Bab 6

785 Kata
*** "-rasanya pengen gue pites tuh cewek biar mampus. Lo beneran harus liat mukanya yang super songong itu deh, Sof. Belum juga jadi istri bokap gue, kelakuannya udah kayak Ibu Negara. Begitu yang katanya polwan? Cuih! Amit-amit punya nyokap tiri kayak dia! Mending gue keliling tembok China 10 kali daripada duit dari Papa harus dibagi dua sama si kadal." Sudah hampir satu jam yang lalu dia mendengar cuapan Safira yang tidak berhenti sejak sahabatnya itu berkunjung keapartmen. Safira memang akan datang padanya untuk menumpahkan unek-unek atau meluapkan emosi. Sedangkan dia hanya diam sambil mengelusi Jahe sampai Safira sendiri yang meminta pendapatnya. Jangan pernah kita menyela sedikitpun saat dia berbicara, atau dia akan langsung menyemprotnya. Sofia sendiri sudah jera mendapat semprotan dari Safira yang tidak masuk akal itu. "Jadi, menurut lo gimana? Cara biar bokap ilfeel sama kadal?" Yang ada si kadal yang ilfeel duluan sama bokap lo. "Lo harus cari cewek yang lebih cantik, atau minimal nggak cuma nyari duit bokap lo doang." Sofia tahu Safira tidak benar-benar mengkhawatirkan Papanya. Sahabantnya itu hanya mengkhawatirkan kartu didalam dompet sang Papa saja. "Nyari dimana cewek model begitu, Sof? Panti jompo? Oh, gue yakin pasti banyak nenek-nenek yang ngebet kawin sama bokap gue tanpa peduli duit sama sekali disana." Safira berujar sarkas. Yang dilakukan Sofia hanya memutar bola mata malas. Jujur saja, dia juga tidak tahu bagaimana menghadapi sifat Om Denny markov yang super mata keranjang itu. Anaknya sendiri aja kebingungan, apalagi gue. Sofia mengaduh saat tiba-tiba Jahe menggigit jarinya, mengajaknya bermain. Sedangkan Safira masih sibuk mondar-mandir sambil memikirkan nyawa platinum card-nya yang sebentar lagi akan kehilangan masukan. "Muka lo, Fir, udah kayak nahan berak." Suara menyebalkan Galen entah muncul dari mana. Kedua gadis itu menoleh, sejenak meninggalkan kegiatannya masing-masing sebelum mengabaikannya. Mereka menganggap keberadaan Galen tidak terlalu penting. "Ouch! Kalian para cewek nggak ngerti gimana rasanya dikacangin padahal kode kita udah full HD." Menoleh sebal, Safira menjawab, "Kalau full HD itu namanya bukan kode lagi, ogeb! Cewek bego mana sih yang lo kodein tapi nggak peka-peka." Safira mulai tertarik dengan gebetan Galen Sepertinya. Dia mulai duduk disamping Kakak sang sahabat. "Ada, lah. Temennya Yena. Dia tuh nggak bakal ngerespon apapun yang gue omongin kecuali tiket konser." Safira meringis. Dalan hati membatin, kasian banget, Galen... Mungkin ini karmanya karena udah jadi cowok keganjenan. "Ada ya cewek model begitu?" Sahut Sofia, "But, wait... Temen Yena lo bilang?!" Galen mengangguk polos, membuat Sofia begitu ingin menggunduli rambutnya sekarang juga. "Lo pacaran sama Yena, dan malah gebet temennya?" Sofia benar-benar tidak habis fikir dengan isi kepala Kakaknya. Mungkin dulu waktu Mama hamil Galen, dia ngidam udang. "Dia unik. Gue kan penasaran." "Ini, nih! Tanda-tanda orang bakal kena karma." Safira menuding wajah Galen dengan anggukan super yakin. Dari sekian banyak novel yang dia baca selain Harry Potter, gejala-gejala cowok jatuh cinta itu, ya karena penasaran. Sofia mengangguk setuju. "Tapi saran gue ya, kak. Mendingan lo jauhin aja. Toh, dianya juga nggak ngerespon elo, kan? Kalau Yena tau lo lagi gebet temennya, ini bakal jadi sekuel Syahreino nantinya. Tambah ribet." "Gue nggak-" "Gue tau lo nggak peduli. Selama hati lo tenang, burung lo senang, lo merasa nggak masalah biarpun ngerusak hubungan orang. But, this problem is a friend. Beda." Melihat wajah Galen yang masih cengo, Safira menjabarkan kata-kata Sofia. "Gini, deh. Seandainya pacar gue suka sama Sofi, terus gue tau. Gue sama Sofi jadi berantem, tuh. Gara-gara gue nuduh dia ngerebut pacar gue. Habis itu Sofi nangis berhari-hari dikamar, nggak mau makan, nggak mau minum, nggak mau mandi sampai badannya penuh kutu. Lo mau?" Tidak terima dengan penjabaran Safira, Sofia menoyor kepala sahabatnya. "Nggak gitu juga, kali!" Satu-satunya cowok diantara mereka menggaruk tengkuk. Masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan adik dan sahabatnya. Melihat itu, Sofia dan Safira mendengus bersamaan. Mencoba sabar menghadapi orang yang ber IQ rendah. Jiwa jahat Sofia membatin, IQ rendah tapi lulusan Oxford. Dari pada elu, yang ngakunya IQ diatas 170, masih di dalem negeri. Jiwa malaikatnya membalas, Positive thingking aja, Sof. Mungkin si Galen emang mahasiswa yang IQ nya paling rendah di Oxford. Nggak masalah dimanapun kuliahnya, tapi seenggaknya lo masih sedikit nyambung kalau soal cinta-cintaan. *** Pemuda itu memakai pakaian yang seluruhnya berwarna hitam. Sambil menurunkan ujung topinya, dia menoleh kanan-kiri, memastikan tidak ada seorangpun yang bisa mengenalinya. Dia melangkah menuju gadis berambut bob seleher yang sedang duduk dikursi bar. "Gimana?" Tanyanya begitu sudah duduk disamping gadis itu. "Semua berjalan lancar." Jawabnya tenang. Dia yakin semua yang direncanakan akan sesuai dengan keinginan mereka. Meskipun ada sedikit hambatan, tapi itu tidak berarti sama sekali. "Bagus. Saya juga sudah berhasil menandai target saya. Kita tinggal jalankan sesuai rencana. Dan hasilnya harus memuaskan." "Saya akan berusaha." Pemuda itu tersenyum miring dibalik bayangan topinya, "Saya serahkan sisanya kepada kamu, Janeta." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN