Bab 16

714 Kata

*** Saat membuka pintu, Safira sudah tidak heran lagi melihat ruang tamunya berantakan seperti habis di terjang tsunami. Kursi sofa terbalik, dua kaleng bir yang tadi di letakanannya di meja terjatuh, majalah-majalah tabloid koleksinya berserakan dimana-mana. Beruntung sahabatnya itu tahu diri untuk tidak membalikkan meja ruang tamu yang terbuat dari kaca. Safira mendekat, melakkan makanan yang dia bawa diatas meja, satu-satunya benda yang masih utuh selain benda-benda kaca lainnya. Dia melangkah ke arah kamar yang pintunya terbuka. Lalu menemukan Sofia yang sudah tertidur disana. Ya, dia pasti kelelahan setelah meluapkan emosi dengan mengacak-acak ruang tamunya. Siklusnya memang selalu seperti itu. Tidak di Semarang, tidak disini. Sofia akan menangis sesegukkan dan dia akan membiar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN