Sudah kesekian kalinya Panji menghela napas panjang. Bukan karena dia punya penyakit sesak atau alias bengek, bukan. Kali ini tiba-tiba saja mengalami sakit panik dan khawatir. Hu hu ...! Amajonk banget perasaan Panji saat ini, waktu terasa melambat bagaikan siput yang baru bangun tidur. Pakaiannya sudah rapi, kaos berwarna biru muda dan juga celananya sudah pas di badannya, rambutnya juga sudah rapi. Tapi jantungnya tidak rapi, meronta-ronta seperti mau meledak, padahal masih di rumah. “Mau ketemu orang tua Nela saja, sudah seperti mau ketemu malaikat Malik. Belum lagi ketemu malaikat Zabaniyah ini. Apa kabar nyawa ini,” monolog Panji. “Makanya, kalau Cuma punya nyawa satu Jangan melakukan hal bodoh! Nanti nyawamu hilang, mau di ganti pakai apa? Nyawanya kucing?” ucap Yuli. “Mbak Yul i

