Matahari baru naik setengah ketika Rafka membuka mata. Cahaya lembut masuk lewat tirai, menimpa wajah Anggita yang masih terlelap di lengannya. Rambut istrinya berantakan, pipinya sedikit merah, bibirnya mengerucut kecil karena tidur miring. Rafka tersenyum—senyum yang hanya muncul kalau ia bangun dengan wanita ini di pelukannya. “Gita…” bisiknya sambil merapikan satu helai rambut dari pipi istrinya. “Cantik banget sih… bikin malas olahraga.” Anggita tidak menjawab, hanya meringkuk lebih dalam di dadanya, menggumam manja. Rafka mengusap punggungnya sebentar, lalu perlahan bangkit agar tidak membangunkannya. Seperti biasanya, ia segera masuk kamar mandi, cuci muka, sikat gigi, pakai singlet hitam dan celana training. Pagi minggu tidak pernah mengubah rutinitasnya: • jus rumput hijau ya

