Halim mendapati istrinya diam langsung menoleh, "Kikan?" panggil Halim. Kikan tersentak menoleh, hanya menatap saja. Kikan menarik napas dalam-dalam, mengembuskan perlahan, meredakan rasa sesak setelah ingat kejadian yang telah ia lewati, “tidak mudah menjelaskan pada Felora situasinya, aku berbohong padanya, mengatakan kamu ada satu dan lain hal, mengenai pekerjaan yang buatmu tidak bisa pulang ke Hamburg bersama kami.” Jawab Kikan. Tangannya berada di perutnya. Halim tahu, putrinya itu sangat cerdas, jug sangat kritis. Ia yang tiba-tiba tak lagi melihat Halim berhari-hari, jadi menghadirkan rasa penasaran, juga tanya anak itu. Kikan hampir kewalahan dan akhirnya sampai puncaknya harus menjelaskan dengan benar, kalau Halim kemungkinan tak akan pernah hadir lagi dalam hidup mereka.

