"Bisakah kau mempercayaiku, jika aku menceritakan semuanya?" Lelaki itu memandang lekat pada manik Rembulan. "Bisakah aku percaya padamu jika aku menceritakan kisahku?"
"Entah dia percaya atau tidak, aku rasa kau tetap harus bercerita, Beowulf," seru seorang lelaki.
Lelaki misterius itu!!
"Shut up, Segara!!" bentak lelaki di depan Rembulan. "Namaku Biru sekarang."
Lelaki yang disebut Segara itu terkekeh geli. Berjalan mendekat pada Rembulan dan.. Bisa kita panggil dia Biru sekarang?
"Okey, Biru Gaillard. Ceritakan saja semuanya pada Rembulan manis ini," lanjut Segara, tersenyum pada Rembulan. "Kita akan membutuhkan bantuannya, eventually."
"Ya. Kita butuh banyak bantuan untuk menyelamatkan nyawamu, Biru," kata seorang perempuan. Mengenakan hoodie abu-abu.
Yang kini bergabung mendekat pada Rembulan.
Rembulan yakin lima ratus persen bahwa itu adalah perempuan yang sama, yang dulu mengusirnya dari hutan.
"Dan ya, aku adalah perempuan itu, yang mengusirmu dari hutan beberapa minggu lalu," lanjut perempuan tadi. Langsung saja membuat Rembulan terbelalak. "Maaf."
"Ka.. K.. Kau?" suara Rembulan sungguh terasa lenyap.
"Ya, kadang aku bisa membaca pikiran seseorang. Terlebih orang itu sedang panik atau ketakutan."
Nala. Perempuan itu kemudian membuka hoodienya. Juga masker yang menutupi mulutnya.
Harus Rembulan akui, perempuan itu sungguh cantik. Dengan rambut cokelat gelapnya yang lurus dan panjang.
Juga mata birunya yang menenggelamkan.
Seperti kedua mata Biru.
"Kami akan membuat perkenalan singkat," seru Segara. Membuyarkan kekaguman Rembulan. "Aku Segara Hale, perempuan cantik itu Nala Grass, dan si tampan yang tidak punya baju ini adalah Beowulf Gaillard, ah.. Atau sekarang bernama Biru Gaillard," lanjut Segara. Bergantian dari menunjuk Nala dan Biru.
"Nala Grass?" tanya Rembulan. Berusaha meyakinkan pendengarannya. "Seperti Narashanza Grass?"
Giliran Nala yang terbelalak. "Kau kenal Nara?"
"Ya.." sahut Biru. "Nara adalah teman baik Rembulan." Biru mengulas senyum pada Rembulan.
Ya Tuhan. Itu adalah senyum tertampan yang pernah Rembulan lihat.
"Dan Segara adalah pria yang menemuimu malam-malam itu. Juga pria yang dihajar di hutan beberapa waktu yang lalu," lanjut Biru.
"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Nala panik. Karena melihat Rembulan yang memegangi kepalanya.
"Dia pusing," putus Segara. "Oh ayolah segera kita jelaskan padanya. Kita tidak punya banyak waktu. Destroyer pasti akan kembali segera setelah mengetahui kau kembali menjadi manusia, B.. Biru."
"Kau percaya pada kami, kan?" tanya Biru lagi.
"Apa.. Apa aku akan tetap hidup kalau aku percaya pada kalian?"
"Kau tidak perlu percaya pada kami. Kau hanya perlu mendengar penjelasan kami. Dan ketahuilah, kau tetap harus percaya pada Tuhan. Dan hanya Tuhan," kata Segara bijak. Menggiring Nala menjauh.
Biru mengulurkan tangannya. Menunggu Rembulan menyambutnya.
"Kau akan tetap hidup. Aku janji," kata Biru.
Dengan ragu, Rembulan menyambut uluran tangan Biru.
Dia sungguh ingin menolak kenyataan ini. Tapi tidak bisa.
Rembulan sudah begitu mencintai indahnya manik Biru yang sebiru lautan.
Dan segala kilasan yang tadi ditunjukkan kedua manik biru itu.
***
***
Siang ini, setelah menceritakan semuanya -tanpa terkecuali- pada kedua temannya, Rembulan, Regulus, dan Nara kini sedang berada di sebuah kafe di dekat sekolah.
Ketiganya memilih membahas ini di luar rumah. Karena jujur, Rembulan masih sangat takut untuk kembali ke rumah.
Biru, yang kini berubah menjadi manusia, pagi tadi mengatakan akan menunggu Rembulan di rumah.
Ah, andai saja Biru masih berwujud serigala. Sudah pasti setelah bel pulang berbunyi, Rembulan akan segera pulang dan memeluk serigalanya itu.
Tapi.. Nyatanya hewan besar itu malah berubah menjadi manusia.
Seorang lelaki dewasa. Mungkin 2 atau 3 tahun lebih tua dari Rembulan.
Seorang lelaki tampan dengan mata biru. Rambut cokelat dan memiliki senyum terindah yang pernah Rembulan lihat.
"Kau dengar kami?" sentak Nara sembari memukul pelan bahu Rembulan.
"Ya?" Rembulan jelas tidak mendengar ocehan Nara.
"Astaga, dia masih sempat melamun," kata Regulus.
"Perempuan itu, namanya Nala Grass, Nara," lirih Rembulan. Ah dia lupa mengatakan bagian Nala dalam ceritanya.
"Apa?" pekik Nara. "Nala siapa?"
"Nala Grass. Perempuan yang mengenakan hoodie dan sarung tangan itu namanya Nala Grass. Dan ya, dia adalah kakak sepupumu yang dulu pernah diikuti sesuatu," tutur Rembulan. "Dan kini dia memiliki sesuatu."
"Ini semakin rumit," komentar Regulus.
"Ya, kak Nala sekarang memiliki kekuatan membekukan," lirih Nara.
"WHAT??" pekik Rembulan dan Regulus bersamaan.
Nara jelas langsung saja menendang kaki kedua temannya yang duduk di depannya.
"Kekuatan membekukan seperti Queen Elsa?" tanya Rembulan memelankan suaranya.
"Atau seperti killer Frost?" tambah Regulus.
"Ya, seperti keduanya. Dan itu yang memaksaku harus belajar mempercayai hal mistis."
"Kakakmu itu baik, Nara," kata Rembulan.
"Dia memang baik. Dan aku sangat mengaguminya," kata Nara mengulas senyum.
"Ngomong-ngomong, dimana mereka bertiga sekarang?" tanya Regulus.
"Aku tidak tahu. Kemarin, kita hanya bertemu di hutan. Kemudian aku pulang karena ayahku menjemputku," jawab Rembulan jujur.
***
***
"Nah, itu dia sudah pulang," kata Cendana, menunjuk Rembulan yang baru saja menuruni mobil Regulus.
Cendana berjalan mendekat pada Rembulan yang berbincang sejenak pada Regulus.
"Terima kasih tumpangannya Regulus," kata Rembulan tulus.
"Sama-sama. Besok kujemput lagi?"
"Apa tidak merepotkan?"
"Tentu tidak, kita kan searah."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
"Katakan itu pada supirku," kata Regulus, mengulas senyum singkat.
"Terima kasih, Regulus," kata Cendana, merengkuh putrinya.
"Sama-sama, Mr. Cendana," jawqb Regulus. Melambaikan tangannya singkat, kemudian menutup kaca jendela mobilnya.
"Regulus anak yang baik," ucap Cendana, menggiring Rembulan memasuki area rumah.
"Dia memang baik ayah. Dia banyak membantuku."
Rembulan melepas rengkuhan ayahnya seketika, saat kedua matanya menangkap sosok itu.
Lelaki tampan yang tadi pagi berjanji menemuinya.
Biru.
Sedang berdiri bersandar pada dinding teras rumahnya.
Dengan senyum tampan di wajahnya yang sejuk.
"Ah, ada kakak kelasmu yang mencarimu tadi," ucap Cendana. Teringat pada tujuan Biru datang ke rumah.
"Kakak kelas?" tanya Rembulan bingung.
***
"Ayah dia bukan kakak kelasku," kata Rembulan pelan. Untuk yang kesekian kalinya saat dirinya dan Cendana tengah membuatkan Biru minum di dapur.
"Secara teknis, memang belum, kau kan belum resmi masuk di SMA Cavendish. Tapi ayah sering bertemu dengannya saat kita mengurus berkas pendaftaranmu."
"Ayah.. Tap.."
"Berikan ini pada Biru, ayah harus mengangkat telpon ibumu."
Rembulan mengerucutkan bibirnya. Menerima saja gelas itu dan berangsur menuju ruang tamu.
"Terima kasih," ucap Biru tulus, saat Rembulan mengulurkan jus itu padanya.
"Kenapa kau ke sini?"
"Aku ingin bicara padamu, Rembulan."
"Apa lagi?"
"Hai, kalian berdua," seru Cendana, berjalan menghampiri Rembulan dan Biru. "Mobil ibumu mogok, ayah harus menjemput ibumu, Rembulan."
"Aku ikut ayah," kata Rembulan spontan.
"Tidak, kau akan di rumah saja bersama Biru. Ayah tidak akan lama. Tidak apa-apa kan, Biru?" Cendana menatap Biru. Yang mana Biru langsung mengangguk mantap.
"Tidak apa-apa Mr. Cendana," kata Biru ramah.
"Ayah, tapi dia orang asing," protes Rembulan lirih.
"Asing? Ayah sering bertemu dengannya. Dia tidak asing. Dia baik," kata Cendana. Mengusap singkat puncak kepala Rembulan.
Setelahnya Cendana berlalu. Tanpa menunggu protes lebih lanjut dari Rembulan.
Dan, hanya tersisa mereka berdua di ruang tamu rumah Rembulan.
Rembulan masih menatap jendela, ke luar rumahnya, dimana mobil ayahnya sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Apa yang dikatakan ayahku benar?" tanya Rembulan tanpa menatap Biru di sampingnya.
"Apa?" Biru terlihat tidak mengerti.
"Bahwa kau sering bertemu dengan ayahku?" tanya Rembulan lagi. Kini menatap Biru. "Kau sendiri yang mengatakan jika dirimu baru kemarin berubah menjadi manusia. Apa kau bohong padaku?"
"Tidak. Aku tidak bohong. Aku.. Aku minta maaf," sesal Biru. Meraih tangan Rembulan. "Aku jujur pada bagian, aku memang baru berubah menjadi manusia kemarin. Setelah hampir 3 tahun terjebak dalam wujud serigala."
"Lalu? Kenapa ayahku--"
"Maaf," sela Biru lagi. "Aku menanamkan kilasan tentang pertemuanku dengan ayahmu saat kami berjabat tangan tadi."
"Apa? Kenapa kau melakukan itu? Ayahku tidak tah--"
"Aku tahu. Aku minta maaf. Aku hanya ingin ayahmu mempercayaiku. Karena putrinya tidak mempercayaiku," lirih Biru. Menatap sendu ke dalam manik Rembulan. "Kau tidak percaya padaku, kan? Pada semua ceritaku kemarin?"
Rembulan melihat itu. Raut sendu di wajah Biru. Sungguh sendu, hingga berhasil menyayat sebagian hati Rembulan.
Kenapa lelaki ini begitu sedih hanya karena aku tidak percaya padanya?
"Aku sudah menceritakan semuanya, Rembulan. Semuanya adalah kejujuran," kata Biru lagi.
"Tidak semuanya."
"Kalau begitu bertanyalah. Apa yang ingin kau ketahui agar kau percaya aku adalah Biru."
"Aku percaya kau adalah Biru. Hanya saja... Ceritamu itu.. Ceritamu.. Kenapa bisa seperti itu?"
Biru akan menjawab pertanyaan Rembulan, saat pintu rumah Rembulan diketuk.
"Biar aku buka dulu," kata Rembulan. Menarik tangannya yang digenggam oleh Biru.
Biru hanya mengangguk. Kemudian Rembulan beranjak menuju pintu.
"Hai, there," seru Nala. Disertai lambaian tangan. "Aku harap kau tidak bosan pada kami." Nala menyengir.
Dimana ada Segara juga di samping Nala.
"Hai," sapa Segara. "Serigala jantan itu ada di dalam kan?"
Dan tanpa menunggu Rembulan menjawab iya, dengan santainya Segara melenggang memasuki rumah Rembulan.
"Masuklah," suruh Rembulan, memberi jalan pada Nala agar masuk.
Rembulan menutup pintu rumahnya setelah Nala masuk.
"Kalian apa tidak bisa menunggu?" omel Biru.
"Tentu saja kami bisa," Nala balas mengomel. "Luka di kakimu yang tidak bisa."
Langsung saja semua pandangan terarah pada kaki Biru. Termasuk Rembulan.
"Yap. Destroyer sudah mengetahui kalau serigalamu ini sudah berubah menjadi manusia," kata Segara menjelaskan.
"Seriously, Rembulan. We need your help," pinta Nala. Tangannya dengan terampil membuat sesuatu dari barang-barang yang dia keluarkan dari tasnya.
"Kenapa aku?"
"Karena kami berdua, aku dan Segara tidak cukup tangguh untuk melindungi serigalamu."
"Nala.. It's okay, kalau memang dia tidak ingin membantu. Aku hanya ingin dia tetap hidup. Seperti yang kemarin aku janjikan," kata Biru. Ya.. Dengan suara merdurnya.
"Baiklah.. Apa yang bisa aku bantu?" tanya Rembulan. Terlihat sedikit ragu. Namun terdapat semangat dalam ucapannya.
***
***
***
"Jadi, sebenarnya apa?" tanya Rembulan. Kini tinggal dirinya dan Biru di hutan.
Sama-sama duduk bersandar pada sebuah pohon besar.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Siapa yang menembak dulu?" tanya Rembulan lagi.
"Segara yang menembakku. Dia menembakku untuk menyelamatkan nyawaku," jawab Biru. Mengulas senyum tipis. Namun tetap terlihat tampan.
"Dia? Tapi kenapa?"
"Tepat 3 tahun lalu, aku seusiamu. Atau lebih muda 1 tahun darimu. Aku 15 tahun. Aku cuma lelaki biasa yang sibuk dengan kelas 3. Saat di suatu malam, Ibuku terus menangis. Dan ayahku yang tak henti menenangkan ibuku," kata Biru.
Entah dia sengaja atau tidak, Biru menyandarkan kepalanya pada bahu Rembulan.
"Kemudian keluarga Segara datang. Segara dan kakaknya membawaku menjauh dari ayah dan ibuku. Menceritakan semuanya yang sama sekali tidak ingin aku dengar."
"Apa?"
Sungguh jantung Rembulan berdetak tidak karuan karena Biru dengan seenaknya menyandarkan kepalanya pada bahunya.
"Bahwa ayahku adalah werewolf. Dan Ibuku seorang banshee. Dan kami sedang dalam perburuan oleh kaum Destroyer," jawab Biru. Masih bersandar pada bahu Rembulan.
"Apa itu banshee?"
"Banshe.. Adalah dia yang memiliki sesuatu. Bukan sesuatu yang layak untuk dibanggakan. Karena banshee adalah mereka yang merasakan kematian." Biru menghela napas sejenak. "Dan malam itu, ibuku bukan hanya merasakan kematian. Tapi sebuah kehancuran."
"Kehancuran dari kaum yang memiliki kekuatan supranatural. Seperti ayah dan ibuku. Dan aku."
***
***
"Kau sudah tidak tinggal di hutan, kan?" tanya Rembulan saat Biru berpamitan pulang.
"Kau khawatir padaku?" kata Biru terdengar menggoda Rembulan.
"Aku hanya bertanya."
"Aku sudah tidak tinggal di hutan," jawab Biru. "Aku pulang dulu."
"Luka di kakimu.. Kenapa tidak kau periksakan di rumah sakit?" tanya Rembulan terlihat khawatir.
"I'm fine," kata Biru mengulas senyum. Kemudian melangkah meninggalkan Rembulan.
***
***
***
***