Ruang tunggu klinik masih berbau antiseptik ketika Rafka keluar lebih dulu. Lampu putih di langit-langit terasa terlalu terang, terlalu jujur, seolah memaksa semua orang untuk sadar penuh akan kenyataan. Tangannya menggenggam hasil USG—kertas tipis dengan gambar hitam-putih yang tampak biasa saja bagi orang lain, tapi terasa seperti semesta baru baginya. Jemarinya sedikit gemetar. Bukan karena dingin. Bukan juga karena takut sepenuhnya. Lebih tepatnya… karena otaknya belum selesai memproses apa yang baru saja ia lihat. Ada satu titik kecil di sana. Sangat kecil. Nyaris tak berbentuk. Nyaris tak masuk akal. Namun dokter tadi berkata dengan suara tenang dan yakin, seperti menyebut fakta paling sederhana di dunia, “Ini sudah positif. Kurang lebih tiga minggu.” Tiga minggu. Rafka mengulang

