“Mas, ayah dan ibun nggak tahu soal ini kan?” Aku bertanya sewaktu Mas Miko masih fokus dengan apel yang tengah dia kupas. Katanya sih kakakku satu itu udah sampai sejak semalam. Cuma, gara-gara aku tidur, jadi dia ikutan tidur di sofa. Kasihan, sih. Udah jauh-jauh datang dari Malang, eh malah tidur di ruang rawat rumah sakit. Bukan di kamar nyaman hotel. “Nggak lah! Aku nggak sebodoh itu buat bilang ke mereka, yang ada ayah bisa jantungan lagi,” jawabnya dingin tanpa mengalihkan pandangan dari apel merah yang sudah tinggal sedikit kulitnya. Dia masih aja pasang tampang sewot dan kesalnya. Nggak puas apa, ya udah ngasih ceramah panjang lebar sewaktu bangun tadi. Masih aja betah mertahanin sikap dinginnya itu. Padahal aku tahu betul, dia itu sayang banget dan khawatir. Cuma tersembuny

