Hari Pertama

1121 Kata
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Sakura!" Haruka masih saja mengeluh bahkan ketika ia sudah mengikuti langkah Sakura. Siang ini, tepat sepulang sekolah, Sakura menagih kesepakatan tanpa persetujuan. Ia berjalan dengan riang, diikuti oleh Haruka yang mengeluh tanpa henti. Pria itu menolak, tapi tetap mengikuti. "Sakura! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" Haruka masih mencoba memberi penegasan jika ia tidak mau mengikuti rencana Sakura yang terlihat memanjang memenuhi kertas permintaan. Sakura berbalik sekilas. Lalu kembali menatap ke depan. "Sudah kubilang, kau akan menjadi temanku untuk tiga ratus hari ke depan. Apa kau sekarang tidak pintar hingga harus menjelaskan hal sederhana itu beberapa kali?" ucap gadis itu meremehkan. Tentu bukannya tanpa maksud, ia hanya ingin membuat pria di belakangnya kesal. Benar saja, perkataan Sakura barusan berhasil membuat langkah Haruka terhenti. "Bukan begitu. Tapi apa hubungannya aku dengan permintaan aneh milikmu itu?" Pria itu meninggikan suara, berharap akan didengar. Namun masih dengan wajah santai, Sakura berbalik menatap Haruka. Ia sama sekali tidak takut, sebab keputusannya untuk egois sudah bulat. "Haruka." Sakura berhenti sesaat, tak lama melanjutkan, "kau hanya perlu mengikutiku. Anggap ini permintaan terakhir dariku, oke?" Tak perlu menunggu tanggapan Haruka yang jelas tidak terima, ia sudah lebih dulu berbalik, kembali melangkah dengan riang. Di belakang, Haruka membuang napas kasar. "Astaga anak ini!" umpatnya kesal, "tapi permintaannya m*****i akal sehatku. Aish!" Akan tetapi ia tetap ikut melangkah mengekor Sakura. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah sungai. Ya, gadis itu ingin menghanyutkan perahu kertas bersama dengan Haruka seperti saat keduanya berusia lima tahun. Sakura merendahkan badan tepat di tepi air, sementara pria yang mengekornya masih berdiri malas di belakang. "Haruka." Sakura mengisyaratkan Haruka untuk ikut berjongkok. Dengan malas Haruka mengiyakan. Lagipula percuma menolak, sepertinya kata tidak sudah hilang dari kamus Sakura. "Kau membawa perahu kertas yang kusuruh tulis tadi siang, kan?" tanya Sakura memastikan. Haruka mengangguk pelan. Lalu mengambil lipatan kertas dari dalam tas. Siang tadi, Sakura memang menyusunnya menulis permohonan. Tapi tidak ada yang pria itu tulis, hanya kertas kosong yang dibentuk menyerupai perahu. Setidaknya gadis di sampingnya diam. "Baguslah. Sekarang ayok kita hanyutkan," ucap Sakura senang. Sebelum melepas perahu kertas, hal yang biasa mereka lakukan dulu kembali diulang. Keduanya akan memejamkan mata, lalu mengucap permohonan dalam hati. "Kuharap kalian sampai dengan baik," lirih Sakura, dari kalimat yang sedikit itu, bisa terdengar permohonan tulus darinya. Bukan Haruka tidak menyadari, tapi ia hanya tidak ingin memperlihatkan hal itu sekarang. Tanpa sepatah kata, ia melepas perahu kertas seiring dengan milik Sakura. Perahu kertas pertama terlepas dengan arus yang cukup tenang. Sakura tersenyum samar menatap dua perahu yang saling terlepas. Ada perasaan bahagia, juga sedih yang tidak bisa diungkap. Terlebih ketika kenangan semasa kecil tiba-tiba mampir. Tentang pertama kalinya ia bertemu dengan Haruka. Saat itu, pria di sampingnya terlihat sangat ceria, antusias, menggemaskan di saat bersamaan. Cukup terkejut sebab sangat berbeda dengan yang sekarang. Namun manusia dan perasaannya sangat dinamis. Semua bisa berubah. Jangankan orang lain, diri sendiri pun kerap mengalami perubahan tidak terduga. Seperti Sakura. Dulu ia adalah gadis kecil yang pemalu, dan sekarang bisa dibilang kepercayaan diri sudah ia dapatkan. Sementara di samping gadis, Haruka juga tengah menatap penuh pengamatan. Bukan ke arah perahu yang berlayar, melainkan pada Sakura yang menyembunyikan segala perasaan di balik senyuman. Cantik dan manis, mungkin itu yang seharusnya Haruka pikirkan tentang gadis itu. "Mereka sudah tidak terlihat," gumam Sakura begitu kehilangan perahu dari pandangan. Mendengarnya membuat Haruka mengalihkan pandangan pada aliran sungai. Benar, tidak ada yang ia lihat dari dua perahu yang berangkat. Di detik berikutnya Sakura menoleh. "Oh, iya. Apa kau menyelesaikannya?" tanyanya setelah teringat dengan suatu hal. Dahi Haruka mengerut, tidak paham dengan apa yang Sakura katakan. Memang apa yang telah ia mulai hingga perlu diselesaikan? "Sepuluh tahun lalu. Apa kau menyelesaikan perahu kertas selama satu tahun penuh?" ujar Sakura kembali bertanya. Sebentar Haruka terdiam. Pikirannya mengembara ke waktu yang disebutkan Sakura. Sepuluh tahun yang lalu, saat mereka berjanji akan menghanyutkan perahu kertas bersama. Namun apa yang terjadi adalah sesuatu di luar dugaan. Seketika perasaan bersalah masa lalu kembali menyeruak. Haruka tak ingin mengingatnya, tapi kenangan cukup bandel untuk disuruh pergi. Hingga sampai sekarang perasaan masa lalu masih melekat kuat dalam ingatan. Setelah terdiam beberapa saat, Haruka menggeleng, lalu mengangkat kedua bahu. "Entah. Aku tidak mengingatnya," bohong pria itu. Padahal jelas sekali ia ingat tidak menyelesaikannya setelah ambulan pergi membawa Sakura. Mendapatkan jawaban seadanya setelah menunggu membuat Sakura memasang wajah kesal. "Haish kau ini!" pekik gadis itu, "aku ragu jika kau tidak mengalami amnesia," lanjutnya. Namun sepertinya Haruka ingin segera mengakhiri sesi perahu kertas di sungai. Pria itu berdiri. "Setelah ini apa lagi?" tanyanya datar. "Eh?" Sakura yang belum paham. Satu helaan napas panjang keluar. "Apa keinginanmu setelah ini? Bukankah kita harus segera menyelesaikannya?" Haruka melanjutkan. Mendengarnya Sakura tersadar. Ia turut berdiri. "Kau benar. Kita harus segera pergi. Ayo!" Sakura menarik tangan Haruka dengan cepat, sedikit berlari tapi segera sadar dan lanjut berjalan. Sedangkan Haruka, alih-alih menolak, kali ini ia memilih untuk mengalah. Berdebat tidak mungkin menang. Rupanya Sakura lebih batu dari yang ia kira. "Nah. Kita sampai!" Di depan sebuah kedai keduanya berhenti. "Wah. Aku sudah lama sekali ingin memakan ini," lanjut Sakura. Haruka masih mematung. Di tulisan tertulis kedai yakiniku yang dimasak khusus dicampur es krim. Untuknya makanan seperti ini adalah selera semasa kecil. Lalu sekarang? "Kau sungguh ingin makan di sini?" tanya Haruka memastikan. Terlebih saat melihat dekorasi bernuansa pelangi. Sangat tidak cocok untuk remaja seusia mereka. Namun Sakura segera mengangguk. Tanpa ragu ia berkata, "Ya. Aku sangat penasaran dengan makanan di sini. Biasanya aku hanya bisa melihat. Ayo masuk." Tanpa menunggu persetujuan dari pria di sampingnya, Sakura segera masuk. Hingga mau tidak mau Haruka mengekor. Tentu setelah membuang napas panjang. Satu meja dengan dua kursi sudah ditempati. Tak lama setelah menyebutkan pesanan, makanan terhidang dalam satu nampan. Sakura menatap piring dengan mata berbinar. Sangat berbeda dengan Haruka yang memberikan reaksi biasa saja. "Ini enak sekali!" pekik Sakura setelah berhasil menyuapkan satu sendok ke dalam mulut. Dari wajah dan senyum yang mengembang, bisa dipastikan gadis itu sangat senang. Haruka menatap Sakura daripada makanan di depannya. Selama ini sepertinya ia belum pernah pergi main atau sekadar makan dengan teman-teman. Bisa dibilang ini pertama kali untuknya. Lalu melihat gadis yang nampak bahagia hanya karena sepotong daging dan es krim, bukankah itu sangat menyenangkan? Hening menyelinap ketika keduanya sibuk makan. Sakura tak henti memuji, sedangkan Haruka hanya mendengar dan mengiyakan seadanya. Hingga tiba-tiba pertanyaan Sakura berhasil menghentikan Haruka. "Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak datang waktu itu? Kau tahu, aku selalu menunggumu dari jendela, berharap kau muncul di sungai." Haruka terdiam. Ia jelas tahu alasan kenapa tidak datang. Tidak, sebenarnya ia datang, tapi tak bisa mendekat ke rumah Sakura. Akan tetapi, lagi-lagi pria itu berbohong. Bahunya terangkat. "Aku tidak tahu. Aku lupa." "Haish!" Sakura memukul punggung tangan Haruka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN