Seseorang yang Datang

1038 Kata
"Wah. Aku sungguh berada di sini?" Mata Sakura berbinar saat mereka tiba di bibir pantai. Laut biru, pasir putih, langit yang bersih menjadi pemandangan yang belum pernah sekali gadis itu lihat sepanjang enam belas tahun hidup. "Biasanya aku hanya melihatnya dari komputer. Ternyata berada di sini jauh lebih indah dari kelihatannya," ujar Sakura melanjutkan. Sementara Haruka, ia hanya bisa tersenyum. Senang rasanya melihat lengkung bahagia di wajah Sakura. Pantai memang tempat terbaik, meski dia sendiri hampir lupa kapan terakhir orangtuanya membawanya. "Haruka. Apa kau lihat sekumpulan burung di atas sana?" Sakura menunjuk ke atas, pada burung putih di antara birunya langit. Setelah mengekor telunjuk Sakura, Haruka mengangguk. "Ya. Itu burung camar," ucapnya. "Camar?" tanya Sakura dengan bergumam, "sayap mereka sangat cantik," lanjutnya. Mendengarnya Haruka sangat setuju. Camar memang burung yang sangat cantik. Terlebih ketika mereka berterbangan di antara langit. Warna putih sangat padu dengan biru, tak jarang selaras dengan warna sang awan. Pandangan Sakura sudah beralih pada perahu yang perlahan menjauhi bibir pantai. Namun Haruka, matanya masih lekat menatap segerombolan burung bersayap putih yang terbang mengangkasa. Ada sesuatu yang terlintas di dalam benak pria itu ketika melihat burung camar. Sebuah memori terindah yang ia ingat saat orangtuanya masih berada di sana. Di dalam ruang bernama keluarga. Namun kenangan tersebut seketika ditekan untuk hilang, selaras dengan perasaan marah dan kesal. "Hei, Haruka," panggil Sakura, menghentikan angan pria di sampingnya. Gadis itu mengambil sesuatu dari pasir. Setelah mengambil ia menunjukannya pada Haruka. "Aku boleh mengambil ini?" tanyanya seraya mengangkat kerang berwarna ungu. Haruka mengangguk. "Ya. Kau boleh mengambilnya," ujar pria itu. Pantai dengan pengunjung yang cukup ramai. Ransel dan tas bawaan yang belum sempat diletakkan, membuat Haruka harus merasa lelah karena bebannya bertambah. Tentu sebagai pria ia tidak akan membiarkan Sakura yang membawa barang-barang. Meski sebenarnya perbandingan jumlah jelas gadis itu yang memenangkan. Haruka hanya membawa tas punggung kecil, sementara Sakura tiga kali lipat darinya. "Hei. Mau sampai kapan kita hanya jalan-jalan?" Haruka mengeluh. Semenjak tiba satu jam yang lalu, ia hanya mengekor Sakura yang berjalan tanpa jeda. Sedangkan kakinya sudah hampir mati rasa. Sakura yang berjalan di depan berbalik. "Kita belum mengelilingi pantai," ucap gadis itu tanpa dosa. Mendengar itu, Haruka berhenti. Tangannya masih erat menggenggam tas jinjing, sementara di leher juga menggantung barang yang lain. Wajah pria itu nampak lelah. Namun gadis di depannya seolah tidak peduli. "Apa kau berniat berjalan dari ujung ke ujung?" ucap Haruka seraya menunjuk ujung belakang hingga depan yang ujungnya saja bahkan belum terlihat. Matanya membulat. "Kita akan menghabiskan waktu seharian untuk itu!" lanjutnya protes. Akan tetapi Sakura masih menampilkan wajah tidak peduli. "Tidak masalah. Aku bisa melakukannya," ujar gadis itu. "Kalau begitu kamu pergilah sendiri!" Haruka kehilangan kesabaran. Tangan, pundak, serta kakinya sudah kelelahan, tapi gadis yang tidak tahu diri masih terus mengajaknya untuk berjalan. Menyisir pantai dari ujung ke ujung, hanya orang aneh yang melakukannya. Setelah mengatakan itu, Haruka berbalik. Ia beranjak dari bibir pantai menuju tepi dengan pepohonan yang rindang. Tidak lagi peduli dengan Sakura, bahkan jika gadis itu mulai merengek. "Haruka! Kau bilang akan menemaniku," rengek Sakura, tidak mau beristirahat. Meskipun langkahnya tetap mengekor pria yang sudah lebih dulu pergi. Namun kali ini Haruka yang tidak peduli. Pria itu tetap melangkah. Hingga sebuah kursi dengan atap jerami yang berhasil menghentikannya. Dihempaskannya tubuh pada papan kayu, lalu mengipasi leher dengan tangan, tanda ia kepanasan. "Kenapa kau malah duduk?" tanya Sakura masih tidak mau beristirahat. Haruka mengangkat kepala. Ditatapnya Sakura dengan tajam. "Apa kau tidak punya rasa lelah?" tanyanya dengan nada meninggi. "Aku hanya ingin beristirahat sebentar," lanjutnya. Mendengar itu, Sakura merasa sedikit sedih. Ia hanya bersemangat, apakah itu salah? Merasa tidak enak dengan Haruka, mau tidak mau Sakura turut duduk di samping pria itu. Kedua matanya terus menyisir sepanjang pantai, ia sungguh penasaran apa saja yang ada di sana. Akan tetapi, pergi seorang diri juga sangat tidak mungkin untuknya. Keheningan menyelinap cukup lama di antara keduanya. Haruka yang masih diam menikmati angin sejuk pantai, sedangkan Sakura juga tengah sibuk mengamati anak-anak yang berlarian dengan layangan di depannya. Tanpa sadar, seulas senyum muncul di wajah Sakura. Ia senang, menggembirakan rasanya melihat tawa anak-anak yang bermain, meski tidak pernah merasakannya sepanjang masa kecil. Kecuali dengan Haruka, itupun sangat singkat hingga tak pernah lagi setelahnya. Membayangkan kenangan sepuluh tahun silam membuat gadis itu diliputi berbagai perasaan yang beragam. Hatinya menjadi sangat emosional. Terlebih saat ia kembali pada masa sekarang. Di mana ia tengah duduk di pantai dengan seseorang yang ia sayang, juga untuk waktunya yang terbilang sangat sebentar. "Haruka. Terima kasih," ucap Sakura lirih, sementara pandangannya masih lurus menatap hamparan laut di depan. Mendengar ungkapan terima kasih yang sangat tiba-tiba, Haruka menoleh dengan raut bingung. "Aku tidak memberimu apapun," ucapnya dingin. Namun ucapan Haruka barusan terdengar sangat segar di telinga Sakura. Gadis itu terkekeh pelan. Haruka tetaplah Haruka, tidak akan ada yang berubah bahkan jika kau sangat menginginkannya. Usai tertawa, kini hanya seulas senyum simpul yang tersisa. Setelahnya Sakura berucap, "Kau telah memberikanku hal yang tidak akan bisa kudapatkan dari orang lain." Haruka yang terkejut dengan pernyataan gadis di sebelahnya hanya bisa terdiam. Ia tidak mengerti maksudnya, tapi perkataan Sakura barusan terasa sangat tulus. Membuatnya berada di antara kebimbangan. "Kau berbicara hal yang tidak masuk akal." Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Haruka. Sakura hanya tersenyum. Ia memang tidak berharap Haruka akan paham dengan apa yang ia rasakan. Mengungkapkan seperti ini sudah cukup untuknya. Setelah itu, beberapa saat tidak ada kata yang saling terlontar. Keduanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Akan tetapi tidak seperti biasanya, suasana kali ini membuat Haruka sedikit tidak nyaman. Terutama setelah Sakura mengatakan kalimat terakhir, pria ini terus memikirkannya. "Kau mau es kelapa?" tanya Haruka. Ia tidak bisa berada di antara hening sementara pertanyaan masih memenuhi kepala. Sakura terdiam sejenak, meski akhirnya ia mengangguk. "Kalau begitu kau tunggu di sini saja. Aku akan membawakannya," ujar Haruka melanjutkan. Setelah mendapat persetujuan, ia segera pergi menuju penjual es kelapa. Sementara Haruka pergi cukup jauh, Sakura kembali melihat-lihat sekitar. Ia berpikir tidak akan melupakan hari ini. Meski saat waktunya sudah habis. Ia akan terus mengingat pasir putih yang panas, laut biru senada dengan langit, juga seseorang yang datang bersamanya. Namun ketika Sakura tengah menikmati pantai, tiba-tiba seorang pria paruh baya mendekat. Berdiri di samping gadis itu. "Apa kau temannya Haruka?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN