Sudah beberapa menit sejak keduanya berlari, akhirya mereka bisa sampai di sisi lain hutan. Riani menjadi begitu beringas dan lincah dalam bergerak ketika tubuhnya diambil alih. Bahkan Rere yang bertubuh kecil itu tak sanggup mengimbangi kecepatannya. Satu hal yang membuat mereka diuntungakan, kini di hadapan mereka sudah ada Riani yang sedang berdiri tertunduk. Di belakangnya ada tebing dan jurang yang dalam. Rere masih mengatur napasnya apik, lidahnya menjulur keluar, panjang sekali. Sudah kering juga, karena tak terbasuh setetes air pun kecuali air liurnya sendiri. Rere mulai merasakan dadanya melebar dan pernapasannya kembali seperti semula. Dia melangkah, mencoba mendekati Riani yang masih saja diam dalam ketidaksadarannya. “Riani, kamu udah sadar, kan?” tanya Doni mendekat. Di

