"Thanks ya, Bran. Sering-seringlah kalau bisa." Alify menunjukkan senyum jahilnya saat memberikan helm kepada Gibran.
"Santuy, asal dibayar." Balas Gibran bercanda.
"Inget ya, gue pasti bantu kalau lo mau nyerang itu polisi."
Gibran tertawa. "Iya iya, nanti kita rencanain kalau kumpul di basecamp. Riel kan namanya? Masih muda juga keliatan."
"Hm. Mumpung masih muda. Gak akan dosa-dosa amat."
Gibran mengangguk lalu kembali menyalakan motornya. "Gue pamit ya."
"Yoi, tiati."
Setelah memastikan Gibran menghilang ditikungan, Alify baru berbalik badan memasuki rumah. Matanya menangkap mobil asing yang terparkir didepan garasinya.
"Tamu? Pasti si tante tante."
Ia buru-buru masuk kedalam rumahnya. Ruang tamu tampak sepi. Namun suara tawa nampak terdengar dari arah ruang TV. Alify semakin melangkahkan kakinya ketika mulai terdengar suara obrolan.
"Kamu mau aku buatkan minuman hangat?"
"Teh manis, boleh?"
Selesai mereka berbicara, Alify dapat melihat sosok wanita yang kemarin ada di ruang inapnya.
"Loh Alify baru pulang? Mau makan?"
Sapaan wanita itu membuat Gunawan ikut melihatnya yang baru saja pulang.
"Gak perlu, mau tidur." Jawabnya dingin lalu melanjutkan berjalan kearah kamar.
"Dasar anak itu, semakin hari semakin jadi saja."
"Mas!" Suara wanita itu terdengar menegur.
"Namanya juga lagi pubertas. Apalagi perempuan, barangkali lagi pms."
Alify masih bisa mendengar pembelaan itu. Hatinya sedikit tersentuh ketika untuk pertama kalinya ia kembali seperti diangkat tinggi-tinggi. Padahal pujian itu bukanlah pujian besar yang mengagung-agungkannya. Tetapi ia merasa ada orang asing yang membelanya.
Alify menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak boleh terlena dengan wanita itu. Ia melanjutkan jalannya memasuki kamar dan menutup pintu itu rapat-rapat. Berharap suara-suara diluar tidak terdengar sedikitpun.
***
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Alify mau tak mau terbangun. Ia menatap jam dinding di kamarnya. Pukul 7 malam. Ia tertidur, bahkan seragam pun masih melekat ditubuhnya.
"Alify? Masih tidur?"
"Ayo turun kita makan malam bersama."
Suara wanita itu.
Alify beranjak dari kasurnya. Menatap sebentar penampilannya di cermin. Buruk. Sangat buruk.
Namun, niat mengganti pakaian ia urungkan ketika terselip ide di otaknya.
"Gak ganti ah, siapa tau dia ilfeel sama gue." Ucapnya dengan senyum lebar. Bangga akan idenya.
Ia perlahan mendekati pintu dan membukanya.
"Ya ampun, kamu belum ganti baju?!" Tanyanya seperti terkejut.
"Males ah, sebentar lagi juga mandi." Jawabnya santai lalu berjalan lebih dulu ke ruang makan.
"Alify!" Itu suara Ayahnya yang menegur setelah melihat penampilannya.
"Apa sih, Yah? Marah-marah terus ih!"
"Ganti bajumu atau makan di kamar!"
"Mending makan di kamar lah! Daripada disini, sama Ayah!" Ujarnya tak sopan lalu segera memgambil lauk pauknya.
"Tidak, tidak. Alify kamu makan disini saja. Benar, Mas. Sebentar lagi juga Alify mandi, bukan? Jadi tak apa, lah." Bela wanita itu lagi.
Alify menatap Ayahnya dengan senyum kemenangan. Ada yang membelanya lagi. Ia segera menarik kursi dan mendudukkan dirinya disana.
"Tapi kamu harus berkenalan dulu."
Raut wajah Alify berubah seketika. "Ngapain sih, Yah? Tante ini juga udah tau nama aku."
"Siapa? Kamu masih panggil Tante ini gitu."
"Sarah. Isn't it?"
***
"Fy!" Panggilan Gibran membuat seluruh anak kelas menatap kearah pintu.
Alify yang sedang berada dibangkunya menatap penuh tanya kearah Gibran. Kemudian ia beranjak menghampiri ketika Gibran memberikan gestur untuk menghampirinya.
"Kenapa?"
"Gue udah tau polisi yang kemarin. Rumahnya dan jadwal kerja dia." Jelas Gibran.
"Wess, gercep. Terus selanjutnya gimana?"
"Gue sih pengennya langsung nyerang, tapi kalau dia lagi sendiri. Lo yakin mau ikut?"
Alify tertawa. "Gue seksi dokumentasi deh, kalau lo khawatir."
Gibran ikut tertawa, tangannya gemas mengacak puncak kepala Alify. "Oke, nanti habis pulang sekolah kumpul di basecamp ya. Tunggu gue di parkiran."
"Oke." Ucapnya sebelum kembali masuk kedalam kelas.
"Siapa? Pacar lo?" Pertanyaan itu muncul dari mulut Rio saat ia baru sampai dibangkunya.
"Bukan urusan lo."
"Kayaknya iya. Tapi kemarin gue liat dia sama cewe di mall."
Alify menggedikkan bahunya. "Bukan urusan gue juga."
***
Sesuai janjinya dengan Gibran tadi, Alify kini tengah menunggu pria itu di parkiran. Tepat disamping motornya. Namun perhatiannya teralihkan ketika mendapati Rio yang berjalan menghampirinya.
"Ngapain lo?" Tanya Alify dengan nada sarkasnya.
Rio membalasnya dengan tatapan heran. "Kenapa?"
"Yeh, malah balik nanya!"
"Ya emang bener, kenapa? Gue cuma mau ambil motor gue kok." Jawabnya menghampiri motor yang terparkir tepat disamping motor Gibran.
Ify memalingkan wajahnya, malu. "Sial." Gumamnya.
Rio tertawa terbahak-bahak. "Makanya, Lif. Kalau jadi orang jangan pelupa. Ini tempat umum, bukan tempat pribadi. Haha."
Setelah berbicara seperti itu, Rio langsung menjalankan motornya meninggalkan Alify dengan wajah merah padamnya. "Anjir, beraninya dia bikin gue malu."
"Siapa yang malu-maluin lo?"
Gibran muncul tepat disaat Alify membalikkan badannya.
"Eh, bukan siapa-siapa. Ayo ke basecamp, anak-anak udah nunggu."
***
Rencana kumpul dengan anak-anak di basecamp harus Alify batalkan karena saat di lampu merah, ia bertemu dengan Ayahnya. Sial sekali mobil Ayahnya tepat berada disamping motor Gibran.
Jadi, disinilah Alify sekarang. Di sebuah tempat makan yang berada di salah satu hotel bintang lima. Di sampingnya sudah ada Ayahnya yang sedang mengobrol dengan Sarah. Iya, Alify jadi kacung disini.
"Maaf kita telat, Bu, Yah. Tadi cari Malvin dulu, tapi gak ketemu."
Suara itu membuat Alify mendongakkan kepalanya. Ia sukses menelan ludahnya sendiri ketika mendapati sosok yang tak asing baginya.
Gibran ?
•Bran.
•Lo tau kan kalau Bokap gue mau nikah lagi?
○Yoi
○Kenapa?
•Polisi yang nilang kita kemaren
○Riel kan?
•Iyaa
•Dia anaknya
○Anak siapa?
○Ibu tiri lo?
○Calon maksudnya
•Yoi
•Gue kaget anjir
•Bisa-bisa kita gagal nyerang dia
○Dia inget muka lo?
•Inget.
•Ini aja lagi ngomongin gue tentang hal kemarin.
○Bales pake orang luar lah.
○Nanti biar gue yang urus.
○Lo jangan ikut campur.
•Okee
•Eh
•Bran, kalau gak usah gimana?
•Bran
•P
•P
•Anjing Gibran balesssss
•Dia mau kasih lo keringanan katanyaa
•Gibraaaannnnn
•Anjing.
***