Sakura tak Sadarkan Diri

1224 Kata
Haruka mematung di tempat. Tubuhnya membeku, urat terasa kaku hingga ia tak bisa bergerak sedikitpun. Apa yang barusan ia tangkap benar-benar membuat darah di kepalanya mendidih hebat. Tak ada yang bisa dicerna sedikitpun. "Bukan Ayah yang membunuh ibumu--" "Diam!" Haruka berbalik. Sorot matanya tajam bak ada belati yang siap menusuk kapan saja. Napas Haruka tertahan. Dadanya naik turun menahan emosi. Banyak sekali u*****n yang ingin ia luapkan, seperti magma yang siap diledakkan. Namun tak bisa, semuanya tertahan karena kemarahan. "Jangan pernah mengungkit kematian ibu di depanku!" ucap Haruka dengan penuh penekanan, "bagaimana bisa kau mengelak? Padahal aku berada di sana saat kau menghabisi nyawa istrimu sendiri!" lanjutnya. Mendengar pengakuan sang anak, kedua bola mata Taguchi membulat. "A-apa maksudmu?" Ia gugup. "Kau!" Haruka menunjuk lelaki di depannya. "Kalian berdua sama saja!" Setelah mengatakan itu, ia bergegas meninggalkan Taguchi. Tidak sehat untuk mentalnya jika harus terus berada di sana. Namun tak bisa, Taguchi sudah lebih dulu meraih tangan sang anak. "Haruka. Kamu harus mendengarkan ayah lebih dulu," ujar lelaki itu, memohon. Seperti tak ada lagi negosiasi di antara mereka. Dengan cepat Haruka melempar genggaman sang ayah. "Tidak ada lagi yang ingin kudengar. Katakanlah ibu memang menghabisi nyawa sendiri. Tapi jangan lupakan, jika wanita itu melakukannya karena ulahmu!" Matanya menatap dengan sangat tajam. Hanya melihatnya saja, siapapun akan merasa takut. Ada tekanan yang sangat besar di sana. Haruka kembali melangkah. Akan tetapi setelah beberapa saat, langkahnya kembali berhenti. Tanpa menoleh ia berkata, "Satu lagi. Jangan pernah mencariku atau nenek." Setelahnya, Haruka benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan lelaki yang masih mematung dengan mata basah oleh air mata. Bukan Haruka tidak sedih. Ia hampir berteriak, sesak sebab air mata yang tidak bisa keluar membuat napasnya sangat berat. Ia lupa kapan terakhir air mata keluar. Mungkin saat terjatuh di permainan. Bahkan ketika sang ibu pergi untuk selamanya, matanya kering, hanya perasaan yang dicambuk oleh ombak besar. Sejak saat itu, air mata tak pernah keluar lagi. Sementara Sakura, gadis itu sudah duduk termenung di dalam kamar. Pikirannya sibuk menempa bagaimana kelanjutan dari pertengkaran Haruka dan lelaki paruh baya yang ia bantu. Ia juga merasa bersalah. Mungkinkah semua terjadi karena dirinya? Jika dia tidak membantu Taguchi, apakah kini ia dan Haruka sedang menikmati waktu libur mereka? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya sedari kembali. Sakura membuka dan menutup ponsel dengan cepat. Ia gusar, bahkan untuk duduk saja rasanya tidak nyaman. Khawatir dengan Haruka, juga merasa bersalah secara bersamaan. Namun tak lama saat gadis itu mondar-mandir, tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan kasar. Sakura menoleh, dan Haruka masuk dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada api yang sangat besar di sana. "Haru--" Satu kata tidak bisa Sakura katakan dengan utuh. Gebrakan pintu saat ditutup membuatnya sangat terkejut. Ia mematung, menatap Haruka melangkah melewatinya begitu saja. Sayangnya, di saat seperti ini jantung Sakura tetap tidak bisa diajak bekerjasama. Tekanan tadi membuat dadanya terasa sakit. Namun gadis itu berusaha menahan sekuat tenaga. Sakura mengamati Haruka yang mulai berkemas tanpa sepatah kata. Sementara tangannya memegang d**a yang terasa semakin sesak. Tak ingin Haruka tahu, ia berjalan pelan. "Aku ke kamar mandi sebentar," ucapnya lirih, bahkan hampir tidak terdengar. Haruka yang awalnya sama sekali tidak peduli hanya menatap Sakura sekilas. Tidak ada apapun yang ingin ia katakan. Bagaimanapun, teman perempuannya itulah yang membawanya ke sini, bertemu dengan lelaki yang sangat dibenci. Sakura terus berjalan dengan tertatih, meski sekuat tenaga menegakkan kaki. Ia harus segera meminum obat. Tetapi tidak mau di depan Haruka. Ia takut akan terlihat menyedihkan dengan obat yang sangat banyak. Dengan susah payah, akhirnya ia berhasil menutup pintu kamar mandi. Sakura bersandar di wastafel. Napasnya semakin tersengal, dadanya terasa sangat sakit. Ia merogoh kantong, mencari suntikan yang biasa dipakai saat keadaan darurat. Namun kemalangan baru saja menimpanya. Tidak ada satupun yang tersisa di dalam kantong. Ia lengah, tidak menyiapkan sebelumnya. Perlahan tubuh gadis itu terduduk. Ingin meminta bantuan Haruka, tapi tak bisa lagi mengeluarkan suara. Udara serasa hampir habis, mencekik hebat hingga menyiksanya. Sementara tangan terus menepuk-nepuk d**a, berharap udara bisa lancar masuk. Namun yang bermasalah adalah jantung yang tak bisa memompa udara dengan baik. Sakura pasrah. Ia hanya berharap seseorang akan menemuinya di sana nanti. Lalu detik demi detik, kesadaran perlahan memudar. Gadis itu akan segera berakhir. Sementara di luar, Haruka masih sibuk mengemas barang bawaan. Kebencian dan amarah membuat pria itu lupa jika ada teman yang masih tertinggal. Haruka menatap pintu kamar mandi yang tertutup sekilas, lalu tanpa berniat mengetuk, ia berdiri, ingin segera pergi seorang diri. Pria itu berpikir, jika Sakura akan dibantu oleh Taguchi jika nanti tersesat. Dengan tekad yang sudah bulat, Haruka benar-benar pergi. Namun sayang, sebab sangat terburu-buru, kakinya tidak sengaja tersandung oleh tas Sakura. Ia tersungkur. "s**l!" umpat pria itu. Tanpa basa-basi lagi, Haruka kembali berdiri. Akan tetapi matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang keluar dari tas teman perempuannya. Tubuh pria itu membeku. Di hadapannya tergeletak benda yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bukan barang pribadi yang membuat Haruka mematung, itu adalah obat dengan jumlah yang sangat banyak. Belum lagi beberapa suntikan yang turut berada di sana. Emosi yang sedari tadi menggerogoti akal, kini perlahan memudar. Seketika ia kembali pada memori pagi tadi. Saat berada di toilet rumah makan. "Ternyata benar," lirihnya saat memikirkan perkataan dua wanita yang bersamanya pagi tadi. Haruka berjongkok, ia mengamati obat-obat yang keluar dari dalam tas Sakura. Tiba-tiba perasaan khawatir menjalar. Ia baru sadar, jika temannya melewatinya dengan tangan menekan d**a. Memikirkan hal itu, kedua mata Haruka membulat. Ia terperanjat. "Sakura!" Pria itu memekik. Dengan cepat Haruka berlari menuju kamar mandi. Berteriak, menggedor pintu, tapi tak ada satupun yang terdengar dari dalam. Bahkan suara air pun tidak ada. "Sakura! Katakan sesuatu," teriak Haruka, sementara tangannya masih mencoba membuka pintu yang terkunci. Tak ada pilihan lain, Haruka akan mendobrak pintu. Ia mundur beberapa langkah, menyiapkan tubuh untuk menghantam papan kayu di depan. Satu kali percobaan gagal, beruntung dobrakan kedua berhasil. "Sakura!" Haruka terkejut hebat. Seorang gadis sudah tergeletak tidak berdaya di ubin kamar mandi. Pasti sangat menyiksa. "Sakura! Kau masih mendengarku?" tanya pria itu memastikan. Namun sayang, hanya terdengar napas pelan dari gadis itu. Tidak mau mengambil resiko lebih banyak, dengan cepat Haruka meraih tubuh Sakura. Menggendongnya di belakang, lalu berlari keluar dari ruangan. "Sakura maafkan aku. Kumohon bertahanlah," gumam Haruka seraya berlari. Satu-satunya tujuan yang terlintas adalah rumah sakit. Namun menemukan rumah sakit cukup sulit baginya yang sama sekali buta dengan jalanan di sini. Haruka bingung, kecemasan sungguh membuatnya tak bisa berpikir. Entah beruntung atau justeru malang, saat Haruka tengah di ambang keputusasaan, tiba-tiba Taguchi tergopoh menghampiri. "Kenapa dengan temanmu?" tanya lelaki paruh baya itu. Sesaat Haruka hanya diam menatap. Di saat seperti inipun, lelaki itu harus muncul. "Sudahlah. Ayah, maksudku aku akan mengantar kalian ke rumah sakit." Tanpa menunggu jawaban dari Haruka, Taguchi segera beranjak mengambil kendaraan roda empat. Sebagai orang dewasa ia sangat paham akan keadaan yang terjadi. Tak lama, sebuah mobil berhenti di hadapan Haruka. "Cepat bawa temanmu masuk," pinta Taguchi. Awalnya kemarahan masih menyelimuti jiwa Taguchi. Ia enggan masuk. Namun tak lama tersadar, jika prioritas utama saat ini adalah Sakura. Dengan cepat ia masuk ke dalam. Mobil melaju kencang membelah jalan. Tidak ada pertanyaan atau perbincangan di sana. Keadaan sama-sama panik. Selang beberapa saat, akhirnya Taguchi membuka suara. Ia berujar, "Apa kau sudah menghubungi keluarga gadis itu?" Tanpa menjawab, Haruka hanya menggeleng. Taguchi yang melihat dari kaca depan hanya mengangguk. Dibuangnya napas panjang. "Kau tenang. Temanmu pasti baik-baik saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN