RB - LIMA

2852 Kata
Lima "Serigala itu yang mendapatkan selongsong ini?" tanya Maretha terdengar khawatir. Dia masih sibuk mengiris daging untuk Biru. "Iya Ibu. Tadi aku pulang sekolah, dan Bi--Serigala itu datang dan memberikan selongsong peluru itu." Rembulan menarik tempat daging untuk biru. "Ya Tuhan, tapi Serigala itu tidak tertembak lagi kan?" kini Cendana yang khawatir. "Tadi aku cek tidak ayah. Dia tidak berdarah. Ayah, Serigala itu tinggal di sini saja ya?" "Tidak," tolak Maretha cepat. "Sayang, kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Kau sudah kelas 3. Dan bulan depan kau mulai ujian." "Tapi Bu," "Ibumu benar, Rembulan. Kau harus fokus pada ujian ini. Setelah kau lulus, dan mendapatkan SMA pilihanmu, kita akan bahas lagi tentang Serigala baik ini," bujuk Cendana. Membantu putrinya untuk memberi makan Biru, yang sedari tadi tergeletak di samping sofa ruang tengah. "Berjanjilah kau akan lulus ujian. Ya?" kata Maretha, mengusap puncak kepala Rembulan. "Baik, Bu." Rembulan menurut. "Tapi malam ini, Serigala ini tidur disini ya?" "Di ruang tengah, dan kau tidur di kamar. Okay?" "Iya Ibu. Terima kasih." Rembulan melebarkan senyumnya. *** *** Hutan itu ramai malam ini. Karena ada komunitas pecinta alam yang sedang berkemah di hutan. Bahkan kini Cendana dan beberapa warga ikut datang ke hutan untuk mengawasi. Ah syukurlah tadi Serigala besar itu menginap di rumahnya. Jadi semuanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Warga sekitar sudah tahu jika memang di hutan ini ada serigala dan hewan buas lainnya. Tapi di hutan ini sudah dibagi menjadi beberapa zona. Intinya ada zona aman dan zona terlarang. Zona aman ada di bagian utara. Sampai 63 meter ke dalam hutan. Sedang zona terlarang dari 65 meter hingga hutan ini habis. Di zona terlarang memang ada beberapa binatang buas. Namun mereka tidak akan berkeliaran dan memangsa manusia. Entah karena apa, tapi memang mereka tidak pernah merasa terancam. Meski begitu, Biru ada di zona aman. Dia tinggal di sana. Atau lebih tepatnya disetting Rembulan untuk tinggal di sana. "Kan sudah aku bilang, di hutan ini tidak ada serigala itu," kata seorang pria, salah satu anggota komunitas. "Memang tidak ada. Aku sudah mengecek kemarin. Tapi druid itu ada. Aku melihatnya dan aku bahkan berbicara dengannya," sahut Sirius. Yang juga anggota komunitas. "Baiklah Sirius, segera setelah warga desa pergi, kita akan berburu serigala," bisik pria tadi. "Ya aku setuju," sahut seorang gadis. **** **** "Dia hanya serigala kan?" seru seoranh Gadis. "Entahlah. Bisa saja dia manusia serigala, Elen," sahut Sirius. Menatap Elen, gadis yang paling bersemangat untuk berburu. "Ya, aku berharap kita menemukan manusia serigala, daripada hanya serigala," imbuh Ben. "Ya." "By the way, kau tahu darimana jika pria itu druid?" tanya Elen lagi. "Bos. Dia melihat Druid itu. Salah satu dari keluarga Hale," sirius menjelaskan. "Damn. No way. That famous Hale family? Keluarga Druid?" "Yap.. Dan dia seumuran kita," jawqb Sirius. Mulai melangkah mengendap. "Lalu bagaimana dengan gadis yang kau ikuti itu?" "Dia okey. Dia teman adikku, Regulus. Aku tidak sempat mengikutinya lebih jauh karena semalam kan kau menelponku, Elen." "Sorry," kata Elen menyengir. *** *** "Kau masih belum tahu siapa pria misterius itu?" tanya Nara pada Rembulan saat keduanya tengah menunggu jemputan. "Belum." "Juga orang yang mengikutimu malam lalu?" seru Regulus, ikut bergabung menunggu jemputan. "Kau diikuti?" Nara membelalak. "Kenapa kau cerita padanya tapi tidak padaku?" "Dia tidak cerita, kakakku yang cerita," sahuy Regulus. "Dengar Nara, tidak semua harus dibagi dalam sebuah pertemanan. Kau bukan Tuhan yang bisa memberikan segala penyelesaian dalam setiap masalah. Jika Rembulan menceritakan semuanya." "Well, kau bisa?" sinis Nara. "Guys.." Rembulan menengahi. "Jelas aku tidak bisa. Tapi aku tahu batas-batas dalam pertemanan, Nara." Nara menatap Regulus tajam. "Aku duluan, Rembulan. I'll text you later," lanjut Nara. Menghentakkan kakinya, melangkah menjauh dari Rembulan dan Regulus. "Kau ini kenapa? Kau membuatnya marah, Regulus." "Dia sudah lebih dahulu membuatku marah. Dia stalking tentang keluargaku, Rembulan. Dan untuk apa?" "Maybe, she just wants to be your friend. Dia hanya ingin mengetahuimu lebih jauh." "Agar apa? Aku tak pernah mempedulikan tentang teman. Aku menerima apa yang ada pada mereka." "Ya. Pertemanan lelaki dan perempuan berbeda okey?" Regulus mengangguk. "Aku akan minta maaf pada Nara nanti." "Okey. Great. Aku pulang dulu," pamit Rembulan. *** *** Regulus benar-benar meminta maaf pada Nara setelah Rembulan pulang. Dia tidak ingin memperpanjang masalah dengan perempuan. Dia hanya ingin fokus pada sekolahnya. Pada ujian untuk kelas 3 yang dilaksanakan bulan depan. Dia harus mendapatkan nilai yang bagus agar dia bisa masuk di SMA favorit. Begitu juga Rembulan dan Nara. Bahkan ketiganya kini sering terlihat belajar bersama. Setelah Fifa harus pindah sekolah karena tugas ayahnya yang dipindahkan. Ketiganya sungguh belajar dengan giat untuk ujian kali ini. Yang mana akan dilaksanakan minggu depan. Ini sebenarnya hanya ujian tengah semester. Tapi tetap saja nilainya berpengaruh untuk kelulusan nanti. Ketiganya sepakat untuk melanjutkan SMA di salah satu SMA favorit yang sangat direkomendasikan oleh SMP mereka. "Apa yang kau coret itu?" tanya Nara penasaran. Saat melihat Regulus mencoret sesuatu kemudian memasukkannya pada saku jaketnya. "Pocket calendar," jawab Regulus santai. "Untuk apa? Menghitung mundur kapan kita akan keluar dari gedung Smp nan megah ini?" sahut Rembulan. "No.. Untuk menghitung mundur fenomena blue moon. I told you guys before." Regulus mulai menarik keatas risleting jaketnya. "Kenapa kau sungguh terobsesi dengan blue moon ini?" tanya Nara penasaran. "Kau tahu apa itu blue moon? Bulan biru adalah peristiwa munculnya bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan yang sama. Nama Bulan Biru sebenarnya tidak ada hubungannya dengan warna. Kadang-kadang, bulan purnama dapat muncul pucat kemerah-merahan," papar Regulus. "Sebenarnya blue moon sama saja seperti bulan purnama lain. Hanya saja, dalam keluargaku memercayai jika fenomena blue moon, akan ada hal mistis lain yang menyertai," lanjut Regulus. Menatap Nara dan Rembulan bergantian. "Dan blue moon kali ini, sudah dipastikan akan ada hal besar yang terjadi." **** "Sebenarnya blue moon sama saja seperti bulan purnama lain. Hanya saja, dalam keluargaku memercayai jika fenomena blue moon, akan ada hal mistis lain yang menyertai," lanjut Regulus. Menatap Nara dan Rembulan bergantian. "Dan blue moon kali ini, sudah dipastikan akan ada hal besar yang terjadi." Terdengar tawa renyah dari Nara. "Hal mistis? Seperti apa? Negara kita berubah menjadi negara api? Atau tiba-tiba ada serangan zombie?" canda Nara.  "Aku serius Nara. Blue moon tiga tahun lalu juga ada hal mistis." "Seperti apa?" kini Rembulan bertanya. Penasaran.  "Seperti terdengar auman Serigala. Dan kakakku menemukan beberapa orang tewas tercabik-cabik oleh Serigala." "You kidding me?" Nara masih tidak percaya.  "If you don't trust me, fine. Tapi tunggu saja, pasti akan ada hal besar nanti yang akan terjadi," sinis Regulus. Meninggalkan Nara dan Rembulan.  "Kau suka sekali membuatnya marah, Nara." "Dia terlalu sensitif." *** *** Rembulan duduk gelisah di meja makannya. Menatap sang Ibu yang masih mondar-mandir di dapur rumahnya. Entah sedang apa, masak? Mereka baru saja selesai sarapan.  "Ibu, kapan ibu berangkat ke klinik?" tanya Rembulan akhirnya. Karena sungguh dia sudah tidak sabar.  Tidak sabar ingin segera bertemu Biru.  Hari ini, kelas 3 di sekolahnya diliburkan. Karena senin lusa sudah mulai ujian.  Sedang Maretha, yang biasanya tiap sabtu akan berangkat pagi-pagi sekali ke klinik, hari ini sampai jam 8 pagi masih mondar-mandir di dapur.  "Ibu sepertinya tidak akan ke klinik hari ini. Ibu harus menyiapkan makanan untuk di antar ke laboratorium ayahmu," jawab Maretha. Masih mondar-mandir di dapur.  APAA??  "Sebenarnya ibu sudah selesai masak. Hanya saja ibu lupa dimana menaruh lunch box yang minggu lalu dibeli ayahmu," lanjut Maretha. "Sedangkan makanan ini akan diambil setengah jam lagi." "Kenapa ibu tidak bilang," kata Rembulan, beranjak mendekati Ibunya. "Kau tahu dimana lunch boxnya?" "Tidak tahu, aku tapi bisa membantu ibu," kata Rembulan lagi.  "Ya, bantu ibu mengangkat ponsel ibu yang berdering." Rembulan meraih ponsel Maretha di saku celana kerja Maretha. "Bibi Cla," "Angkat saja," suruh Maretha. Sudah ingat dimana menaruh lunch boxnya. "Ibu akan mengambil lunch boxnya di ruang kerja ayahmu." "Atau aku saja yang ambil, Bu." Rembulan berlari kecil menuju ruang kerja sang ayah. Sekembalinya Rembulan, dia mendapati raut bingung Ibunya, "kenapa Bu?" "Ada beberapa kucing di klinik ibu yang butuh penanganan, Gino, dokter baru teman bibi Cla tidak bisa datang." "Meaning?" Maretha hanya diam. Bingung bagaimana menjelaskan kepada Rembulan.  "I know the meaning, Mom." Senyum Rembulan terukir. "Ibu pergilah ke klinik. Aku bisa memasukkan makanan ke lunch box." "Kau tidak apa-apa?" Rembulan mengangguk senang, "Sini ibu beri contoh." *** *** *** Butuh satu jam bagi Rembulan menyelesaikan pekerjaan menata isi lunch box. Dia bahkan membiarkan Jenny, orang yang disuruh mengambil lunch box menunggu.  "Akhirnya selesai juga," kata Rembulan bangga. Setelah membantu Jenny memasukkan 57 lunch box pada mobil Jenny.  "Ya.. Kau memang gadis yang pintar. Kau mau ikut ke Lab?" "Tidak, terima kasih," tolak Rembulan sopan.  "Kau serius? Maksudku ayahmu juga akan hadir di acara laboratorium," "Ya.. Emm.. Tidak. Tapi kau.. Maukah kau memberiku tumpangan ke hu-- Ke toko bunga di ujung?" "Sure, naiklah." *** *** *** Rembulan berbaring menatap daun-daun pohon yang bergoyang karena hembusan angin hutan. Dengan kepalanya yang bersandar pada perut Biru. Serigalanya yang dengan menurut mau tidur dan menjadikan perutnya sebagai bantal Rembulan.  "Emm.. Bulumu sungguh sangat lembut," kata Rembulan, mengusap bulu Biru. "Lebih lembut dari selimut bermerk yang dibelikan ibuku saat aku ulang tahun, tahun lalu." Hanya terdengar geraman Biru. "Kenapa bulumu bisa sedemikian lembut?" Rembulan mendudukkan diri. Mengusap kepala Biru. "Kau tidak pernah mandi, kau tidak pernah ke salon. Kenapa bisa lembut?" Biru terlihat menggeleng. Rembulan langsung saja terkekeh.  "Kau sungguh pintar. Em.. Ngomong-ngomong, kapan terakhir kau mandi?" **** **** Rembulan masih tertawa renyah, melihat Biru yang mengibaskan badannya karena pancuran air shower di kamar mandi rumahnya.  "Ahahaha.. Kau harus mandi, Biru. Nanti kau kutuan. Seperti kucing Fifa dulu, banyak kutunya karena dia tidak mau mandi," kata Rembulan, kemudian mematikan air shower. Berganti menyabun Biru.  "Ini sabun kesukaan ibuku. Kau cium aroma wanginya?" Rembulan mengulurkan tangannya yang berisi cairan sabun. "Harum kan? Seperti aroma bunga yang paling wangi." Setelah selesai memandikan Biru, Rembulan mulai menyalakan hair dryer dan mengeringkan bulu Serigala besar itu.  "Wahh.. Kau sungguh wangi sekarang," Rembulan berujar bangga.  Entah Rembulan menyadari atau tidak, tapi serigala di depannya itu tersenyum.  "Kau mau makan? Atau kita kembali ke hutan?" Serigala itu kembali terlihat berpikir, kemudian dengan santainya melenggang meninggalkan kamar mandi.  Melangkah kecil menuju halaman rumah Rembulan.  "Ya, jadi artinya kita kembali ke hutan?" Rembulan tersenyum, mengusap sayang bulu Biru. "Aku ambil beberapa buku dulu. Senin lusa aku sudah ujian." Tak butuh waktu lama, keduanya, Rembulan dan Biru sudah kembali duduk di hutan. Dengan Rembulan yang kembali berbaring bersandar perut Biru.  Membaca buku dengan asyik. Sebelum ingatannya kembali pada Regulus.  Rembulan menutup bukunya. Beralih tengurap menatap Biru. "Kau tau Biru, kata Regulus akan ada fenomena blue moon 2 bulan lagi. Saat akhir bulan." Biru sungguh jelas terlihat tidak suka mendengarnya. "Blue moon, artinya Bulan Biru. Ah, sungguh aku berharap Rembulan biru dalam arti sebenarnya. Tapi tidak, blue disini berarti pengkhianat, kebanyakan orang menafsirkan kata biru sebelum kata lain berarti adalah pengkhianatan. Maksudnya bulan bukan berkhianat." Rembulan menghela napas. Kemudian terduduk. Dengan memindahkan kepala Biru pada pangkuannya.  "Hanya saja, seharusnya hanya ada 1 purnama setiap bulan. Tapi dalam beberapa waktu, akan ada 2 purnama dalam 1 bulan. Makanya disebut blue atau pengkhianatan. But, blue moon masihlah indah. Karena itu ciptaan Tuhan. Entah kenapa ada manusia yang tega menamainya blue dalam arti berkhianat." "Aku sungguh tidak sabar ingin melihatnya. Apalagi hari itu tanggal merah dan hari sabtu. Aku ingin melihatnya bersamamu nanti," Rembulan memeluk singkat Biru. "Kau mau?" Biru mengangguk.  "Baiklah, aku sudah mulai mengantuk, aku harus pulang. Aku akan menemuimu besok," kata Rembulan. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini kubawakan daging. Kau makan ya?" *** *** Ada yang berbeda dengan hari ini. Ya selain hari ini ujian, yang mana hanya ada anak kelas 3 di sekolah Tapi Rembulan merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang banyak.  Sejak kemarin seharian menghabiskan minggunya di hutan bersama Biru dan kedua orang tua Rembulan, Rembulan sungguh merasakan sesuatu yang aneh..  Yang berlebihan.  "Aku tahu apa yang berbeda," bisik Nara. Saat ini dirinya dan Rembulan sedang menunggu bel masuk untuk ujian mata pelajaran kedua.  "Apa?" Rembulan ikut berbisik.  Okey, meski dia merasa ada yang berbeda, tapi untuk ujian kali ini tetap sama. Dia masih berkesempatan satu kelas dengan Nara.  "Lihat Regulus," kata Nara menunjuk lelaki di barisan paling depan.  Ah, berkesempatan emas, satu kelas dengan Regulus juga.  "Kenapa Regulus?" "Kau tak lihat warna rambutnya sudah tidak putih lagi. It's brown now," lirih Nara.  Rembulan mengangguk mengerti. Ah ya. Lelaki itu mengubah warna rambutnya.  Menjadi cokelat.  "Handsome," gumam Nara lagi. Menarik kursinya menjauh dari kursi Rembulan.  *** *** "So, kenapa rambutmu menjadi cokelat?" tanya Rembulan pada Regulus. Keduanya berhasil menyelesaikan soal ujian lebih awal.  Kini keduanya tengah menunggu jemputan masing-masing.  "Kakakku menyuruhku mengembalikan warna rambutku," jawab Regulus sambil menyengir.  "Jadi warna asli rambutmu juga cokelat?" "Yup. Embarrassing I know." "What? No!! Tunggu, kau mengatakan *embarrassing* apa karena warna rambutku dan Nara juga cokelat?" "Tidak, tapi.. Aku selalu berharap rambutku berwarna pirang seperti almarhum ibuku." Kata Regulus barusan sungguh membuat Rembulan membelalakkan mata.  "Ku kira ibumu masih hidup, Regulus. Bukankah dia yang ikut makan malam bersama kita dulu?" "Ya benar. Maksudku tidak sepenuhnya benar. Marie adalah ibu kandung Sirius. Aku dan Sirius bukan saudara kandung," tutur Regulus. "Ibuku Madie, dia meninggal saat aku masih bayi, dan Marie, saudari kembar ibuku yang merawatku sejak kecil." "Ah.. I'm sorry about your mom. She must be proud of you," kata Rembulan bersedih.  "I know, the worst part is, Ayah dan Ibuku meninggal karena dibunuh," kata Regulus lagi.  Dan lagi, Rembulan kembali membelalakkan matanya. Kali ini lebih lebar.  "Di--apakan?" "Your mom," kata Regulus menunjuk mobil Maretha, ibu Rembulan yang baru saja datang. "I'll tell you later," lanjut Regulus. Kini melangkah menuju motor Sirius yang juha baru datang.  *** *** "Aku sungguh merasa bersedih pada Regulus, Biru," kata Rembulan. Kembali terbaring pada perut Biru.  Di hari minggu yang super cerah dan menyenangkan. Ya karena ujiannya sudah berakhir. Dan dia sudan diijinkan untuk bertemu dengan Biru.  "Kau tahu? Orang tuanya meninggal dibunuh. Maksudku, siapa yang tega membunuh orang tua dari seorang anak? Jahat sekali, kan?" (You must be surprised, because my parents are dead too. Not just being hunted, but being destroyed.) Kau pasti akan terkejut, karena orang tuaku juga sudah meninggal. Bukan hanya diburu, tapi dimusnahkan.  Rembulan buru-buru duduk. Menengok ke kanan dan kiri. Seperti bingung.  Kemudian menatap Biru. Mendekatkan wajahnya pada Biru.  "Kau dengar tadi? Seperti ada yang berbicara," bisik Rembulan. Jelas terderngar nada takut dalam suaranya.  Ya, itu suaraku.  Atau bukan.  "Ayo kita sembunyi, ada orang yang datang," kata Rembulan menarik Biru bersembunyi.  "Druid itu sepertinya sudah pergi, Bos. Aku sudah lama tidak melihatnya." "Lalu bagaimana dengan pencarian kalian saat kemah?" "Kami menemukan hewan buas. The real I mean." "Meaning, kalian tidak menemukan yang harus kita hancurkan?" "I think, someone is protecting that beast." "Or hiding it?" "Or not !" **** **** Rembulan masih di sana. Bersembunyi di balik besarnya tubuh Biru. Di balik pohon besar.  Masih mendengarkan percakapan beberapa orang di hutan.  Dapat Rembulan rasakan tubuhnya yang gemetaran. Keringat dingin sungguh menyebar ke seluruh tubuhnya.  Terlebih saat beberapa kali dirinya mendengar suara pukulan dan tembakan.  "Trust me, I don't hide anything. Seluruh kaum Gaillard sudah tewas. Bukankah kalian yang menghancurkan mereka?" seru suara yang--sepertinya Rembulan ingat.  "Kau tahu tentang perang? Jangan percaya ucapan musuh." "Musuh? Ch.. Kau manusia, aku juga manusia, lalu apa bedanya kita? Ah yaa.. Kau benar, bedanya, aku melindungi, dan kau menghancurkan." "Diam k*****t!! Katakan saja dimana kau menyembunyikan tuanmu itu." "Aku tidak punya tuan. Aku manusia, yang membebaskan diriku dari sifat penghancur seperti kalian. Kalian mau membunuhku, silahkan." "Kurang ajar!!" "Cukup!!" "Hutan ini ada cctvnya. Aku dengar dari salah satu teman ayahku, hutan ini dipasang cctv." Setelahnya, terdengar langkah kaki yang mulai menjauh. Juga suara seseorang yang ambruk. Rembulan segera melangkah mendekat. Mengajak Biru ikut berlari.  "Ya Tuhan," pekik Rembulan. Melihat seorang pria yang tergeletak penuh darah di wajahmya. "Yaa Tuhan, kau tidak-- kau sungguh tidak baik-baik saja," lanjut Rembulan. Terduduk di samping pria itu. Dia baru akan membantu pria tadi, tapi...  "NO, DON'T TOUCH HIM!!" pekik sebuah suara. Perempuan.  Ya Perempuan dengan tudung abu-abu dan mengenakan semacam masker untuk menutupi mulutnya.  Rembulan dengan segera mundur. Memeluk Biru erat.  Perempuan itu ikut terduduk, membantu pria berdarah tadi.  Rembulan mengamati baik-baik postur tubuh perempuan dan pria di depannya.  Sang pria, sudah pasti itu adalah pria yang menemuinya malam-malam lalu. Tapi sayang wajahnya tertutup darah.  Dan sang perempuan, dia mengenakan pakaian casual, jeans hitam dan hoodie abu-abu. Juga masker. Dan sarung tangan. Seperti seorang dokter.  "Go," suruh perempuan itu pelan.  "What?? What are you going to do? Kill him?" tanya Rembulan, meminta penjelasan.  "Just go, larilah. Keluar sejauh mungkin dari hutan ini. Dan jangan kembali.  Aku tidak akan membunuh pria ini," lanjut perempuan tadi.  Karena sudah dirundung rasa takut sejak tadi, maka Rembulan buru-buru beranjak. Menarik Biru bersamanya.  "Leave the wolf with us," kata perempuan tadi.  "NO!!" kini Rembulan memekik.  "Let her bring the wolf," lirih pria yang terluka parah tadi.  Sudah tidak diragukan. Itu pria yang menemuiku malam itu.  "He save with her," lanjut pria tadi. *** *** Maaf ya baru bisa up. Sebenrnya aku udah mau ngetik di hp kemarin.  Tapi ayah nala lembur, jdi gaa sempet. Trus tadi aku masuk angin dan pusing. Ini baru baikan.  Semoga kalian suka yaa..  Dann...  Sekali lagi maaf kalau alurnya kecepatan. Atau akan semakin cepatt. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN