***
Sehari setelah keluar dari penjara, akhirnya dia bisa menghirup udara bebas setelah tiga bulan terus berada di ruangan yang pengap.
Dirinya masih berada di Jakarta. Entah kenapa, Sofia masih tertarik untuk tinggal lebih lama di Ibu Kota yang penuh kemacetan ini.
Sofia bergerak menuju lantai balkon apartemen milik Papanya. Di situlah dia bisa menghirup udara pagi tanpa polusi dengan bebas. Gedung-gedung tinggi terlihat jelas oleh retina mata. Juga matahari yang muncul malu-malu dari ujung timur sana. Yah, setidaknya tempat ini tidak kalah nyaman dibanding rumahnya yang berada di Semarang.
Kepalanya menoleh saat ponsel yang berada di atas nakas berdering. Buru-buru Sofia masuk ke dalam kamar dan meraih ponselnya. Nama ‘Safira’ tertera jelas di layar touch screen.
“Halo, lo masih di Jakarta?” Suara di seberang yang lebih dulu menyahut.
“Iya,”
“Dan lo nggak nyamperin gue?!”
Sofia menghela napas. Sahabatnya itu memang selalu berlebihan seperti ini.
“Belum sempet, Fir. Baru kemarin gue keluar dari lapas.”
Dia bisa mendengar Safira mendengus, “Let's meet.”
“Gue lagi ada—,”
“Now, Sofi!”
Ya, seharusnya Sofia tahu kalau dirinya tidak akan bisa membantah apapun yang dikatakan Safira. Jika bersama Safira, dirinya bukanlah Sofia seperti biasa. Biasa keras kepala, biasa cuek, biasa brutal, dan kebiasaan lainnya yang langsung berubah total begitu sudah berhadapan dengan Safira. Selama ini Sofia selalu berfikir, mungkin Safira adalah orang yang cocok untuk menjadi 'pawang'-nya. Jika Sofia mulai keras kepala, maka Safira akan lebih keras kepala lagi. Safira juga tipe gadis yang cueknya mengalahkan Emma Watson.
Dan masalah brutal ... Sepertinya tidak usah diungkapkan lagi. Safira sering menghabiskan waktu malamnya untuk mabuk-mabukan di club. Terkadang bahkan sampai pulang dengan laki-laki yang tidak dikenal. Sofia tahu itu, karena dirinya sering menjemput Safira saat berada di tempat laki-laki itu ataupun di hotel.
Safira tinggal di Semarang. Tapi begitu mendengar dirinya terjerat kasus dan masuk penjara, Safira langsung terbang ke Jakarta saat itu juga. Dia berkunjung ke lapas setiap seminggu sekali. Memikirkan itu Sofia hampir menangis. Pasalnya, tidak ada satupun teman yang mau memperdulikannya sebaik Safira. Teman-teman tongkrongannya pergi saat tahu dirinya berada dalam masalah yang berurusan dengan polisi.
Ya, memang hanya Safira.
“Oke, di mana?” Dan seperti biasanya juga, dia mengalah.
“Gue share loc.”
***
Akhirnya mereka memutuskan bertemu di The Café daerah Senayan. Dari kejauhan, dia melihat Safira yang sudah duduk di meja nomor delapan.
Sofia menarik kursi, ikut duduk di hadapan Safira. “Oke, mau bahas apa?”
Safira melirik ke arahnya setelah tadi memainkan ponsel sambil menggigiti sedotan yang tersedia di dalam gelas. Sofia tahu kalau ada yang ingin diceritakan oleh sahabatnya itu.
“Gue nggak bisa balik ke Semarang beberapa bulan ke depan,” katanya dengan kedua tangan tertaut di atas meja. “Mama lagi ke Paris sama Deno dan suaminya. Jadi, gue mutusin tinggal sama Papa sementara.”
Kedua orang tua Safira memang sudah bercerai sejak umur Safira 7 tahun dan Deno–adiknya–5 tahun. Lalu dua tahun kemudian mamanya menikah dengan pria asal Paris yang beberapa tahun lebih muda dibanding mama Safira.
Lalu papa Safira sendiri, yang kerap dipanggil Denny Markov, adalah salah satu menteri keuangan yang bekerja untuk Negara. Karena itulah papanya lebih memilih tinggal di Jakarta dibanding Semarang.
Sofia ikut menyedot coffe lite-nya. “Jadi, lo nggak mau pulang karena rumah lo sepi? Setau gue, lo jarang pulang ke rumah.”
Safira tinggal di apartemen. Dia hanya pulang jika jumlah digit di dalam kartu kreditnya berkurang.
“Lo tau kan, Mama sering lupa anak kalau lagi di Luar Negeri. Bisa kosong platinum card gue kalau sampai nggak ada masukan.”
Nah, ini dia yang dirinya maksud kalau Safira adalah orang yang berlebihan. Sofia tahu bahwa platinum card milik Safira tidak akan habis sampai tujuh turunan. Sebagai arsitek cemerlang yang hampir menyetarai Galen dalam hal desain-mendesain yang mencakup seni dan perhitungan, jelas nominal yang didapatkan Safira sangat besar hanya dalam satu proyek. Ditambah pekerjaan kedua orang tuanya, yang sebulan gajinya saja bisa memenuhi lima kotak brankas.
Namun itulah Safira, dia langsung super panik begitu mengetahui angka di platinum card-nya berkurang satu.
Sofia mendesah keras. “Gue juga nggak tau bakal berapa lama di sini. Setelah semalem suntuk gue ngomong sama papa, rasanya gue nggak sanggup ninggalin cowok tua itu.”
Mendengar itu Safira terkekeh. “Sebanyak apapun papa nyakitin kita, kayaknya tetep aja masih sayang, kan Sof? Gue juga nggak ngerti, bahkan keberadaan gue disini juga pengen mata-matain Papa yang lagi deket sama Polisi cantik. Yang katanya, seumuran gue.”
“Gila, bokap lo.” Hanya itu tanggapan Sofia. Dia tidak tahu ingin berkata apa lagi tentang Om Denny. Meski sudah berumur 58 tahun, reputasinya tentang perempuan memang membuat semua orang geleng kepala. Hal itu juga yang menyebabkan tante Elis–mama–Safira–menggugat cerai.
“Btw, ke Gramed, yuk! Novel Harry Potter hari ini keluar.”
Di balik sifatnya yang ‘nakal’, Safira juga senang membaca buku, khususnya novel terjemahan karya JK Rowling yang terkenal itu. Dia selalu menunggu seri-nya selama apapun itu. Dari pada menonton filmnya, dia lebih suka membaca novelnya langsung. Mungkin itu juga yang membuatnya cocok dengan Safira, karena mereka mempunyai hobi yang sama. Sama-sama suka membaca meskipun berbeda genre.
***