Bab 6 - Pertempuran Berujung Pertemuan

2445 Kata
Fillia berjalan dengan hati-hati sambil menatap lurus ke depan. Saat ini ia sedang menggunakan mantra baru ciptaannya yang dapat melihat di kegelapan. Benar-benar tidak ada cahaya sama sekali disini. Cahaya bulan purnama pun tidak berhasil menerobos rimbunnya pepohonan yang memang sangat lebat ini. Beberapa kali bahkan mereka sempat terantuk pohon, tersandung semak belukar atau harus menyelip di antara pohon yang berdempetan. Satu-satunya cahaya yang mereka dapatkan adalah cahaya dari petir kecil yang dibuat oleh Lios diatas telunjuknya. Hal itu ia lakukan agar mereka dapat melihat satu sama lain. Ia tidak berani mengeluarkan petir yang lebih besar lagi karena takut mengenai teman-temannya. Sebenarnya sih, alasan utamanya karena takut akan mengundang makhluk aneh lainnya. Mereka sudah sangat lelah jika harus berhadapan dengan musuh untuk yang ke sekian kalinya dalam beberapa jam terakhir . Lagi pula hal itu juga akan sangat menguras tenaganya. Ditambah lagi mereka sudah berjalan cukup lama menyusuri hutan, tidak tahu arah tujuan. Dua jam berikutnya mereka masih tetap seperti itu. Sai memperhatikan kedua temannya yang mulai pucat juga sedikit berkeringat. Ia tahu mereka pasti sangat kelelahan karena terus menerus mengeluarkan kemampuan mereka. Elemen yang diciptakan sangat bergantung pada energi dari makhluk tersebut. Jika energi itu terus-terusan keluar walaupun cuma sedikit, perlahan pun mereka akan kehabisan energi. Dan jika itu terjadi, mereka tidak bisa lagi mengeluarkan elemen atau mantra sihir. Bahkan bisa pingsan jika terlalu dipaksakan. “Teman-teman,” kata Sai dengan raut cemas. “Kurasa sebaiknya kita istirahat dulu. Wajah kalian pucat sekali.” Fillia dan Lios menatap Sai layu. Ya, mereka memang terlihat sangat lelah. “Ya, lagi pula hari sudah mulai pagi. Dan udara semakin terasa sangat menusuk.” Lios membenarkan. “Baiklah,” timpal Fillia. “Aku akan membuat api unggun.” Mendengar itu, Lios dan Sai saling bertatapan penuh maksud. Kemudian mereka berkata serempak. “Jangan!” Fillia merengut sebal. “Kalian kompak sekali. Tenanglah, aku akan berhati-hati.” “Tidak, kau akan membakar kami nanti,” jawab Lios spontan. “Ya, Lios benar. Aku tidak mau jadi hidangan sarapan untukmu!” seru Sai setuju. “Hei, kalian ini tenanglah!” ekspresi Fillia tampak terlihat masam. “Aku akan hati-hati, tidak akan ceroboh. Menjauh dariku jika kalian takut!” “Baiklah!” jawab Lios dan Sai serempak. Mereka kemudian memperhatikan gerakan Fillia was-was. Telapak tangannya terbentang menghadap ke atas. Matanya terpejam. Kemudian, percik-percik api tidak beraturan mulai muncul dari telapak tangannya. Fillia membuka matanya lalu ia mengarahkan api itu pada tumpukan ranting yang sempat mereka susun sebelum Fillia membuat api. Tapi ternyata, sebelum api itu menyentuh tumpukan ranting, api itu malah memantul kesana kemari seperti bola Ping-pong. Sai dan Lios berusaha menghindari bola api itu. Mereka loncat-loncatan kesana-kemari, seperti menghindari kecoak terbang. “Sai, lindungi aku!” seru Lios takut. “Jangan sampai api itu mengenai sayapku. Tamat sudah riwayatku jika itu terjadi.” Sai mengangguk. Ia melindungi tubuh Lios dengan tubuhnya sendiri. “Fillia, hentikan api itu!” seru Sai berteriak. “Aku tidak tahu caranya!” jawab Fillia panik. “Air!” Lios berteriak sambil terus melindungi sayapnya di punggung Sai. Sayap peri seperti jantung bagi kalangannya. Jika sudah rusak, maka mereka akan kehilangan kekuatan juga nyawanya dengan perlahan. Oleh karena itu Lios dan Sai berusaha menjaga sayap tersebut. Berbeda dengan elf, jika sayap mereka rusak itu bukanlah masalah yang cukup besar. Mereka akan tetap hidup walaupun tidak bisa terbang menuju rumah bulat yang mengapung di tengah udara. Fillia segera mengeluarkan elemen airnya. Ia berusaha mengarahkan air itu pada api yang terus memantul-mantul dengan cepat. Ketika sedikit lagi api itu terkena oleh airnya, terlambat! Api itu sudah lebih dulu mengenai lengan Sai. Untungnya tidak terlalu parah karena Fillia langsung menyiram api tersebut dengan airnya. Tapi tetap saja, hal itu tidak menghentikan ringisan Sai. “Sai!” teriaknya.  Fillia segera menghampiri Sai dengan cemas. Wajahnya sangat memancarkan rasa bersalah padanya. Ia melihat luka bakar pada lengan Sai yang memang tidak terlalu parah. Tapi tetap saja rasanya pasti nyeri. “Sai, maafkan aku,” katanya penuh sesal. “Kau ini!” Sai tampak marah. “Sudah kubilang jangan lakukan itu!” “Ta-tapi biasanya tidak terjadi seperti ini walaupun gagal,” jawab Fillia tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun sepertinya Sai tidak menyadarinya. “Lihat dirimu!” seru Sai lagi, masih marah. “Sedari tadi kau tidak melepaskan mantramu. Wajahmu sangat pucat! Kau tidak punya cukup tenaga untuk membuat dua mantra sekaligus, bodoh!” Sai berhenti sesaat kemudian melanjutkan dengan lebih lembut. “Untung saja api itu hanya mengenai aku. Bagaimana jika mengenai sayap Lios atau dirimu, Fillia?! Apa kau tidak berpikir bagaimana sedihnya aku ketika hal itu terjadi, huh?” “Maaf,” jawab Fillia bergetar menahan tangis. “Maafkan aku, Sai. Aku menyesal.” “Hei,” bisik Lios dari belakang Sai. “Kau melukai perasaannya. Lihat, dia menangis.” “Sungguh?” Sai berbisik. Ia kemudian menatap Fillia yang tertunduk. Diangkatnya dagu Fillia dengan lembut, lalu berkata, “Apa aku menyakitimu? Maafkan aku. Sudah, jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa. Aku marah bukan karena kecerobohanmu. Tapi karena aku takut sekali jika api itu mengenai kau atau Lios.” Fillia mendongak menatap Sai malu. Air matanya sudah jatuh sedari tadi. “Lagi pula, kau ini penyihir air. Tentu tidak akan mudah membuat mantra elemen yang berlawanan dengan kekuatanmu. Apa kau sebodoh itu?” lanjutnya. Mendengar itu Fillia langsung merengut sebal. “Sudah, ya, jangan menangis lagi,” kata Sai masih berusaha menenangkan. “Kau ini tidak pantas menangis. Kau ‘kan bukan perempuan.” Mendengar itu, Fillia langsung meninju wajah Sai pelan. “Biar bagaimana pun juga aku ini seorang perempuan. Hanya saja, aku tidak seperti kebanyakan dari mereka yang terlalu menye-menye, lemah. Aku ini wanita paling kuat dan berani di seluruh penjuru Negeri Fanworld.” “Ya, karena itulah kubilang kau bukan perempuan.” Kini, bola mata Fillia melotot sempurna. Ia sudah lupa kalau tadi ia menangis. Rasanya saat ini ia ingin sekali meninju wajah Sai dengan keras. Sayangnya Lios sudah melerai mereka. “Sudah, sudah. Kalian ini,” ucap Lios menengahi. “Biar aku saja yang akan membuat api unggun dengan petirku. Sebaiknya kita istirahat. Sepertinya, siang hari tidak terlalu berbahaya dibandingkan malam hari. Kita akan istirahat sampai menjelang siang nanti.”  “Baiklah,” jawab mereka serempak. ☆☆☆ Sementara itu disisi lain hutan, Inna memperhatikan Drake lamat-lamat. Telinga kecilnya bergerak-gerak. Apa makhluk itu datang lagi? Batinnya cemas.Drake memang masih memejamkan matanya. Tapi sepertinya memang ada sesuatu di dekat sini. Inna menatap sekelilingnya dengan cemas. Hari memang terlihat masih gelap. Tapi Inna tahu bahwa saat ini sudah hampir siang. Dark Forest memang selalu terlihat malam karena rimbunnya pepohonan yang memadati langit-langit hutan sehingga tidak menyisakan celah untuk diterobos oleh cahaya matahari. Seharusnya, Inna berangkat ke kota pagi-pagi buta. Tapi entah kenapa ia tidak tega meninggalkan Drake juga koloninya di sini. Ia sangat takut makhluk yang kemarin berhasil membunuh dua ekor naga dengan mudah, datang lagi untuk mencari para naga yang masih tersisa. Terlebih saat ini Inna melihat Drake yang sepertinya mendengar sesuatu. Terlihat dari telinganya yang terus bergerak-gerak sedari tadi walaupun ia masih memejamkan matanya. Kemudian, Drake mulai menggeliat. Sepertinya ia akan segera terjaga. Dan benar saja, kelopak matanya mulai menunjukkan bola matanya yang berwarna kuning kecokelatan. “Drake, apa kau mendengar sesuatu?” tanyanya. “Sepertinya tidurmu tidak nyenyak.” Drake menggeram pelan. Tanda memberi jawaban. “Tiga suara katamu?!” seru Inna terkaget. “Itu berarti ada tiga orang? Apa menurutmu mereka komplotan orang yang kemarin menyerang kita?” Drake kembali memberi jawaban. “Ya, aku pun tidak tahu. Tapi kita harus tetap waspada. Kita tidak usah ke sana. Kondisimu benar-benar mengkhawatirkan, Drake. Karena itu aku ragu untuk meninggalkanmu. Aku akan menjaga kalian disini. Jika mereka datang, kita serang. Tapi jika mereka tidak mengganggu, biarkan mereka lewat.” perintah Inna pada Drake dan naga lainnya. Satu jam berikutnya mereka terus mengawasi sekitar sarang dengan hati-hati. Sampai suara-suara ranting pohon yang terinjak mulai terdengar di telinga Inna. Ia berdiri lalu menaiki punggung Drake dengan cepat. Ia juga telah menyalurkan kekuatannya pada semua naga yang ada di sarang sehingga mereka telah bertransformasi menjadi naga api. Kemudian, sosok itu mulai terlihat di penglihatan Inna. Mereka ada tiga, dua orang lelaki dan seorang perempuan. Sepertinya  ketiga makhluk itu berbeda jenis. Pria berambut pirang itu sepertinya adalah peri karena memiliki sayap. Yang bertelinga runcing, pasti elf. Dan yang wanita, dia kelihatan sepertiku. Mungkin dia penyihir atau rakyat biasa. Batin Inna. Drake dan naga lainnya meraung-raung marah. Sementara ketiga orang tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Fillia, Lios dan Sai terbelalak kaget karena tidak menyadari mereka telah memasuki sarang naga. “Oh, Ow,” kata Sai tertahan. “Sepertinya kita telah memasuki sarang naga.” “Ini buruk,” sahut Fillia cemas. “Pilih kabur atau serang?” tanya Lios menimpali. “Kabur pun sepertinya percuma. Mereka akan dengan mudah melalui kita,” jawab Sai. “Kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Mari kita serang!” seru Fillia dengan nada terpaksa. Mereka kemudian mulai menyerang naga-naga tersebut dengan kekuatan masing-masing. Naga-naga itu pun mulai menyerang balik dengan menyemburkan api-api yang membuat sarang mereka terbakar. Tentu saja Inna yang menyalurkan kekuatannya agar naga-naga itu dapat menyerang mereka. Inna tidak tahu kenapa, sepertinya Drake agak merasa ragu untuk menyerang mereka. Telinganya terus bergerak-gerak. Itu tandanya mereka sedang melakukan percakapan. Dan Drake berusaha mendengar percakapan mereka. Inna bertanya pada Drake, “Apa yang terjadi? Mengapa kau terlihat ragu? Apa kau tidak kuat?” Drake meraung-raung sambil menggelengkan leher panjangnya. Tanda ia tidak setuju dengan Inna. “Tidak apa jika kau tidak kuat, Drake. Biarkan mereka yang menyerang. Kita tetap disini.” Sementara itu, Fillia terus berusaha menghindari serangan naga-naga itu dengan menghantamkan air pada semburan apinya. Sai membantu dengan mengarahkan sulur-sulur besar untuk mengikat kaki para naga agar tidak dapat bergerak bebas. Sedangkan Lios sedari tadi yang terus melakukan serangan balik kepada para naga yang mendekat. Lios tidak menyerang naga yang tidak menyerang mereka. Lios hanya membalas serangan jika naga tersebut membuat Fillia kewalahan. Ia sebenarnya tidak tega menghantamkan ribuan volt petir pada naga itu. Mereka memang tidak mati seketika tapi itu cukup menyakiti mereka. “Sepertinya ada yang aneh!” teriak Sai sambil terus mengerahkan tenaganya untuk memperkuat sulur akarnya. “Ada apa, Sai?” balas Lios berteriak juga. “Naga api seharusnya tidak berbentuk seperti ini,” jawab Sai. “Ini aneh.” Fillia tidak menggubris ucapan Sai. Ia lebih tertarik pada naga yang ukurannya lebih besar dari mereka, yang hanya bergeming di ujung sana. Di atas naga itu seperti ada api yang berkobar-kobar. Fillia segera menghampiri naga itu dengan cara mengeluarkan gelombang air, lalu berseluncur di atasnya.  Saat ini ia berada cukup dekat dengan naga yang menurutnya adalah pemimpin. Ia melihat mahkota api itu sedikit bergerak-gerak. Itu gerakan yang tidak wajar, batinnya. Ia bergerak lebih dekat lagi ke arah naga tersebut. Dan, ya! Ia menangkap sosok di dalam api itu dengan mantra penglihatan tajamnya. “Siapa kau?!” seru Fillia berani. Naga itu, Drake meraung marah. Sementara Inna yang berada di atasnya menyalurkan energi pada Drake untuk menyerang Fillia. Dan yang diserang membuat gelombang besar dari air untuk melindungi dirinya dari semburan api sang naga. “Aku tidak bertanya padamu, naga jelek!” seru Fillia lagi, “melainkan padamu, gadis api!” Inna terkejut. Ia tidak menyangka akan dikenali oleh makhluk yang ia tidak tahu baik atau tidak. Namun, ia tetap terus menyalurkan energinya pada Drake yang terus menyemburkan api dari mulut besarnya. Fillia mulai kewalahan. Ia menengok ke arah Lios dan Sai yang saat ini juga sudah mulai kewalahan menghadapi delapan ekor naga. Ia sempat menangkap beberapa luka bakar yang menempel di tubuh keduanya. Ia tidak bisa meminta tolong pada mereka. Fillia kemudian mengerahkan tenaganya untuk membuat tameng air. Ia juga membuat lalu menghantarkan tameng yang ukurannya lebih kecil ke arah sayap Lios yang hampir saja di sembur api oleh salah satu naga yang menyerangnya. Ia kemudian menatap mahkota api dari naga yang ada di hadapannya itu lagi. Ia berseru, “Kumohon hentikan! Kami tidak berniat jahat!” Inna tertegun. Kekuatan mereka berbeda dengan yang kemarin menyerang Drake.  Mereka juga terlihat lebih lemah. Apa mereka cuma pendatang? Batinnya. Tapi bagaimana aku dapat mempercayai kalian jika bangsa kalian sendiri telah membunuh dua ekor naga sekaligus? “Aku tahu kau sama sepertiku,” kata Fillia lagi. “Aku bisa melihatmu karena aku menggunakan mantra sihir.” Inna masih tetap bergeming. Ia ingin bertanya kepada Drake apakah ia harus mempercayainya atau tidak. Tapi tentu saja itu hanya akan membuatnya lebih diketahui lagi. Akhirnya Inna memutuskan untuk terus menyerangnya. Ia tidak mau mengambil risiko untuk kehilangan Drake. “Argh!” Fillia mengerang. Telapak tangannya terbakar akibat serangan dadakan dari Drake. Lios yang melihat itu, segera terbang cepat menghampiri Fillia. Detik berikutnya, Lios menghantarkan petir besar ke arah sayap kiri Drake, tepat di bagian yang telah menghitam. Drake meraung keras memekakkan telinga. Sai menoleh. Ia juga berlari menuju Fillia. Ia melihat telapak tangan Fillia yang cukup parah. Ia segera menghampirinya lalu menggenggam tangannya erat. Dan sekejap, tangan Fillia kembali ke sedia kala. Tanpa adanya luka bakar sedikit pun. “Terima kasih, Sai.” “Kau membuatku panik, Fillia,” ucap Sai jujur. Sementara itu, Lios masih terus menyerang Drake dengan petirnya yang dahsyat. Membuat Drake terus-terusan mengerang kesakitan. “Hentikan, Lios! Jangan sakiti dia!” seru Fillia cepat ketika melihat Lios yang terus-terusan menyerang Drake. "Kau!” seru Fillia kembali menatap Inna berani. “Keluarlah! Kumohon tunjukkan dirimu. Aku tidak akan menyakiti kalian. Sungguh!” Fillia berhenti sejenak. Ia menatap lamat-lamat dari ujung mahkota sang naga yang tidak lain dan tidak bukan adalah Inna, sampai pada sayap kiri Drake yang terlihat menghitam. Matanya dibuat melotot melihat luka yang baginya sangat mengerikan itu. Apa itu efek dari serangan petir Lios? Buruk sekali.  Batinnya. Tapi kemudian ia segera kembali fokus pada Inna. “Lihat, sepertinya naga ini memiliki luka yang cukup parah. Temanku bisa membatu mengobatinya,” sambungnya. Inna tertegun. Elf itu!  Apa dia elf keturunan murni yang dapat mengobati Drake? Apa aku harus mempercayai mereka? Batinnya lagi yang masih tampak ragu dan cemas. Sementara itu, Drake terus mengerang kesakitan. Naga yang lain mulai berhamburan menghampiri mereka dan menyerang kembali. Sai dan Lios pun mulai mendapat luka bakar lagi di sekujur tubuhnya. Kemudian, seekor naga seperti hendak menyerang Sai. Inna menatap cemas pada Sai. Ia adalah satu-satunya harapan untuk menyembuhkan Drake. Jika ia terluka maka Drake tidak akan sembuh. “Berhenti!” seru Inna lantang menghentikan semburan naga itu. Seketika tubuhnya sudah kembali lagi seperti semula. “Jangan sakiti mereka.” Lios dan Sai terbelalak tidak percaya menatap Inna. Sementara Fillia tersenyum lebar. Tentu saja, ia merasa bangga karena mantranya ternyata benar-benar berfungsi dengan baik. Bahkan lebih baik dari dugaannya. ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN