hilang sementara,” ucap Tono. “Ish, Bapak ini bagaimana toh. Anak seperti itu kok malah di katai gitu,” ucap Atul. “Ya mau bagaimana lagi, Mak? Ya sudah kalau dia sudah selesai mandi, kamu temui dia dan ajak mengobrol, takutnya terjadi sesuatu padanya atau tokonya,” ucap Tono. Atul pun mengangguk mendengar ucapan sang suami. Sementara itu kini Nela sudah selesai mandi, ia memilih diam di kamar dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia tak mau keluarganya tahu tentang kejadian memilukan yang baru saja menimpanya. Ia tak ingin keluarganya sedih lagi. Sudah cukup dulu semua keluarganya sedih karena dirinya, sekarang Nela memilih untuk menyimpan sendiri masalahnya. Ia mengurung diri di kamar, menangis meratapi semua yang terjadi padanya. Bayangannya tentang perlakuan Panji padanya, membuat Nela ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga, tapi ia masih sadar, jika ia melakukan hal itj, maka kedua orang tuanya dan kakaknya akan sedih dan mendapatkan malu dari orang-orang di sekitar. Nela hanya bis menangis, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia tidak memiliki kekuatan untuk menopang dirinya sendiri, ia menyesal telah mengejar Panji secara berlebihan. Jika saja ia tidak kebablasan dalam menyukai seorang pria, maka ia tak akan mengalami hal ini. Jika saja ia bisa menahan diri sedikit saja, maka ia tak akan kehilangan satu-satunya hal berharga dari dirinya. Jika saja– jika dan jika, hanya jika yang kini tengah Nela pikirkan. Penyesalan yang kini Nela rasakan tidak dapat mengembalikan apa yang sudah hilang dari dirinya. Hingga magrib tiba, Nela tak kunjung keluar dari kamarnya, hal itu membuat kedua orang tuanya khawatir. “Nel? Nela? Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Atul seraya mengetuk pintu kamar Nela. Nela segera menghapus air matanya dan mencoba menetralkan suaranya. “Aku tidak apa-apa, Mak. Emak sama Bapak tenang saja, Nela mau tidur dulu,” ucap Nela. Namun Atul tidak langsung mempercayai ucapan Nela. “Kamu habis nangis ya, Nel? Ayo buka pintunya sekarang!” perintah Atul. “Aku tidak apa-apa Mak!” teriak Nela. Tapi saat itu juga air matanya langsung turun lagi. “Emak minta Bapak dobrak pintu kamar ini, kalau kamu tidak mau keluar!” ancam Atul. Nela menghela napasnya, dan menghapus air matanya lagi. Lalu berjalan menuju pintu dan membukanya. “Astagfirullah, kamu kenapa sih Nel? Sini keluar!” ucap Atul lalu menarik tangan Nela menuju ruang tengah. Nela tidak bisa menolak, karena tenaganya sudah habis terkuras. “Cerita sama, Emak, kamu ini kenapa? Mata kamu sampai sembab kayak gitu,” ucap Atul. “Sakit, Mak! Ini sangat sakit bagi Nela,” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya dan menangis sesenggukan. Atul panik melihat anaknya yang biasanya ceria tiba-tiba menangis seperti ini. Mereka punya trauma terhadap Nela, jadi saat Nela seperti ini Atul akan panik, takut jika terjadi apa-apa pada anak gadisnya itu. Dengan perlahan Atul memeluk Nela. “Kamu tenang dulu ya, bicara pelan-pelan dan katakan sesuatu pada Emak, jika kamu sudah tenang,” ucap Atul seraya memeluk Nela. Merasa mendapatkan tepat nyaman, Nela menangis sesenggukan di dalam pelukan sang Emak. Seolah ia menemukan sebuah sandaran, Nela menangis mengeluarkan air matanya yang entah kapan habisnya. Ia melampiaskan kekesalan, kesedihan dan juga kecewanya dalam tangisan di pelukan emaknya. Sementara Atul hanya bisa menunggu Nela tenang dulu, sebelum ia bertanya lebih lanjut apa yang terjadi pada Nela. Meskipun anaknya yang satu ini sangat astagfirullah tingkahnya, tapi Atul tetap akan menjadi sahabat dan sandaran saat Nela bersedih. Ia tak akan memaksa anak-anak bercerita apa yang mereka alami. “Ada apa ini?” tanya Arnelo yang baru saja tiba dari kampus. Atul hanya memberikan isyarat pada anak sulungnya itu gar tidak ikut campur dalam hal ini, Arnelo pun paham akan hal itu, ia memilih pergi ke kamarnya meninggalkan kedua wanita yang tengah berpelukan erat itu. Namun meskipun begitu, Arnelo merasa ada yang tidak beres dengan adik abstrak nya itu. Tidak biasanya Nela terlihat selemah ini. Ya meskipun Nela sering menangisi hal-hal tidak berguna, seperti kasihan pada nyamuk yang di pukulnya sendiri. Tapi kali ini Arnelo melihat ada yang beda dari tangisan Nela. Namun lagi-lagi ia hanya bisa menduga-duga saja, ia pun benar-benar memilih pergi ke kamarnya dan mandi. “Maafkan Nela, Mak? Jika Nela selama ini menyusahkan Emak dan Bapak,” ucap Nela yang masih setia berada di pelukan Atul. “Iya, Emak memaafkanmu kok. Meskipun kamu besok atau bahkan sejam lagi akan membuat ulah lagi,” ucap Atul mencoba mencairkan suasana. “Mak. Emak benar-benar seorang Ibu yang sangat luar biasa,” ucap Nela seraya tersenyum. Atul melihat senyum Nela, tapi senyuman itu terlihat seperti menyimpan sebuah rasa sakit. “Kamu kenapa, Nel? Katakan pada Emak apa yang terjadi kepadamu?” tanya Atul pelan. Nela, kembali meneteskan air matanya. “Ini sangat sakit bagiku Mak,” jawab Nela. Atul semakin merasa khawatir terhadap Nela. “Emak pernah kan terjatuh dalam sebuah lubang yang menyakitkan?” tanya Nela. “Ya, dan lubang itu adalah dimana Emak melihat anak-anak Emak sedih,” jawab Atul. “Itulah yang aku rasakan saat ini Mak,” ucap Nela. “Katakan pada Mas. Apa yang terjadi padamu Nel?” tanya Arnelo. “Huuaa! Badanku sakit semua! Aku tadi masuk ke dalam selokan, dan lihat badan aku pada lecet! Ini sangat amat teramat menyakitkan bagi kulit mulusku yang seperti kulit bayi ini!” Arnelo dan Atul sontak menjatuhkan rahang mereka. “Jadi kamu nangis-nangis sampai mengurung diri di kamar karena ini?” tanya Atul seraya menunjuk ke arah lengan Nela. Nela pun mengangguk. “Sak Karepmu wes, Nel!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN