05 - I Have 3 Brothers

1052 Kata
Brakk Pintu kayu itu terbuka, menampilkan Alify yang datang dengan baju seragam yang sudah tak beraturan. Nafasnya terasa berat ketika menghampiri temannya yang menatap terkejut kearahnya. "Gibran mana?!" Tanyanya cepat. "Baru aja pergi. Dia jadi nyerang, kan?" Alify mengumpat. "Anjing! Hp dia kemana sih? Gue chat gak dibales-bales!" Temannya itu menunjukkan ponsel yang tengah di bongkar. "Lagi gue betulin. Katanya gak bisa nyala." Jawabnya polos. "Anjir Gibran!!!" Alify mengusap wajahnya yang penuh keringat itu. "Kenapa sih, Fy?" "Polisi itu, calon kakak tiri gue. Kemaren kita ketemu dan dia bilang bakal nyerahin itu sekarang secara cuma-cuma." Jelas Alify dengan nadanya yang pasrah. "Gibran bilang gak dia bakal nyerang dimana?" "Kata dia sih gak jauh dari tempat ditilang kemarin. Cepet deh lo kesana, bisa bahaya ini." "Oke, makasih ya. Nanti kalau gue butuh bantuan gue bakal telepon ke lo." Temannya itu hanya mengacungkan jempolnya sebagai balasan. Alify segera berlari menuju jalan besar untuk mencari angkutan umum yang akan mengantarnya ke lokasi. Hatinya terus-terusan tak tenang. Kata-kata Riel kemarin benar-benar terus menghiasi pikirannya. Flashback On "Kamu yang kemarin saya tilang, kan?" Pertanyaan Riel membuat semua yang ada dimeja itu mengarahkan tatapannya kepada Alify. Alify memberanikan mengangkat wajahnya lalu tersenyum kaku. "I-iya..." "Oh kamu yang bakal jadi adik saya? Tau gitu saya lepas aja kemarin." Ujarnya dengan senyum yang masih menghiasi. "Bukannya Alify gak bawa motor ke sekolah?" Tanya Gunawan. "Dia dibonceng sama temannya, Yah. Tapi temannya itu gak bawa surat lengkap. Jadi Riel tahan dulu." Ayahnya itu hanya manggut-manggut lalu tersenyum. "Makasih loh, nak. Lain kali kalau lihat Alify tilang aja. Biar anaknya langsung pulang. Gak kelayapan dulu. Beruntung kalau dia punya kakak polisi." Alify menatap Ayahnya dengan tatapan kesal. "Ayah apaan sih?! Aku gak mau ya kalau kalian nikah. Aku juga gak mau punya kakak!" "Lagipula untuk apa aku pulang cepet dari sekolah? Di rumah juga kosong, kan? Ayah mana pernah temenin aku." "Maka dari itu, Ayah ingin menikah lagi biar kamu ada temannya. Nih Cakka, kakak kamu yang kedua lagi nganggur nunggu sidang. Jadi dia bisa temenin kamu." "Aku gak mau, Yah. Ayah kenapa sih gak pernah dengerin mau aku?!" Riel dan Sarah yang semakin menyadari bahwa suasana semakin memanas berusaha menengahi. "Sudah, Mas. Gak apa-apa. Masih ada banyak waktu." "Iya, Yah. Lagi pula Riel pasti akan jagain Alify sekalipun dia bukan adik Riel." Riel meletakkan tangannya dipuncak kepala Alify. Mengelus rambut itu seolah menyalurkan ketenangan. Dan benar saja, Alify terdiam berikutnya. "Tapi nanti kalau kita sudah jadi keluarga, Alify panggil saya Abang ya." Keterdiaman Alify bukanlah hanya lamunan semata. Perlakuan dan ucapan Riel benar-benar membuatnya nyaman dan merasa terlindungi. Tanpa sadar ia tersenyum tipis. Sangat tipis sampai tak ada yang menyadari. Flashback Off *** "Gibran!" Teriakan Alify membuat Gibran, Riel dan dua orang berbadan besar itu menghentikan aktifitas mereka. Gibran yang tengah bersembunyi menyaksikan orang suruhannya memberikan senyum menyambut kepada Alify. "Sini, Fy. Gue u-" Plakk Ucapan Gibran terpotong saat tangan kecil Alify malah mendaratkan tamparan dipipinya. "Maksud lo apa, Fy?!" "Kenapa sih Hp lo harus rusak?! Lo gak tau kan chat gue selanjutnya! Lo gak seharusnya ngelakuin ini! Riel mau damai aja sama lo!!" Gibran membulatkan matanya. "Gu- gue gak tau, Fy. Lo kan udah bilang 'oke' juga. Gue kira gak kenapa-napa." "Bran. Gue bisa mati di tangan Ayah kalau gini." Alify berucap demikian dengan pelan. Gibran terdiam. Ia tau Alify tidak bercanda. Terbukti dengan raut wajahnya yang khawatir. Dengan terpincang-pincang, Riel berjalan mendekati keduanya setelah berusaha melepas dua pria bertubuh kekar itu yang terus menghajarnya. "Oh jadi kalian dibalik ini semua?" Riel tersenyum remeh dengan luka disudut bibir dan hidungnya. "Kamu Alify. Saya sudah bilang bukan kalau saya akan membebaskannya? Tapi apa maksudnya ini? Bisa-bisa kalian berdua dipenjara." "Memalukan." Untuk pertama kalinya Alify terlihat ketakutan. Namun ia berusaha mungkin untuk tidak menampilkan itu. Bagaimanapun juga Riel hanya calon kakaknya, belum atau tidak akan menjadi kakaknya. "Kamu memang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Saya juga sudah berjanji akan menjaga kamu. Tapi bukan berarti kamu bebas melakukan apapun. Kriminal tetap kriminal. Saya tidak bisa diam." Ucap dengan Riel yang tenang namun sangat dalam. Alify merasakan tarikan ditangannya. Gibran maju dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya. "Gue yang salah. Lo jangan berani sama cewek dong! Lo gentle kan?!" Alify terkejut mendengar ucapan Gibran. Hanya memperkeruh suasana. "Gibran! Udah!" Ujarnya pelan sambil menarik ujung baju Gibran. "Urusan saya dengan kamu kembali di kantor polisi. Saya tidak akan lagi mengambil jalur damai untuk kamu sekalipun kamu pacar adik saya." "Calon." Riel tak peduli. Ia menarik tangan Alify yang masih berada dibalik tubuh Gibran. "Dan kamu harus pulang. Ikut saya." "Gak mau! Gue mau sekolah." "Gak ada penolakan. Saya antar kamu sampai kelas." "Eh jangan maksa orang dong! Gue bisa nuntut lo juga ya!" Gibran ikut membantu Alify yang memberontak digenggaman Riel. Namun tak Riel gubris. "Gak mau, Riel! Gue gak mau!! Lepasin!!" Namun apa daya, Riel langsung menarik Alify menuju mobilnya dengan mudah. Jelas, tenaga Alify akan kalah dengannya. "Abang." Panggilan itu membuat Alify dan Riel menoleh. Ada seorang pria dengan seragam SMA yang dikeluarkan dan kalung perak yang terlihat menggantung di lehernya. "Lepasin. Itu anak orang." Ujarnya lagi. "Gak akan. Kamu juga ikut, Abang. Kalian harus balik ke sekolah kalian." Pria itu malah memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Setiap orang punya hak, Bang. Lepasin atau gue laporin ini ke kantor polisi." "Atas tuduhan apa?" "Penculikan dan pemaksaan." Riel menggeleng. "Tidak ada bukti. Sini kamu! Ikut Abang masuk mobil." Pria itu hanya menghela nafasnya pasrah. Lalu berjalan mendekati Riel dan Alify. "Tetep aja lo keras kepala, Bang. Bikin gue makin gak betah aja." Setelah berucap demikian, pria itu langsung membuka pintu mobil dan duduk disamping kemudi. Alify terpaksa menurut kala Riel telah membuka pintu dibelakang pria tadi. "Gue Malvin. Kakak kelas lo yang katanya bakal jadi kakak tiri lo." Ujar orang itu. Alify sedikit terkejut menyadari bahwa ia memiliki kakak yang cukup banyak. Ada tiga dan ketiganya memiliki sifat yang berbeda. "Lo Alify cewek satu-satunya di geng bonek kan?" Alify mengernyitkan dahinya. "Bonek?" Malvin tertawa sebentar. "Bocah Nekat. Temen-temen gue sering manggil geng lo dengan sebutan itu." Alify hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu Malvin langsung diam ketika Riel mulai memasuki mobil dan menjalankannya. Sebelumnya Riel menghampiri Gibran dan memfotonya serta kedua orang suruhannya itu. Entahlah, mungkin untuk bukti atau jaga-jaga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN