Matahari baru saja mulai menanjak ketika Anggita menatap jalanan dari balkon apartemennya. Hatinya campur aduk antara tidak sabar dan gugup. Tiga hari tanpa Rafka terasa seperti minggu, tapi hari ini, akhirnya, LDM mereka akan berakhir. “Maaf ya, Ma… aku jadi ribet sendiri karena nggak ada Rafka,” gumam Anggita sambil menoleh ke Imelda yang sedang menyusun piring. Mereka baru saja sarapan bersama dan sebentar lagi, Rafka akan segera datang. “Santai, Gita… mama senang bisa nemenin kamu. Lagian Rafka sudah bilang, mama harus jagain kamu biar nggak kelaparan dan nggak sedih,” jawab Imelda sambil tersenyum hangat. Anggita tersenyum tipis, tapi matanya berbinar. Ia sudah menyiapkan mobilnya sendiri—hari ini, Rafka yang biasanya selalu menjemput, akan datang ke rumah mereka. Ponselnya berget

