***
"Kamu sudah bangun?"
Suara Papa langsung terdengar saat dia memasuki dapur. Membuka kulkas, dia mengabaikan Papa yang sibuk membaca koran ditemani kopi kesukaanya.
Setelah mengambil beberapa lembar roti dan selai, Sofia memutuskan untuk duduk disamping sang Papa. Davis meliriknya sambil berkerut.
"Papa mau kerumah Vivian?" Sofia bertanya lirih. Masih merasa bersalah saat menyebut nama adik tirinya itu.
Papanya menggumam. Kemudian melipat koran dan melepaskan kacamata baca yang tadi menempel di cupid hidungnya. Dia mulai serius.
"Hm. Dan seharusnya, kamu juga ikut untuk meminta maaf."
Ini yang Sofia takutkan. Antara takut untuk berdamai atau takut Vivian masih tidak mau memaafkannya. Tapi masalahnya tidak akan selesai jika dia terus mengulur waktu. Dan akhirnya, dia sudah membulatkan tekad, apapun yang terjadi, dia akan meminta maaf.
"Oke, aku siap-siap dulu."
Sofia tidak terkejut saat sang Papa membulatkan mata dan hampir tersedak oleh kopinya. Setahu Papa, Sofia adalah anak yang paling keras kepala, dan melihatnya tidak perlu dibujuk ataupun dipaksa untuk meminta maaf adalah sesuatu yang langka.
***
Kesan pertama yang ada dikepalanya saat memasuki rumah keluarga Bimasatya ini tentu saja mewah. Dia tahu kalau adiknya menikah dengan salah satu anak dari Om Seto yang memiliki profesi dokter. Yang tiga bulan lalu menggagalkan rencananya untuk membunuh Vivian.
Tapi anehnya, Sofia justru bersyukur suami Vivian itu datang tepat waktu. Sehingga dirinya tidak menyakiti Vivian lebih parah lagi. Kalau sampai hal itu terjadi, sudah dipastikan dirinya belum keluar dari penjara sampai beberapa tahun yang akan datang.
Mereka disambut dengan baik oleh keluarga itu. Sofia juga langsung disongsong oleh wanita paruh baya yang wajahnya masih terlihat cantik. Membuktikan kalau masa mudanya dia benar-benar menawan.
"Kamu... Pasti Sofia." Wanita itu berkata saat mereka sudah berada diruang makan yang sepi, meski berbagai hidangan sudah tertata rapi disana.
Sofia mengangguk. Bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita ini. Garis wajahnya mengingatkannya dengan seseorang.
"Saya Rasia," Seperti mengerti, wanita itu mulai memperkenalkan diri. "Mamanya Vivian."
Badannya berubah kaku. Perempuan itu tersenyum maklum saat Sofia menarik tangannya yang semula Rasia genggam.
"Saya... Benar-benar merasa bersalah sama kamu," Lalu menggeleng, tatapannya berubah sendu. "Sama keluarga kamu sebenarnya. Semua yang saya lakukan dimasalalu memang sulit untuk dimaafkan."
Sofia masih bergeming.
"Saya benar-benar kaget saat Vivian memberitahu kalau dia sudah bertemu Papanya. Seperti yang kamu tau, Davis sudah berhenti mengunjungi kami lagi sejak Vivian kelas 3 SMP. Dia lebih memilih keluarganya. Dan saya tidak bisa menyalahkan. Dari awal hubungan kami memang tidak ada selain keberadaan Vivian." Rasia tersenyum lebih lembut lagi, "Saya minta maaf, Sofia. Bukan hanya kepada kamu, tapi juga keluargamu."
"Saya tidak bisa menyalahkan kamu atas perbuatanmu kepada Vivi. Saya sangat ngerti bagaimana rasanya dikecewakan oleh seseorang yang kamu cintai. Tapi, Sofia, Vivian hanyalah korban dari kesalahan kami. Saya tahu hidupnya selalu menderita selama 24 tahun hidup bersama saya. Sama seperti kamu, dia juga sangat memuja Papanya. Sampai saat Davis berhenti mengunjunginya lagi, saya tau dia kecewa, tapi dia selalu memasang senyum dihadapan saya," Rasia mengusap sudut matanya yang berair. "Dia berusaha dengan kekuatannya sendiri. Dia membiayai hidupnya sendiri setelah lulus sekolah. Dan sekarang, dia membuktikan kalau dia bisa berdiri meski tanpa bantuan Papanya."
Sofia tidak tahu harus berkata apa. Ini terlalu mendadak. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu wanita yang sudah menghancurkan keluarganya beberapa tahun lalu. Wanita yang dulu sangat ingin dia caci maki.
Tapi saat ini, setelah bertemu langsung diwaktu yang menurutnya tidak tepat ini, semuanya terasa berbeda. Rasanya dia tidak akan mampu meluapkan semua amarah didepan wajah dengan senyum keibuan dan begitu lembut itu.
Dia juga tidak mungkin melakukannya dan menambah daftar masalah yang baru saja ingin dia selesaikan.
"Saya... Nggak tau mau ngomong apa. Yang jelas, niat saya kesini bukan membicarakan ini. Saya ingin meminta maaf sama Vivian."
Wanita didepannya cepat mengangguk. "Nggak papa. Saya ngerti, Sofia. Tidak mudah membicarakan masalalu disaat seperti ini. Kamu nggak masalah jika membenci saya, caci saya semau kamu, tapi Vivian nggak salah. Dia hanya korban dari kesalahan kami."
Rasia kian tersedu. Dia terlihat sangat menderita melihat anak semata wayangnya dipukuli seperti beberapa bulan lalu. Dan dia tidak ingin itu terjadi lagi. Dia ingin melindungi Vivian.
Sofia merasa bersalah tentu saja. Dia tahu kalau wanita didepannya ini begitu mengkhawatirkan Vivian. Karena bagaimanapun juga ini salahnya.
"Saya nggak akan menyakiti siapapun lagi." Dia menyela tegas. Tidak ingin Mama Vivian merasa khawatir lebih lama lagi. "Saya sudah memutuskan... Untuk menerima Vivian sebagai adik saya."
Entah kenapa, hatinya terasa lega setelah mengatakan kalimat itu. Seolah semua beban dan kebencian yang selama ini mengendap didadanya terangkat begitu saja. Rasanya benar-benar ringan.
"Kak Sofi dateng?" Sahutan dari pintu ruang makan terdengar. Disana Vivian berdiri dengan senyum lebar dan berseri-seri. Tidak ada raut trauma atau ketakutan sama sekali saat melihat wajahnya.
Sofia mengangguk kaku, tidak tahu harus merespon bagaimana.
Dia memperhatikan Vivian yang mulai menarik kursi sisi lain disampingnya.
"Kalau begitu, Mama ke dapur dulu." Seolah mengerti situasi, Rasia berdiri dan meninggalkan mereka.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Sofia dengan sedikit canggung. Matanya mengamati wajah Vivian yang terlihat lebih bersinar dibanding beberapa bulan lalu.
Adiknya itu tersenyum lebih lebar lagi. "Baik, kak. Aku nyesel nggak bisa ngeluarin Kak Sofi lebih cepat lagi."
"Nggak masalah. Setidaknya Kakak dapat pelajaran dari semua perbuatan kakak. Sekali lagi, Vi. Kakak minta maaf." Dia berkata sungguh-sungguh. Adiknya itu memiliki mata coklat dan bulat seperti matanya, menandakan bahwa mereka benar-benar memiliki darah yang sama.
"Kakak udah minta maaf beberapa bulan yang lalu."
"Nggak cukup! Itu cuma lewat kartu ucapan saat pernikahan kamu."
"Aku udah maafin kakak dari lama. Nggak usah dibahas lagi."
Dan satu beban lagi yang terangkat dari dalam dadanya. Rasanya benar-benar plong. Raut bahagia adiknya itu dengan cepat menular.
"Jadi, ada kabar gembira apa hari ini?" Sofia sudah menduganya dari wajah berseri-seri itu.
Dengan malu-malu Vivian menjawab, "Sebenernya... Aku belum ngasih tau siapun tentang ini, termasuk juga Keano. Jadi, aku pengen kak Sofi jadi orang pertama yang tau... Kalau aku sedang hamil." Dia berbisik diakhir kalimatnya.
Dan perasaan meluap serta hangat itu segera tercipta didalam hatinya.
Demi apa gue sebentar lagi bakal jadi aunty?
***