Rafka baru selesai bekerja di depan laptop. Dia sudah membuat langkah lanjutan mengenai apa yang akan dilakukan untuk balas dendam pada Fahmi. Dia memang sudah menepis gosip, tetapi masih belum puas sebelum menutup Fahmi dengan sempurna sebagai seorang masa lalu yang tidak akan macam-macam lagi di masa depan. Rafka menutup laptop, merenggangkan bahu, lalu menatap Anggita yang baru saja datang dan duduk di sofa. "Git, kamu senggang, kan?" tanyanya. Anggita mengangguk mengiyakan, "Free, kenapa?" “Sekarang,” katanya, “kita punya agenda lain.” Anggita mengerutkan kening. “Agenda apa lagi, Raf?” “Kita ke rumah orang tuamu.” Anggita terbelalak. “Sekarang? Kok mendadak?” “Ayahmu tadi telepon aku,” jawab Rafka santai sambil merapikan kemeja. “Katanya Ibu agak khawatir setelah lihat talksho

