Anggita menemukannya secara tidak sengaja. Siang itu, ia sedang merapikan lemari kerja Rafka—bukan karena diminta, tapi karena tubuhnya tiba-tiba ingin membereskan sesuatu. Naluri hamil yang aneh, datang tanpa logika, tanpa alasan jelas. Sejak bangun tidur, dadanya terasa sesak oleh keinginan untuk membuat ruang, menyingkirkan hal-hal tak perlu, seolah hatinya juga sedang melakukan hal yang sama. Ia membuka satu per satu laci. Semuanya rapi, terlalu rapi. Rafka memang selalu begitu. Map dokumen tersusun sejajar. Kabel cadangan digulung rapi. Buku catatan diberi pembatas warna. Lalu—di laci paling bawah—ia menemukan sebuah tas kertas kecil berwarna netral. Anggita mengernyit. Bukan belanjaannya, bukan miliknya dan jelas bukan tempat Rafka biasa menyimpan dokumen. Ia menarik tas itu perla

