Bab 2

1340 Kata
"Ish, ini semua gara-gara Belva. Dimana sih dia itu?" gerutu Jeva kembali melanjutkan perjalanannya sembari memfungsikan ponselnya untuk menghubungi Belva. Berdiri di depan lift, perempuan itu menunggu nada tunggu yang membuatnya semakin ingin mengumpat. "Halo." Terdengar jawaban dari Belva begitu telfonya tersambung. "Kau ada dimana? Aku sudah memberitahumu kalau hari ini ada acara penting!" Jeva langsung menghadiahi Belva dengan omelan. Tangan kanan perempuan itu dengan susah payah menekan tombol lift angka 1 karena dia membawa berkas-berkas sedangkan tangan kirinya memegang ponsel yang menempel di telinganya. "Aku masih di jalan. Macet, Jev." Suara Belva di seberang telfon terdengar mengiba. Jeva memutar matanya bosan. "Aku tidak perduli. Semua orang juga tahu kalau Jakarta itu macet, jadi jangan menjadikan alasan klise seperti itu untuk datang terlambat." Jeva kembali mengomel. Perempuan itu masuk ke dalam lift setelah berhasil menekan tombol lift. "Iya, aku salah. Aku bangun kesiangan. Sebantar lagi sampai kantor." Belva akhirnya mengaku jika hari ini bangun kesiangan. "Pak, tolong lebih cepat lagi!" Terdengar teriakan Belva kepada sang supir taksi. Jeva sudah menduga hal ini. Perempuan itu menekan tombol close hingga membuat pintu lift mulai menutup. "Kalau dalam 5 menit kau belum juga sampai di kantor. Aku tidak perduli kal-." "Eh, tunggu!" teriak seseorang saat lift mulai menutup. Teriakan seorang pria menginterupsi omelan Jeva barusan. Jeva menahan omelannya untuk Belva dan segera menekan tombol open. Pintu lift kembali terbuka dan muncullah sosok pria dengan setelan jas rapi. "Thanks," ujar pria itu tersenyum manis yang kemudian dibalas anggukan sopan dari Jeva. Jeva kembali fokus pada perbincangannya dengan Belva. "Aku akan langsung setuju kalau sampai Pak Daska memecatmu. Dia tadi menanyakan keberadaanmu." "Kau serius? Lau kau bilang apa?" tanya Belva terdengar panik. Tamatlah riwayatnya... Jeva memutar matanya jengah. "Aku bilang kau masih harus mengurus beberapa hal untuk acara nanti," sahutnya kemudian. "Terus dia percaya?" tanya Belva setengah berharap. "Sepertinya tidak. Bagaimana bisa dia mempercayai sekretarisnya yang selalu datang terlambat, bahkan saat orang itu masih bekerja selama seminggu. Dia hanya tidak ingin memakimu di depanku, kau harus segera datang atau dia akan benar-benar marah padamu." Jeva mengakhiri panggilannya setelah ultimatum tersebut. Ting. Lift yang mereka naiki tiba di lobby kantor. Jeva mengambil langkah cepat keluar lift dan menunggu taksi yang dia pesan lewat online di depan kantor. Pria yang tadi di dalam lift bersamanya juga ikut keluar, dia menyerahkan kunci mobilnya ke petugas valley dan kemudian menunggu di sebelah Jeva. "Aku ada urusan mendadak. Kita bicara nanti saja, lagipula aku tidak akan kembali lagi ke Amerika jadi kita masih punya banyak waktu." Suara dari pria itu tanpa sengaja terdengar oleh Jeva. "...." "Aku harus bertemu ibuku. Kau tahu sendiri kan kalau ibuku itu sangat cerewet. Aku harus menurutinya kalau ingin selamat dari omelannya yang panjang," ujar pria itu lagi. "...." "Baiklah. Aku pergi dulu," ujar pria itu mengakhiri panggilannya. Sebuah mobil ferari berhenti di depan mereka, itu mobil milik pria itu. Setelah kepergiannya, tak berapa lama taksi pesanan Jeva juga datang. Taksi itu meluncur pergi setelah Jeva masuk ke dalamnya. ****** Daska memasuki ruangannya dengan sedikit kesal, di bukanya jas dan juga sedikit melonggarkan dasi yang membelit lehernya. Ini masih pagi dan perempuan itu sudah membuatnya darah tinggi. Harus berapa lama lagi dia mentolerir kelakuan perempuan itu. "Dia fikir ini kantor milik keluarganya apa! Seenaknya saja jam segini belum ada di kantor," omel Daska menggebu-nggebu. "Awas saja kalau 5 menit lagi dia tidak muncul dihadapanku, aku akan langsung memecatnya," dengkus pria itu mengultimatum. Beruntunglah Belva karena saat dia mengetuk pintu ruangan Daska, waktu yang diberikan Daska masih tersisa 1 menit lagi. Daska bersungut sungut menatap ke arah pintu setelah mendengar ketukan dari arah luar. "Masuk!" perintahnya kemudian. "Permisi, Pak. Saya tad-" "Kau dipecat," potong Daska dengan kejamnya. Sama sekali tidak memberi kesempatan Belva untuk membela diri, sekalipun tadi Jeva sudah memberi alasan terkait keterlambatan sekretarisnya itu. "Bapak bilang apa?" tanya Belva tak mengerti. Ia berdiri dengan nafas tersengal sengal karena lari dari lobbi kantor sampai ke ruangan Daska. Ia bahkan rela naik beberapa lantai lewat tangga darurat karena menunggu lift terlalu lama. "Kau di pecat Nona Belvara Ray Praja," ulang Daska sekali lagi. Pria itu menatap tajam wajah kaget Belva. "Pak, kasih saya kesempatan satu kali lagi," mohon Belva memelas. "Kesempatanmu sudah habis," jawab Daska telak. "Saya janji ini yang terakhir kalinya." Belva kembali memohon. "Janjimu tidak bisa kau tepati." Daska keukeh pada pendiriannya. "Pak, saya mohon." Belva lagi lagi memelas. Ia tidak bisa dipecat begitu saja, ia baru kerja di sini. "Kau tetap akan dipecat. Saya tidak perduli dengan semua alasan dan janji manismu lagi." Daska sepertinya sudah muak dengan semua alasan keterlambatan Belva. Belva bersungut-sungut menatap Daska. Hilang sudah wajah memohonnya dan berganti dengan raut kesal. "Yak, kenapa kau begitu kejam padaku? Aku hanya terlam...." "1 jam," potong Daska membuat Belva menutup mulutnya rapat-rapat tidak jadi mengomel. "Kau terlambat lebih dari 1 jam dan jangan harap aku akan membiarkanmu kali ini. Kau baru saja kehilangan pekerjaanmu, Nona Belvara." Daska tersenyum puas. Belva mempoudkan bibirnya sedih, berjalan mendekati bosnya itu-eh mantan bos- kalau saja usahanya merayu nanti tidak berhasil. "Das, ayolah. Kau tidak ingin kan kalau aku jadi pengangguran. Jangan pecat aku ya ... Atau paling tidak, pindahkan saja aku ke bagian lain. Hehm. Oke." Belva membujuk Daska dengan mulut manisnya, berakting dengan raut sedih dan mata berkaca-kaca. Daska menampilkan senyum lebarnya hingga membuat Belva berharap usahanya berhasil. "Kau pengangguran atau tidak apa peduliku," ujar pria itu dengan kejamnya. "Lagipula...." ".... bekerja sebagai sekretaris saja kau tidak bisa bertanggungjawab, apalagi pekerjaan lain. Aku tidak bisa membiarkanmu menghancurkan perusahaanku," imbuhnya dengan mata menyipit tajam. "Yak! Kau!" "Keluargamu kaya raya, calon suamimu juga kaya. Kau tidak akan kekurangan uang kalaupun kau jadi pengangguran," oceh Daska tak perduli dengan raut kesal Belva. Belva mendengkus kesal. Dia harus mencari cara supaya Daska berubah fikiran. Berfikir sebentar, dia akhirnya menemukan satu cara. Beruntung otaknya yang standar itu bisa berfikir dengan cepat di saat genting seperti ini. "Kenapa dengan senyuman konyolmu itu?" tanya Daska heran karena setelah cukup lama terdiam, Belva justru tersenyum konyol seperti sekarang. Belva tersenyum angkuh. "Kalau kau memecatku sekarang, aku akan meminta Jeva untuk keluar dari kantor ini," ancamnya kemudian. "Heh." Daska mendengkus meremehkan. "Percaya diri sekali kalau Jeva akan menuruti permintaanmu. Dia tidak akan mungkin melakukan itu karena dia membutuhkan pekerjaan ini. Kau fikir dia itu bodoh," ocehnya kemudian. "Aku juga bisa memberinya pekerjaan," oceh Belva menantang. "Aku akan menawarkan pekerjaan yang jauh lebih baik, gaji yang jauh lebih tinggi dan terutama..." Wanita itu diam sejenak. "Kenyamanan dalam bekerja sehingga ia tidak diganggu oleh pria pria bodoh sepertimu," imbuhnya melotot kesal. "Kau!" Daska berdiri dari kursinya karena terlalu kesal. "Kau bahkan tidak tahu perasaan Jeva yang sebenarnya, mungkin saja dia sudah bisa merasakan perasaanku. Dia tidak akan menemukan pria yang mencintainya dengan tulus di perusahaanmu," omelnya menggebu nggebu. "Cih, dia bahkan tidak pernah menganggapmu sebagai 'pria'. Di mata Jeva, kau itu hanya sebatas atasannya," pancing Belva. "Hanya perlu waktu untuk membuatnya mencintaiku," balas Daska sedikit kesal, karena ia menyadari jika Jeva memang selalu bersikap dingin kepadanya. "Waktu? Berapa lama? Sampai kau tua dengan kulit keriput yang menjijikan. Kau mau menunggu selama itu?" tanya Belva tak pernah puas meledek Daska sampai pria itu menarik kembali perintah pemecatannya. "Yak, kau! Aish ... Lupakan! Keputusanku tidak akan berubah. Kau tetap di pecat." Kali ini Daska yang memilih untuk menghindari pertikaian mereka. "Yah, Daska! Ayolah!" rengek Belva menarik-narik lengan jas yang dipakai Daska layaknya anak kecil. "Sana pergi! Jangan sentuh jasku yang harganya jutaan," usir Daska menepis tangan Belva dari lengannya. Belva semakin cemberut. "Baiklah, begini saja. Kita buat satu kesepakatan. Kau tidak boleh memecatku dan sebagai gantinya, aku akan memenuhi semua keinginanmu. Bagaimana? Termasuk menjodohkanmu dengan Jevara. Hehm.? Kau tidak perlu waktu lama untuk membuatnya jatuh cinta padamu, aku akan membantumu, Das. Kau bisa lihat 'kan kalau Jeva mulai terbuka padaku. Hehm?" tawar Belva berharap bahwa bosnya itu akan menerimanya. Ini cara terakhir. Daska menatap wajah cantik itu dengan pandangan menilai, perempuan manja dengan sifat keras kepala itu tidak akan pernah menyerah sebelum tujuannya tercapai. Lagipula penawaran ini cukup menarik, aku akan segera memiliki Jeva. "Baiklah, call" "Ok. Call"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN