Akhirnya waktu yang dinantikan oleh Daffa dan semua orang yang ada di tempat itu pun datang juga. Dengan anggun Kinanthi berjalan melewati ratusan para hadirin yang sedang berdiri menuju ke arah Daffa yang juga sedang berdiri menunggunya di samping meja akad mereka. Semua mata pun langsung terpesona dengan kecantikan Kinan. Tak terkecuali Daffa yang hanya bisa bengong sambil tersenyum lebar menatap kekasih yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
Semua masih berjalan khidmat. Semua masih berjalan dengan syahdu memandangi pertemuan Daffa dan Kinan di atas panggung. Namun, saat salah satu tamu undangan melihat sosok Mulin yang turut berdiri di antara mereka. Dengan wajah sinisnya ia berjalan mendekat.
"Hei! Kamu si anak durhaka, kan?" sapanya dengan nada tidak sopan. Karena merasa panggilan itu untuknya. Mulin pun menoleh. Begitu pula orang-orang di sekitarnya. Namun, Mulin tidak mau terjadi keributan di sini. Maka, ia hanya terdiam. Kemudian memutar badannya untuk meninggalkan tempat itu. Sayangnya, belum sampai ia berhasil melangkah pergi. Orang tadi sudah menghadangnya. "Mau kemana buru-buru pergi segala? Kamu merasa malu ada disini? Atau kamu malah merasa iri dengan saudara kembarmu yang sedang berbahagia di atas sana!" kata laki-laki itu sambil menunjuk ke arah panggung. Nada bicaranya yang dibuat semakin tinggi membuat orang-orang di sekitar mereka ikut menyunggingkan senyum meremehkan kepada Mulin. Jelas mereka tau tentang kasus Mulin dua tahun yang lalu. Sebab, kasusnya terus diulang-ulang di semua media massa. Baik berita di tv, di koran sampai berita online. Makanya, kasus Mulin seakan membekas di benak semua orang.
"Saya harap anda tidak merusak pesta pernikahan kakak saya," kata Mulin dengan nada rendah. Bahkan, terdengar bergetar. Namun, getaran itu bukan karena takut pada sosok di depannya. Melainkan ia takut laki-laki itu akan mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak seharusnya ada di acara seperti ini.
"Apa?! Hahahaha!" Benar juga. Lelaki itu malah tertawa lepas. Bahkan, tawanya yang terbahak-bahak terdengar sampai seberang sana. Tempat Kinan dan Daffa berdiri bersama di atas panggung. "Kamu pikir kamu siapa mengatur saya?! Hah?! Kamu itu tidak lebih dari seorang benalu yang ingin mengincar kehidupan mewah. Iya, kan?!" ujarnya setengah berteriak.
Jelas saja semua orang langsung menoleh ke arah mereka dengan penuh rasa penasaran.
"Ada apa itu, Wir?" tanya Anjani dengan ekspresi wajah yang sangat ketakutan. Bahkan, ia juga memegangi lengan Wira dengan erat.
"Aku juga nggak tau pasti. Tapi, biar aku liat dulu ya," pinta Wira sambil melepas genggaman tangan sang istri di lengannya.
"Eh, Wira. Tungguin Bapak. Bapak juga mau ikut!" kata Pak Is sambil menyusul kepergian anaknya.
"Iya, Pak. Buruan! Itu kayaknya ribut-ribut!" timpal Bu Jum sambil mendorong punggung suaminya.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Anjani sambil memegang lengan ibu mertuanya dengan erat.
"Ibu juga nggak tau. Tapi, semoga nggak ada apa-apa," timpal Bu Jum sambil menggenggam tangan anak mantunya. Ia tau wanita cantik itu pasti merasa sangat ketakutan sekarang.
Dan di atas panggung. Daffa pun hendak meninggalkan tempat itu. Hanya saja langkahnya langsung dihalangi oleh Abimana.
"Ja… jangan… per… gi! Bi… Ar..kan. Jadi… ur.. ru… san Wir.. ra dan Is," kata Abimana dengan susah payah. Daffa pun mengangguk mantap. Lalu ia melangkah mundur untuk kembali berdiri di sisi Kinan.
"Dimana urat malumu sebenarnya, hah?! Setelah kamu bohongi keluarga Abimana? Bahkan, kamu siksa lelaki tua yang kaya raya itu. Sekarang tanpa rasa malu kamu ikut tinggal bersama mereka. Apa sekarang kamu sedang merencanakan siasat kedua?" kata lelaki itu semakin kurang beradab. Tangan Mulin pun mengepal. Ingin rasanya ia meninju wajah tengil orang ini. Andai saja ia tidak ingat acara Daffa yang sangat penting ini. Pasti tanpa sungkan sudah Mulin hadiahi bogem mentah pada mulut nyinyir orang itu.
"Pak Hitman Abraham. Ada apa ini?" tanya Wira sambil berjalan tergesa-gesa mendekati mereka berdiri.
"Hei! Wira. Sebenarnya aku sedang menikmati acara penting Daffa yang penuh pesona itu. Sayangnya, si penipu ini datang dan merusak keindahan acara ini begitu saja," jawab Hitman sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Mulin. Mulin hanya bisa menunduk pasrah dengan tangan yang mengepal erat.
"Maaf, Pak. Tapi, perlu kita semua tau. Jika Bos Daffi ini adalah bagian dari keluarga Bos Daffa yang berpisah selama bertahun-tahun. Dan acara ini pun selain untuk merayakan pernikahan Daffa dan Kinan. Juga untuk merayakan kepulangan Bos Daffi yang akhirnya berkumpul lagi bersama keluarga Abimana," jelas Wira panjang lebar. Orang-orang di sekitar pun langsung manggut-manggut tak jelas. Sedangkan si Hitman Abraham hanya tersenyum geli mendengar penjelasan Wira barusan.
"Terlepas dari siapa dia dan apa tujuan dari pesta ini. Apa kalian tidak ada rasa curiga. Sudah memasukkan seorang musuh ke dalam selimut kalian sendiri," kata Hitman tak mau kalah.
"Sesungguhnya, apa yang terjadi kemarin hanyalah kesalahpahaman. Karena adanya komunikasi yang buruk antar Tuan Abimana dan juga nenek dari Tuan Daffi dan Daffa. Makanya, terjadi sedikit perselisihan di antara mereka. Namun, seperti yang sudah kita ketahui bersama. Jika, kejadian itu sudah terjadi dua tahun yg lalu. Tuan Daffa pun sudah merenungkan semua kesalahannya saat mendekam di balik jeruji besi. Lalu apalagi yang harus kita khawatirkan? Toh, semua itu adalah masalah keluarga. Dan Tuan Abimana juga sudah memaafkannya. Jadi, saya harap anda tidak membesarkan masalah ini. Dan merusak acara yang sudah kami rangkai sebaik mungkin," kata Pak Is ikut menjelaskan dengan sedetail-detailnya.
"Heh." Lagi-lagi Hitman tak mendengarkan cerita Pak Is. Ia malah sibuk dengan argumennya sendiri. "Saya tau Tuan Abimana itu memang orang yang nggak tegaan melihat sesuatu hal buruk terjadi di depan matanya. Tapi, apa dia tidak pernah belajar dari pengalaman. Dimana-mana korban penipuan itu nggak pernah bisa membaca gelagat seorang penipu. Sebelum orang itu membuka topengnya sendiri," ujar Hitman dengan nada penuh penekanan. Matanya pun melirik tajam ke arah Mulin yang tidak berniat mengangkat kepalanya sedikit pun.
Melihat hal itu Hitman tersenyum simpul. Ia menarik nafas panjang lalu ia hembuskan secara perlahan.
"Kenapa kalian berdua diam? Sudah mengerti dengan maksud ucapan saya? Saya ini orang yang paling update dengan kasus ini dulu. Jadi, saya tau betul jalan pikiran lelaki penipu seperti dia," kata Hitman pada Wira dan Pak Is yang hanya bisa saling melempar pandang satu sama lain. Sejujurnya, jauh di lubuk hati mereka. Masih belum percaya seratus persen dengan sikap Mulin sekarang. Ada rasa takut juga akan kejahatan Mulin yang mungkin akan ia ulang lagi suatu hari nanti.
"Kalian tidak perlu khawatir!!" kata Daffa dengan lantang. Semua orang yang kini sedang berkerumun itu langsung menoleh ke sumber suara. "Saya yang akan menjamin perubahan sikap Daffi pada kami," lanjutnya mantap.
"Heh. Saya pegang kata-kata kamu, Daffa," ujar Si Hitman sambil menunjuk ke wajah Daffa. Setelah itu ia pun berlalu. Diikuti oleh para tamu undangan yang lain. Setelah sebagian besar para tamu meninggalkan tempat itu. Mulin berjalan mendekati Daffa yang masih berdiri di tempatnya tadi.
"Sorry. Gara-gara gue pesta loe jadi–"
"Udah santai aja. Sebagai Abang. Gue merasa berkewajiban untuk melakukan hal itu pada orang yang terus menghina adik gue," balas Daffa sambil merangkul pundak Daffi erat.