Yang Terlewatkan

1996 Kata
Shilla, anak itu sedang menyiapkan sarapan ketika aku keluar kamar dengan handuk melilit rambut. "Masak apa, Shill?" Aku menuju dapur yang bersebelahan dengan kamar. Di meja sudah ada dua cangkir teh dengan asap yang masih mengepul. "Nasi goreng, Mbak." Aku hanya menganguk-angguk kecil, lalu menyeret kursi untuk duduk dan meraih teh hangat yang sudah tersaji. Sejak Ibu pergi ke Jogja minggu lalu, Shilla yang selalu memasak dan melakukan banyak pekerjaan rumah. "Shil...." "Ya?" Gadis itu berjalan ke arah meja dengan dua piring nasi goreng di tangan. "Kamu inget Satya?" Gerakan tangannya berhenti sesaat sebelum p****t piring menyentuh permukaan meja. "Satya?" Dia terlihat berpikir sejenak, sambil melanjutkan kegiatannya. Tangan gadis itu mengambil dua sendok dan garpu lalu meletakkannya masing-masing di piring. "Iya. Apa kamu inget?" "Kenapa?" jawabnya ketus. Dia memang tidak pernah menyukai Satya sejak dulu. Itulah kenapa aku bingung, bagaimana cara menyampaikan tentang hubunganku dengan Satya saat ini. Baginya, berandalan seperti Satya itu seperti virus yang harus dijauhi. "Nggak papa. Mbak cuma mau bilang, kalau setelah sekian lama menghilang, akhirnya dia kembali lagi. Dan mungkin ... dia akan jadi kakak iparmu sebentar lagi." Senyumku merekah ketika mengungkapkan hal itu. Walau aku tidak yakin bahwa Shilla akan bahagia mendengarnya, tapi rencana bahagia ini kurasa pantas untuk diberitahukan padanya. "Apa? Nggak mungkin, Mbak." "Kenapa enggak? Dia memang salah karena menghilang selama ini, tapi sekarang dia datang dan ternyata sudah menyiapkan masa depan untuk kami. Dia bahkan sudah membeli tempat tinggal, dan berencana menikah sama Mbak dalam waktu dekat." "Dia bilang gitu sama Mbak? Berani-beraninya si b******k itu!" "Shilla!" Aku reflek langsung berdiri ketika mendengar u*****n Shilla tentang Satya. Kalau dia hanya tidak mau menemui Satya seperti dulu, aku masih maklum. Pendidikan yang diterimanya selama tinggal di pesantren eyang, membuat Shilla tumbuh menjadi gadis yang relijius. Berbanding terbalik denganku yang cenderung blangsak dan seenak sendiri. Aku juga masih bisa memahami kalau dia membenci Satya, baginya, pemuda itu adalah penyebab utama yang membuat keadaanku jadi seperti sekarang. Meski aku tidak bisa mengingat semuanya, tapi sepertinya berhubungan dengan kejadian beberapa tahun lalu, yang mengakibatkan cedera di bagian otak. Sesuatu yang membuat kemampuan ingatanku seakan terbatas dan terus melemah. Juga, terkadang mudah pingsan kalau terlalu mendapat banyak tekanan. "Kenapa, Mbak?! Mbak nggak rela Shilla mengatakan hal buruk tentang dia? Inget, Mbak, dia itu orang yang paling bertanggung jawab atas keadaan Mbak saat ini. Dan lagi, dia hanya bisa menyakiti hati Mbak!" Aku menghela napas berat. Aku tahu Satya salah karena kepergiannya yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Namun, bagiku itu tidak cukup untuk membuatnya pantas dibenci. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jadi, apa salahku menerimanya kembali dan memberinya kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya? "Nggak akan, Shill. Dia udah janji sama Mbak, kalau mulai sekarang kita akan terus bersama." Shilla mengambil posisi duduk, lalu menghabiskan segelas teh dalam sekali tenggak. Wajahnya terlihat kesal, bola matanya berputar malas, juga penuh kebencian. Benci akan sesuatu yang entah apa. "Kamu tahu, Mbak? Cowok itu cuma pandai membuat janji tapi tak pernah bisa menepatinya. Mbak inget Cakka, dia janji akan bersamaku, tapi dia pergi bersama gadis lain. Mas Elang, dia juga berjanji untuk menemaniku, tapi dia pergi dengan sangat cepat, bahkan sebelum aku sempat melakukan sesuatu untuknya. Satya? Dia itu hanya bocah b******k, m***m, menjijikkan, dan hanya peduli dengan diri sendiri. Dia nggak pernah cinta sama Mbak, aku yakin itu. Kalau memang dia cinta, dia nggak akan datang lagi sekarang hanya unguk menyakiti hati Mbak. Pokoknya jangan pernah sekali-sekali Mbak percaya sama janji yang dibuat oleh mulut makhluk bernama cowok. Itu zonk. Kopong. Tipuan. Mereka cuma peduli sama diri sendiri, dan senang mempermainkan perasaan perempuan." Aku melongo mendengar kalimat panjang Shilla yang diucapkan dalam tempo yang sangat cepat. Gadis itu sampai ngos-ngosan sekarang, sampai mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. Dia terlihat sangat kesal. "Shill?" Aku mendekat dan menempelkan punggung tanganku di dahinya. "Normal," ucapku sambil mengangguk-angguk kecil setelah memastikan suhu tubuhnya. Hanya terasa sedikit lebih hangat, dan itu wajar karena emoainya saat ini sedang memuncak. "Apanya, Mbak?" "Suhu tubuhmu. Normal, tapi kenapa tingkahmu aneh gini?" "Ini bukan waktunya bercanda." Shilla menangkis tanganku sedikit kasar. Dia sedang dalam mood yang buruk sepertinya. "Oke, oke, tapi bisa kamu jelasin kenapa Mbak harus jauhi Satya? Jujur aja, Shill, aku mencintai anak itu. Dulu maupun sekarang." "Karena sebenernya berandalan itu udah—" "Ssshhhh...." Aku mendesis ketika mendadak kepala terasa pusing. Ada sesuatu seperti jarum seakan sedang ditusukkan ke bagian otak. Suara Shilla terdengar menjauh, semua mendadak hampa, dan kepalaku seakan menampilkan sebuah kejadian yang pernah kualami. Namun saat berusaha mengingatnya, rasanya semakin nyeri. "Mbak? Mbak kenapa?" Aku melepaskan handuk yang membungkus rambut, lalu memijit pelan kepala yang semakin terasa berat. Allah, sakit ini, kenapa harus datang sekarang? "Shill, tolong ambilin obat Mbak di kamar." Keringat dingin mulai muncul di kening. Tanganku terasa kebas, bahkan kaki juga seperti mengambang. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Dering ponsel menginterupsi di sela rasa sakit yang tengah mendera. Dokter Vhir, nama itu berkedip di layar enam inci yang tergeletak di dekat cangkir teh. "Assala—" "Dok, kepalaku—" "Dis, kamu kenapa?" Suara Dokter Vhir terdengar samar, dan penglihatanku mulai pudar. Sakit di kepala semakin menjadi, tanganku lunglai dan benda itu terlepas dari genggaman. "Mbak!" Suara Shilla menjadi satu-satunya yang bisa kudengar sebelum semuanya menjadi gelap. Dingin. Rasa itu memeluk erat diriku. Rasanya seperti ada bongkahan es batu yang diletakkan di atas kepala. Ngilu luar biasa. *** "Dasar keras kepala." Dokter Vhir menjadi orang pertama yang kulihat saat membuka mata. Saat ini aku tengah berada di ruangan yang sangat kukenal. Tempat yang sering kali kutingali semenjak beberapa bulan terakhir. Aku tersenyum menanggapi ucapannya. "Saya keras kepala, karena diajari sama seseorang." Aku berusaha duduk, tapi Dokter Vhir melarang. Dia memberikan isyarat agar aku kembali berbaring. "Saya baik-baik saja, Dok." "Aku tahu, tapi sepertinya jadwal terapimu harus dipercepat." Seorang suster dengan pakaian stelan batik sedang sibuk di sebelahku. Sepertinya dia hendak memasang infus. Cairan berwarna merah muda yang ketika memasuki tubuhku, rasanya dingin sampai ke puncak kepala. Dokter Vhir bilang itu semacam vitamin. Saat jatuh sakit, aku hampir selalu mendapatkan infus seperti itu, yang akan habis selama sekitar dua jam. "Biar saya aja, Sus." Dokter Vhir mengambil alih pekerjaan suster, yang membuat gadis muda di balik masker itu mengerutkan kening. Suster dengan jilbab merah hati itu masih belum menyerahkan peralatan di tangannya, sampai Dokter Vhir mengambil sendiri karena gadis itu malah bengong. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukan Dokter Vhir. "Tidak usah heran. Adisty ini titisan Mak Lampir, kalau suster yang pasang infusnya, yang ada suster menyakiti diri sendiri," ucap dokter Vhir sambil tersenyum meledek ke arahku.  "Sejak kapan Mak Lampir jadi secantik Suzy begini?" Jawabanku membuat suster dengan name tag Nada .S, terlihat tertawa di balik masker. Gadis itu mundur beberapa langkah, membiarkan Dokter Vhir menggantikan tugasnya. Aku memalingkan wajah ketika dokter muda dengan brewok tipis itu mendekatkan jarum infus ke tangan setelah mengoles sesuatu di sana. Sekilas, aku melihatnya seperti menahan tawa, sehingga membuat mata yang tadinya hampir terpejam kembali terbuka. "Dokter menertawakan saya?" Dia tidak menjawab, hanya saja, cara dia memegang tanganku sedikit aneh.  Seakan menyuruhku untuk berpegangan ke lengannya. Eh, benarkah? Seakan mengerti kebingunganku, dia mengedikkan dagu, dengan mata yang mengisyaratkan sebuah perintah. Dengan ragu-ragu, aku berpegangan ke lengannya. Entah kenapa, Dokter Vhir tertawa kecil setelahnya. "Ini bukan pertama kalinya kamu di-infus, tapi kelakuanmu masih saja seperti anak kecil." Aku memejamkan mata, dan tanpa sadar mencengkeram lengannya kuat-kuat. "Lihat kan, Sus, kalau tadi suster yang pasang pasti terluka," ucapnya setelah jarum infus terpasang. Dia menunjukkan lengannya yang ada bekas kuku ke arah suster. Gadis itu seperti hendak tertawa, tapi ditahan. Mungkin merasa tidak sopan kalau menertawakan seorang dokter. "Apa yang kamu pikirkan? Bukannya selamam habis kencan, kenapa sekarang malah sakit? Harusnya orang habis kencan kan bahagia." "Saya," Ingatanku kembali pada obrolan dengan Shilla tadi, saat tiba-tiba semua terasa blank. "Sepertinya saya melupakan sesuatu, Dok. Saat saya berusaha mengingatnya, kepala saya terasa sangat pusing seperti biasa." "Sudah kubilang, jangan terlalu banyak pikiran. Kamu mau semua terapi kita menjadi sia-sia?" Aku memalingkan wajah. Menghindari tatapanku berada satu garis lurus dengan Dokter Vhir. "Saya hanya merasa kalau saya melupakan sesuatu." "Kalau kamu lupa, itu artinya bukan hal penting!" Nada suaranya sedikit meninggi. "Untuk apa kamu menyakiti diri sendiri dengan berusaha mengingatnya? Kamu tahu, kan, apa akibatnya kalau kamu terlalu memaksa otakmu untuk bekerja terlalu keras? Kamu nggak mau, kan, apa yang pernah terjadi terulang lagi hanya karena kamu keras kepala?" Ujung kalimatnya terdengar seperti orang yang putus asa. "Kamu tahu seberapa takutnya aku saat melihatmu seperti tadi? Aku takut kamu akan tidur lebih lama seperti waktu itu. Aku takut kamu tidak akan bangun lagi, dan—" "Saya sudah bangun, Dok." Aku meraih jari telunjuknya yang berada di samping ranjang. "Maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi," ucapku meyakinkan. Kali ini Dokter Vhir membungkukkan badan segingga wajahnya sejajar dengan posisiku yang tiduran. "Dis, aku nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu. Jadi kumohon ... dengarkan perkataanku." Aku menganguk sambil tersenyum kecil. "Baik, Dok. Saya akan mendengarkan apa pun yang Dokter katakan, tapi—" "Tapi?" "Tapi sekarang saya mengantuk. Saya tidur dulu, ya," pungkasku sebelum memejamkan mata. Sejujurnya pikiranku terus berkecamuk tentang sikap orang-orang di sekitarku. Mereka selalu terlihat menyembunyikan banyak hal dariku. Tentang Shilla yang sepertinya sangat membenci Satya, aku juga masih bertanya-tanya apa penyebabnya. *** "Dis? Kamu udah bangun?" Begitu membuka mata, yang pertama kali kutemukan adalah wajah khawatir Satya. "Sat, kamu...." Aku berusaha menyentuh wajahnya. Benarkah yang ada di hadapanku ini Satya? Ke mana Shilla? Kenapa bukan dia yang ada di sini? "Iya, ini aku. Aku di sini, Disty." Tangannya meraih tanganku yang berada di wajah, lalu menggemggamnya erat. Dia berdiri, lalu mencondongkan wajah dan mendaratkan sebuah kecupan di kening. "Maafkan aku," ucapnya parau. Dia masih memegang tanganku yang tidak terpasang jarum infus, dan satu tangannya yang lain mengusap-usap wajah. "Kenapa kamu minta maaf? Ini bukan salahmu. Aku memang sering seperti ini. Lagi pula, setelah tidur lebih lama, aku akan baik-baik saja." "Maafkan aku. Maaf ...." Satya seperti menghindari tatapanku. Dia terlihat sangat sedih, dan matanya berkaca-kaca. "Hei, kenapa kamu terus minta maaf?" Aku meraih tangannya, menggenggam seerat yang aku bisa, dan memintanya untuk benar-benar melihatku. "Kamu nggak perlu minta maaf. Apa pun itu. Dengan kamu berada di sini sekarang, itu sudah lebih dari cukup." Dia tersenyum dengan wajah yang masih terlihat sedih, lalu kembali mendaratkan sebuah kecupan di kening. "Saranghae...." "Nado." Dulu dia sering bercanda dan meledekku dengan kata cinta dalam bahasa Korea, aku ingat itu. Aku bersyukur karena kenangan manis itu masih terjaga dalam ingatanku, saat ada begitu banyak yang seakan melarikan diri dari batok kepala. Saranghae, itu seperti pasword yang selalu dia katakan untuk meminta maaf setelah membuatku kesal. Dulu, saat ada waktu senggang, dia juga dengan suka rela menemaniku nonton drama Korea. Dia duduk di sofa, dan meletakkan kepalaku di pangkuannya sambil sesekali menyuapiku dengan camilan kalau kami tidak bertemu di kafe saat akhir pekan. Ah, ya, saat itu Shilla dan Ibu masih tinggal di Jogja. Aku hanya sendirian di rumah peninggalan almarhum ayah, karena menolak untuk masuk pesantren seperti Shilla setelah lulus sekolah. "Sat, Shilla ke mana?" "Shilla? Aku nggak liat dia dari tadi." Oh, pantesan. Kalau anak itu ada di sini, mungkin saat ini Satya nggak bisa menemuiku. Shilla pasti akan mengusirnya dengan sengit. "Kamu sudah bangun, Dis?" Dokter Vhir masuk bersama seorang perawat. Entah kenapa, Satya segera melepas genggaman tangannya dariku. Ada apa ini? Ke mana perginya kepercayaan diri Satya saat bertemu Dokter Vhir terakhir kali? Kenapa dia seperti ketakutan begitu? "Maaf, ini saatnya pemeriksaan. ORANG YANG TIDAK BERKEPENTINGAN sebaiknya keluar," ucap Dokter Vhir seakan mencibir. "Ak–aku keluar dulu, Dis. Jaga dirimu baik-baik." "Eungh?" Kenapa Satya mendadak gagap? Aku hanya bisa mengerutkan kening melihat perubahan sikapnya yang terasa sangat aneh. "Dia akan baik-baik saja, karena saya bukan HANYA DOKTER, yang akan memeriksa kesehatannya, tapi juga menjaganya." Dokter Vhir menegaskan kata, hanya dokter, seolah mengingatkan Satya pada kejadian tempo hari saat dengan bangga anak itu memperkenalkan diri sebagai pacar, dan meremehkan Dokter Vhir dengan mengatakan 'hanya dokter'. "Ah, ya, jangan lupa untuk mengunjungi pasien lain juga. Karena bukan hanya pasien di ruangan ini yang membutuhkan perhatianmu." Kalimat Dokter Vhir membuat Satya menghentikan langkah. Dia terlihat mengepalkan tangan kuat-kuat seakan menahan emosi. Namun pada akhirnya dia tetap keluar. Dua orang ini, apa sebenarnya yang mereka bicarakan sekarang? Kenapa mereka bertingkah seperti anak kecil? Pasien lain yang butuh perhatian Satya, apa mungkin ada kerabatnya yang juga dirawat di rumah sakit ini? LovRegards, MandisParawansa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN