Mata Badai

865 Kata
“Seperti yang kita ketahui etika bisnis adalah prinsip-prinsip yang mengatur perilaku bisnis yang baik dan benar. Perusahaan tidak hanya bertujuan untuk mencari keuntungan, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.” Laura mengedarkan pandangan, menatap kumpulan mahasiswa yang memenuhi kelasnya. Ia membetulkan letak kacamatanya, siap melanjutkan penjelasannya, tetapi sebuah tangan yang teracung menghentikan niatnya. Laura menatap si pemilik tangan dan nyaris terkena serangan jantung saat melihat siapa yang mengangkat tangan. Keheningan pekat dalam sekejap memenuhi udara. Laura yang sudah terlatih mengendalikan diri berhasil menjaga wajahnya tetap datar meski gemuruh di dadanya membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan. Laura berdeham sebelum membuka suara. “Ya? Ada yang ingin kau tanyakan…” “Reyhan, atau orang-orang lebih suka memanggil saya Rey.” Laura bersyukur ia berdiri dibalik mejanya sehingga tidak ada orang yang melihat tangannya mengepal. Dari semua hal buruk yang bisa terjadi kenapa harus si bartender ini yang menghampirinya? “Ada yang ingin kau sampaikan, Reyhan?” “Ya, saya ingin bertanya, apakah benar perusahaan besar yang mengklaim memiliki program tanggung jawab sosial (CSR) benar-benar peduli dengan masyarakat? Atau itu hanya sekedar strategi pemasaran untuk meningkatkan citra perusahaan?” Apa pria itu sedang mengujinya? Karena jika iya, dia jelas belum melihat resumenya. Laura tersenyum sopan. “Memang, ada perusahaan yang menggunakan CSR sebagai alat pemasaran. Namun, banyak juga perusahaan yang benar-benar berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.” Rey tampak tidak puas. “Jika tujuan utama sebuah perusahaan adalah mencari keuntungan, bukankah wajar jika mereka lebih fokus pada keuntungan daripada tanggung jawab sosial? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa perusahaan benar-benar tulus dalam menjalankan CSR mereka?” Semua mahasiswa yang ada di ruangan saling melempar pandangan dan Laura memakluminya. Ini seperti debat panas untuk menguji kemampuannya. Jika pria itu pikir ia akan kalah maka sudah saatnya pria itu menerima kekecewaan. “Memang, tujuan utama perusahaan adalah mencari keuntungan. Namun, perusahaan juga perlu menyadari bahwa keberlanjutan jangka panjang mereka sangat bergantung pada hubungan baik pemangku kepentingan. Untuk memastikan ketulusan, kita bisa melihat konsistensi dan transparansi dalam laporan SCR mereka, serta dampak nyata yang dihasilkan dari program tersebut.” Laura keluar dari meja kebesarannya. Sepatu hak tingginya membuatnya lebih percaya diri. Ia menyapu pandangan dan berakhir beradu pandang dengan Reyhan, pria yang terus menguji kemampuannya. Sekejap Laura mengunci pandangan sebelum akhirnya berpaling. Bayangan terakhir pertemuannya dengan pria itu sangat memalukan sehingga Laura tergoda untuk menenggelamkan diri dan menghilang. Kau mau lebih mempermalukan dirimu lagi? “Selain itu ada mekanisme yang bisa digunakan untuk mengawasi dan menilai program CSR perusahaan seperti audit independen, standar internasional seperti ISO 26000, dan pelibatan masyarakat dalam proses penilaian. Selain itu media dan LSM juga berperan penting dalam mengawasi program CSR perusahaan.” Laura menunggu dan terus menunggu Reyhan melanjutkan pertanyaannya, tapi pria itu akhirnya mengangguk. Laura tersenyum. Ia menang. Sisa pelajaran hari itu berjalan lancar meski Laura berusaha keras agar tidak menatap si pemilik mata kelam yang mengingatkan Laura pada badai. *** “Jadi, dibalik wanita cantik, sedikit liar, dan peminum yang payah itu ternyata ada seorang dosen muda pintar dan konservatif?” Laura membeku. Suara itu! Ia berbalik dan kembali berhadapan dengan pria itu. Pria yang ingin ia lupakan dengan segenap hati dan jiwanya. Pria itu hanya pengingat akan keputusan buruk yang ia ambil waktu itu. “Apa yang kau lakukan di sini?” geram Laura, mengedarkan pandangan dengan panik. Demi Tuhan! Malam itu harusnya hanya berakhir di situ, kenapa kesalahan itu mengikutinya sampai ke sini? “Menurutmu? Apa yang orang-orang lakukan saat berada di kampus?” “Hati-hati, di sini aku dosenmu.” “Sayang sekali, sekarang kita tidak sedang ada kelas, jadi sekarang kita setara.” Laura mencengkeram bukunya dengan sangat erat. “Aku tidak tahu kalau kau mahasiswa di sini.” “Banyak yang tidak kau ketahui tentangku, percayalah.” Itu sudah jelas karena dari semua kemungkinan yang ada, membayangkan si bartender sebagai mahasiswa pascasarjana ekonomi adalah satu hal yang tidak akan pernah ia bayangkan. “Apa kau sengaja mengujiku?” Rey tersenyum tipis. “Ada banyak cara untuk menguji seseorang. Mengajukan pertanyaan mudah seperti itu sudah pasti tidak termasuk. Tidak, aku tidak ingin mengujimu aku hanya ingin menguji diriku sendiri.” “Dengan memberiku pertanyaan?” Rey memiringkan kepalanya ke samping, sama sekali tidak terusik dengan kemarahan Laura. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu marah, pertanyaanku atau… kenyataan yang kuketahui tentangmu.” Rahang Laura mengeras. “Apa maksudmu?” “Apa orang-orang di kampus ini tahu kalau kau ternyata memiliki kepribadian yang unik? Misalnya saja pada siang hari kau tampil sebagai dosen kaku dan sopan sementara di malam hari… kau mengenakan pakaian yang bahkan tidak bisa menutupi tubuhmu dengan sempurna. Aku jadi penasaran mana Laura yang sebenarnya? Yang di kampus atau… yang di klub?” Oh Tuhan! Laura mulai berdoa dalam hati dan merutuki kebodohan yang ia lakukan malam itu. Seandainya saja ia tidak mabuk dan mengacau semua ini tidak akan terjadi. Terkutuklah Dina karena mengatakan tidak ada yang akan mengenali mereka di sana karena pada kenyataannya kenangan malam itu kini menghantuinya seperti bayangan. “Kau bisa memikirkan apa pun yang kau inginkan!” ucapnya pedas kemudian berbalik pergi. “Kau tidak penasaran apa yang terjadi pada malam itu?” Pertanyaan itu berhasil membuatnya mematung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN