16 - Wedding Day

1093 Kata
Tenda yang dilapisi kain berwarna putih biru itu berterbangan sesuai angin yang menerpa. Lagu penuh romansa mengalun dengan tenang disetiap penjuru gedung. Malvin merangkul pundak Alify yang tengah menyaksikan keadaan pesta pernikahan orangtua mereka dari balkon yang tersedia di gedung tersebut. Tangannya membawa segelas soda dan ia sodorkan ke adiknya. Alify menggeleng. Menolak. "Kenapa sih? Lo kayak ngehindarin gue belakangan ini?" Alify menggeleng ribut. "Nggak, kok. Perasaan lo aja kali." "Terus kenapa gak mau dijemput gue lagi? Ada yang ngelarang lo?" "Gak ada, Vin. Gue gak kenapa-napa kok. Lagian belakangan ini si Rio juga mau anterin gue terus. Santai aja." Jawabnya masih tanpa memalingkan pandandangannya. Malvin menggusak puncak kepala adiknya. Kebiasaan. "Sana turun. Temen-temen lo udah nyampe tuh." "Iya bentar, lo duluan aja. Gue mau benerin sesuatu dulu." Malvin mengernyit heran. "Apaan?" "Rahasia cewek! Sana pergi!" Malvin meninggalkan Alify sesuai perintah adiknya itu. Sedangkan Alify menatap punggung Malvin sampai kakaknya itu tidak terlihat lagi. "Padahal gue lagi berusaha untuk terbiasa tanpa lo, Vin." *** "Anjir! Alify cakep bener!" Pekikan Dio membuat Rio yang berada disampingnya juga menoleh. Alify berjalan menghampiri mereka yang tengah duduk memakan makanan yang telah disediakan. "Udah hunting makanannya?" Tanya Alify ketika menyadari bekas makanan yang berada di meja mereka. "Sumpah, Fy. Lo beda banget. Iya kan, Mario Maurer?" Ucap Dio mengabaikan pertanyaan Alify. Rio hanya mengangguk pasrah ketika Dio yang kebiasaan mengubah-ubah nama panjangnya. "Cantik kan gue?" "Cantik dong, Fy." "Rio? Bilang cantik juga dong." Goda Alify melihat Rio yang hanya diam saja. "Iya, Alif. Cantik." Alify tersenyum puas. "Btw, nyokap bokap lu datang gak?" Alify memang mengundang Dio, Rio dan Orangtua Rio saja. Mengingat selama ini hanya mereka yang paling dekat dengannya. "Datang, tapi nanti nunggu bokap gue pulang kerja." Alify mengangguk-anggukkan kepalanya. "Fy coba lo setiap hari kayak ginu ke sekolah. Sumpah deh gue makin suka sama lo." Ujar Dio masih dengan pandangan takjubnya. "Ngapain, Njir?! Gue mau sekolah atau mau catwalk dah! Masuk angin gue kalau pake baju begini setiap hari." "Kan ada jaket Rio yang bisa lo pake." Rio protes. "Kenapa jaket gue?" "Ya masa jaket gue? Gue cuma punya dua jaket di rumah, Yo." Balas Dio dengan tampang memelas. Alify tertawa. "Apa sih kalian bahas yang gak penting! Haha." "Lagian kalau gue gini nanti satu sekolahan bakal naksir gue kayaknya." "Bener juga. Nanti saingan gue banyak." Pikir Dio yang membuat Rio gemas ingin mendorongnya hingga terjatuh dari kursi. "Eh btw, lo gak ngundang pacar lo, Lif?" Tanya Rio saat sadar tidak ada murid di sekolahnya selain mereka. "Pacar Alify kan gue, Yo?" Rio mendelik kesal. "Diem deh Dio, lo bacot tau gak?!" "Siapa? Gibran?" Rio mengangguk. "Gue undang, tapi dia datang sore katanya. Nunggu ceweknya balik les mungkin." Rio mengernyit. "Lo bukan ceweknya?" "Ya bukanlah. Si Gibran mah sohib gue." Jawab Alify santai. "Eh kayaknya orang tua lo datang, Yo. Gue ke pintu masuk dulu ya." Pamit Alify yang langsung bangkit menghampiri orangtua Rio. "Aku tungguin Mama sama Papa dari tadi loh." Ujar Alify yang membuat Mama Rio terkejut karena melihat penampilannya. "Loh? Ini Alify? Ya ampun cantik sekali.." Mama Rio memeluk Alify setelah bercipika-cipiki. Alify tersipu. "Makasih, Ma. Aku jarang-jarang loh kayak gini." "Ayo masuk, Rio juga sudah datang." Lanjutnya. "Kenalkan ke orangtua kamu juga dong, Fy. Papa mau sombong nih ke teman-teman Papa kalau ketemu orang kaya nomor 10." Canda Papa Rio yang membuat Alify tertawa. "Ayo aku kenalin Pah." Alify membawa Mama Papa Rio ke tempat dimana Ayahnya berada. "Yah, kenalin tamu aku. Mama sama Papanya Rio." "Oh halo, senang berjumpa dengan anda. Terima kasih sudah datang." Ujar Gunawan dengan ramah. "Ah seharusnya kami yang berterima kasih karena sudah diundang." Balas Papa Rio. Gunawan menganggukkan kepalanya. "Tak apa, ayo silahkan dinikmati makanannya. Alify antar tamunya ya." "Ayo Ma, Pa, kita hunting makanan." Ajak Alify mempersilahkan dan berjalan lebih dulu dengan Mama Rio. Gunawan menatap anaknya dengan heran. Semudah itu ia memanggil orang lain dengan sebutan Mama Papa sedangkan untuk Sarah saja menunggu diresmikan dulu? *** "Fy." Malvin memanggil Alify yang sedang asyik berbincang dengan tamu-tamunya. Alify dan yang berada di meja itu menoleh tanpa menjawab. "Ikut gue dulu bentar." Ucap Malvin sebelum berbalik pergi meninggalkan tempat. "Aku permisi dulu ya, Ma, Pa." Pamitnya lalu mengikuti kemana Malvin pergi. Malvin berhenti tepat di taman belakang gedung. Tempatnya yang berada di belakang membuatnya jauh dari keramaian. "Kenapa, Vin?" Tanya Alify ketika ia tepat berada dihadapan kakak tirinya itu. "Kenapa lo manggil orangtua Rio dengan sebutan Mama Papa? Sedangkan ke nyokap gue aja lo manggil Tante dulu." Ujar Malvin dengan tatapan yang kurang enak. "Emangnya kenapa? Itu mereka yang minta kok-" "Terus kalau nyokap gue gak minta lo bakal manggil dia Tante terus gitu?" "Kan gue pernah bilang kalau gue bakal manggil Ibu setelah mereka resmi. Lo kenapa sih?" Tanya Alify yang lama-lama kesal juga. "Lo yang kenapa?!" Bentak Malvin yang membuat Alify terkejut setengah mati. Alify mendengus. "Lo kok bentak gue? Ini cuma masalah sepele doang. Lo mau gue manggil nyokap lo Ibu? Gue bakal lakuin kok mulai hari ini. Tapi kalau lo mau gue manggil nyokap lo Ibu dari dulu, itu mustahil! Semua udah berlalu dan nyokap lo juga gak masalah." "Lo ada masalah kan?" Tanya Alify selanjutnya. Malvin terdiam. Menatapnya tajam setelah menempatkan kedua tangannya dikedua pundak Alify. "Lo pacaran sama Rio?" "Apa yang udah lo lakuin sama dia waktu itu?" Kedua Pertanyaan tersebut Malvin ucapkan dengan suara yang dalam dan tajam. "Maksud lo?" Tanya Alify heran. "Gue tau waktu lo nginep di rumah dia, orangtuanya gak ada. Lo ngapain aja?" Alify menatap Malvin tak percaya. Kakaknya itu tidak pernah sekasar ini kepadanya sebelumnya. Ia bahkan selalu melindunginya bahkan dari Ayah Alify saat itu. "Lo anggap gue semurahan itu?" Tanya Alify dengan tatapan yang kecewa. Matanya menatap nanar tepat ke kedua mata Malvin. "Gue kira lo bisa ngelindungin gue terus. Gue kira lo beda dari kakak lo yang lain, yang terlalu kaku dan selalu beda pendapat. Ternyata lo lebih dari mereka, Vin." "Kalau lo ada masalah, lo bisa cerita ke gue. Lo boleh lampiasin apapun itu ke gue. Tapi setelah itu lo cerita kalau lo lagi gak baik-baik aja." "Tapi kalau awal masalah ini cuma karena sikap gue ke nyokap lo dan ke ortu Rio, lo bener-bener childish Vin. Gak ngerti gue." "Lebih baik lo diem dan pendem itu dulu, daripada gue semakin ngancurin acara ini yang tadinya gue kira sebagai batasan antara masa lalu dan masa depan. Tapi ternyata gue salah," Alify memandang sekitarnya lalu tersenyum sinis. "Ini ternyata memang masa depan gue dan selamanya akan begitu. Gak ada yang berubah." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN