23 - Pcrn.

1107 Kata
Warning! Terdapat adegan Kissing didalam part ini. *** "Makasih, Rio." Cup Alify benar-benar mencium Rio lagi. Iya. Lagi. Karena lagi lagi dia menciumnya tepat di bibir. "Lif. Sekali lagi lo kayak gini, gue gak yakin masih bisa nahan." Ujar Rio dengan suara yang berat. Bukannya melepaskan kalungannya pada leher Rio, Alify justru semakin menggoda. Ia menggigit sedikit bibirnya dengan sebelah alis yang ia mainkan. "Gue gak keberatan?" Tantangnya. "Oke." Tangan Rio kini berpindah menjadi dibelakang tengkuk Alify. Ia mulai mendorong tengkuk wanita didepannya itu untuk mendekat kearah wajahnya. "Gak ada kesempatan lagi untuk nolak." Ucap Rio sebelum bibirnya meraup bibir Alify. Suasana didalam mobil itu seketika menjadi panas walau AC mobil telah dinyalakan. Tak ada yang memikirkan apa yang akan terjadi setelah kedua insan itu memilih untuk berbagi salivanya. Mereka tak berfikir sejauh itu hingga mengabaikan waktu bahkan perasaan keduanya. Ini semua dimulai dari main-main dan godaan. Tak ada rasa apapun selain sayang sesama manusia. Tapi tentunya Tuhan tidak akan membuat Hamba-Nya tersesat. Bisa saja Ia memberikan benih cinta diantara mereka saat itu juga. *** Alify memalingkan wajahnya ketika tangan Rio malah menggenggam tangannya dibawah meja. Kegiatan belajar mengajar telah dilakukan kembali setelah libur pasca Ujian Nasional yang dilakukan kakak kelas mereka. Hal itu membuat siswa-siswi harus kembali bangun pagi untuk pergi ke sekolah walau kasur di rumah masih meraung-raung minta kembali ditemani. "Malu?" Rio berbisik ketika menyadari semburat merah yang muncul di pipi teman sebangkunya itu. "Diem lu!" Rio terkekeh. Salah satu jarinya malah mengelus punggung tangan Alify. Membuat sang empu semakin tersipu. "Haha, anjir gemes gua." Gumam Rio yang dibalas delikan tajam oleh Alify. Alify melepaskan tautan tangan mereka. "Diem anjing!" "Kasar." Rio memilih kembali melanjutkan mencatatnya daripada kembali menggoda Alify. Namun senyumnya masih belum hilang sejak itu. Hubungan keduanya memang menjadi lebih dekat sejak kejadian di mobil itu. Walau tidak sepenuhnya hubungan mereka berubah, tapi aura-aura cinta sudah sedikit menguar. Contohnya, Rio yang selalu mengantar jemput Alify. Jangan lupa juga saat malam minggu. Jika kalian pikir Rio menikung temannya, re: Dio. Kalian salah. Dio sudah berkata untuk berhenti mengejar cinta Alify setelah merasa kalah telak dengan kekayaan yang dimiliki gadis itu. Dio hanya seorang murid kurang mampu yang masih bisa bersekolah bermodalkan beasiswa. Sangat jauh dibandingkan Alify yang orang terkaya nomor 10 di Indonesia. Jam istirahat berbunyi menandakan waktu belajar mengajar harus berhenti. "Baik, anak-anak. Pelajaran hari ini cukup sampai sini, kita lanjut minggu depan." Ujar sang Guru yang setelah itu meninggalkan kelas mereka. "Gue ke kelas Gibran ya." Pamit Alify yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Rio ataupun Dio. Setelah mengangguk, Rio beranjak dari kursinya lalu merangkul Dio yang juga baru bangkit. "Ayo ke kantin. Gue traktir." "Sure!" Dio dan Rio memilih ke kantin bersama. Sebenarnya Rio memiliki maksud tersendiri untuk mentraktir Dio. Kalian tau kan ya.. "Nih bakso super spesial. Jarang-jarang kan lo beli ini." Dio mengangguk antusias. "Makasih, Rio!" Ujar Dio dengan antusias dan langsung melahap baksonya dengan lahap. Bukannya menjawab Rio malah berdehem. Seperti sedang menyusun kata-kata yang akan ia bicarakan. "Jadi gini, Dio.." Dio mengangkat kepalanya yang semula menunduk. "Hm?" "Lo udah mundur kan dari si Alif?" Dio mengangguk. "Maaf ya, Dio. Tapi sekarang-" "Gue sama Alif pacaran." Uhukkk *** "Yo, gue gak pulang bareng hari ini ya?" Izin Alify ketika keduanya tengah merapihkan buku, bersiap untuk pulang. "Kenapa?" "Mau main ke rumah Gibran." Rio berfikir sebentar, lalu mengangguk. "Tapi nanti gue yang jemput." "Oke, gue duluan kalau gitu." Pamit Alify langsung pergi keluar kelas. "Dadah, Dio." Godanya sebelum benar-benar keluar dan menghampiri kelas Gibran. Dio terbengong setelah melihat interaksi Rio dan Alify secara langsung. Ia masih tak percaya jika keduanya benar-benar berpacaran mengingat Alify belum pernah berpacaran sama sekali. "Mau bareng gak?" Tawaran Rio membuatnya sadar dari lamunan. Dio segera mengangguk dan berjalan mengikuti Rio menuju parkiran. "Kalian beneran pacaran ternyata?" Tanya Dio dengan tampang tak percaya. "Lo masih gak percaya?" "Jelas. Kalian ditinggal libur, masuk-masuk udah jadian. Kapan pdktnya?!" Rio tertawa. "Harus banget pendekatan? Langsung aja lagi. Buang-buang waktu." Dio mendelik. "Terus gimana lo nembak Alify nya?" Tanga Dio dengan wajah menantang. Pipi Rio tiba-tiba bersemu mengingat bagaimana ia dan Alify memilih untuk mengubah status mereka. "Ada lah. Lo gak boleh tau. Privasi." "Cih, paling lewat whatsapp." Cibir Dio. Tidak tau aja dia gimana proses mereka, hehe. *** "Masuk guys." Gibran mempersilahkan teman-temannya untuk masuk kedalam rumahnya. Mereka kali ini bukan ingin main atau sekedar ngumpul. Tetapi akan mengadakan rapat kecil untuk p*********n mereka. "Gue gak ada makanan, kita pesen online aja ya." "Terserah lu aja, Bran." Jawab Alify yang sudah duduk di sofa ruang tamu. "Eh titip aja ke si Juna. Dia kan masih di sekolah tuh?" "Bener-bener. Coba lo chat dia, bilang aja nanti gue ganti." Ujar Gibran lalu beranjak menuju kamarnya. "Bisa gak?" Tanya Alify yang melihat temannya itu terus mengirim pesan kepada Juna. "Belum dibaca." "Coba gue telfon." Alify segera mendial kontak Juna. Awalnya tersambung, namun mendadak ditolak. Setelah dicoba lagi, ponsel Juna sudah tidak aktif. "Kok malah gak aktif?" "Kenapa?" "Hp Juna jadi gak aktif. Padahal sebelumnya tersambung." Jawab Alify heran. "Eh, bentar. Rio nelpon gue. Jangan berisik!" "Iya dah ngerti yang punya pacar mah." Alify mendelik tajam. "Diem, njing!" Lalu menerima panggilan dari Rio. "Apa?" "Lif, lo lagi sama temen-temen lo?" "Iya, ini udah sampe di rumah Gibran." "Lo sekarang kesini deh. Ke rumah sakit." "Hah? Ngapain?!" "Temen lo ada yang kecelakaan." Alify mengernyit, namun jantungnya sudah deg degan. "Siapa, Yo?" "Kenapa, Fy?" Tanya Gibran yang baru saja datang dan langsung ikut menguping. "Coba loudspeaker." Perintahnya lagi yang langsung Alify turuti. "Gue gatau namanya siapa, tapi salah satu dari geng lo deh. Parah, Lif. Lo cepet kesini." "Ju- Juna?" "Gatau, Lif. Cepet sini deh. Gue gak tau tentang dia dan keluarganya juga." "Yang bener, Yo? Lo ada di rumah sakit sama dia?" "Iya, gue sendiri dia lagi ditanganin dokter. Tolong bawa keluarganya juga kalau bisa ya." "Iya Yo gue sama yang lain langsung kesana. Makasih ya." "Iya, hati-hati. Jangan sampai lo korban juga." Sambungan telefon langsung dimatikan oleh Alify begitu juga. Yang lain langsung bersiap-siap. "Pake mobil gue aja, motor kalian tinggalin disini." Gibran langsung mengambil kunci mobilnya dan beranjak menuju garasi. Sedangkan beberapa ada yang mencoba menghubungi keluarga Juna. Ditengah-tengah ketegangan itu, ponsel Alify sempat bergetar menampilkan notifikasi baru yang belum sempat ia baca. Drrttt drrttt.. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Unknown •Hai Cantik •Ketemuan yuk •Kalau lo gak mau temen-temen lo jadi korban selanjutnya *** BY THE WAY •Ada yang mau part special Rio Alify waktu mereka jadian? •Like nyeritain kronologinya gimana. Kalau ada yang komen mau akan aku upload !
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN