Bab 2 - Peri Tampan

1382 Kata
Di sebuah rumah bulat berwarna biru dengan ukiran garis-garis zig-zag seperti lambang petir berwarna biru tua, terlihat seorang pemuda peri dengan sayap pipih berwarna biru transparan yang sedang menulis sesuatu pada selembar daun kering. Setelah selesai dengan tulisannya itu, ia segera menyelimuti daun tersebut dengan cahaya berwarna biru yang berasal dari energi elemennya. Lalu dalam sekejap daun kering berisi tulisan yang entah apa itu menghilang diikuti dengan pendar biru bercahaya. Jangan heran dengan apa yang dilakukannya. Jika kau bertanya apa kaum peri sepertinya bisa melakukan hal yang seperti itu, jawabannya tentu saja tidak. Daun kering tersebut sudah di mantrai oleh seorang gadis penyihir yang memang ahli melakukan itu. Gunanya, tentu saja untuk mengirim pesan rahasia dari jarak jauh. Pemuda dengan rambut pirang terang dan bertubuh tegap berisi itu kemudian terbang menuju pintu dan memutuskan untuk keluar rumah. Ia mengendalikan sayapnya untuk terbang ke sisi barat menuju Desa Elf. Ya, setiap makhluk di Negeri Fanworld memang hidup berdampingan. Bahkan banyak dari mereka yang menikah dengan gen yang berbeda. Itu tidak akan merusak gen selanjutnya. Keturunan mereka akan terlahir sebagai salah satu dari jenis gen mereka. Bahkan elemen pun begitu. Terkadang memang mereka akan terlahir dengan elemen yang dihasilkan dari perpaduan antara elemen ayah dan ibunya, lalu menimbulkan kekuatan baru. Tapi itu jarang sekali terjadi. Sayangnya, hal itu terjadi pada pemuda peri yang sepanjang jalan menjadi pusat perhatian ini. Ia tercipta dari gen ibunya yang seorang penyihir berelemen cahaya dan ayahnya yang seorang peri berelemen udara. Ia dilahirkan dengan gen peri seperti ayahnya tapi dengan kekuatan yang tercipta dari perpaduan antara elemen ayah dan ibunya. Petir, itulah elemen yang dikuasainya. Menakjubkan memang tapi ketahuilah, kekuatannya itu hampir membuatnya disingkirkan dari Negeri Fanworld karena dianggap berbahaya oleh hampir seluruh penduduk. Saat itu umurnya masih tiga tahun dan tidak sengaja mengeluarkan petir secara sembarang. Untung saja saat itu ada Raja Edward yang kebetulan sedang berkunjung dan melihat keributan yang telah terjadi di kota. Ia segera menengahi keadaan buruk yang terjadi diantara rakyatnya. “Tenang, rakyatku,” katanya dengan penuh wibawa pada saat itu. “Kekuatannya tidak akan terlalu berbahaya. Aku yang akan turun tangan untuk melatihnya di kemudian hari.” “Tapi Yang Mulia,” sergah seorang lelaki elf. “kekuatannya mungkin akan merusak keindahan Negeri Fanworld. Bukankah petir sama berbahayanya dengan api?” “Tidak, jika dikendalikan dengan baik. Api dan petir adalah dua kekuatan dahsyat memang. Tapi keduanya sangat berbeda. Api itu elemen milik bangsa Iblis. Wajar jika kita harus menyingkirkannya. Sementara petir, itu hanya dua elemen yang kebetulan bergabung menjadi satu, menghasilkan energi yang cukup dahsyat. Tapi elemen petir tidak akan pernah bisa menghancurkan bangsa kita. Lagi pula, bukankan kalian tahu bahwa kekuatanku adalah petir? Jika kalian bisa menerimaku mengapa tidak dengan anak ini? Apakah karena aku adalah pangeran? Atau keturunan kerajaan? Ayahku pernah mengajarkan untuk tidak membeda-bedakan kasta setiap orang. Baik itu pangeran atau gelandangan sekalipun, setiap orang harus diperlakukan secara adil. Termasuk anak ini. Jika kalian pernah menerima kekuatanku, maka kalian juga harus melakukan hal yang sama pada anak ini. Aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada alam yang kalian cintai ini,” tutur Raja Edward panjang. Seketika semua warga tersadar akan kebenaran dari ucapan Raja Edward. Mereka akhirnya memutuskan untuk memberi kesempatan pada anak itu. Jika saja tidak ada Raja Edward yang datang, mungkin pemuda peri yang memiliki paras rupawan ini tidak akan tumbuh hingga sebesar ini. Ia dan keluarga tentu berhutang budi dengan Raja Edward. Nah, hal itu juga jadi salah satu alasan mengapa elemen api dilarang di Negeri Fanworld. Bahkan petir pun hampir saja dilarang jika saja sang raja sendiri bukan salah satu pemilik elemen tersebut. Hal itu karena api dan petir sejatinya memiliki sifat yang sama. Yaitu penghancur. Rakyat Fanworld tidak ingin alam yang selama ini dijaga dan diolah dengan susah payah oleh mereka hancur hanya dalam hitungan detik jika terkena api atau petir. Alasan yang tidak efisien memang. Tapi itulah rakyat Fanworld. Mereka sangat mencintai alam. Baik, kembali lagi ke waktu saat ini. Pemuda peri itu telah sampai di Desa Elf. Tidak terlalu jauh. Hanya berjarak sepuluh kilometer dari Desa Peri. Ia melihat pemandangan sekitar. Memang bukan pertama kali ia mengunjungi Desa Elf. Tapi matanya selalu berbinar ketika melihat pemandangan Desa Elf yang sangat menakjubkan. Bangunan disini memang sama seperti di Desa Peri. Rumah berbentuk bulat dengan berbagai warna yang tergantung di tengah udara. Tapi bedanya, rumah-rumah disini kebanyakan dihiasi oleh tanaman beraneka ragam. Juga banyak sekali pohon yang menjulang tinggi dan bangunan kayu yang ada diatasnya. Ada beberapa dari mereka yang terlahir tidak memiliki sayap, dan membangun rumah tersebut untuk dijadikan singgasana. Itulah daya tarik Desa Elf. Karena sejatinya kaum elf adalah pengendali alam. Mereka sangat pandai membuat pemandangan mempesona dari alam sekitar. Pemuda peri itu berhenti di depan sebuah rumah bulat berwarna hijau dengan sulur-sulur serta berbagai jenis bunga yang menghiasi rumah tersebut. Ia mengetuk pintunya pelan. Tak lama, si pemilik rumah membukakan pintu dan tersenyum sumringah saat melihat siapa yang datang. Pemuda peri itu menatap jengkel si pemuda elf yang memiliki rambut putih sebahu itu. Mata hijaunya tampak berbinar melihat kehadiran seseorang yang ditunggunya sedari tadi. Pemuda peri itu berkata, “Bisakah kau tidak bereaksi seperti itu? Kau terlihat menjijikkan. Sama seperti gadis-gadis yang sering kutemui di jalan.” “Kau tenang saja,” jawab pemuda elf itu. “Aku tidak akan jatuh cinta padamu, Lios. Aku ini masih normal. Dan kau tentu tahu siapa orang yang menjadi pujaan hatiku saat ini.” Lios memutar bola matanya sebal. “Aku yakin, jika Fillia melihat reaksimu seperti itu terhadapku, ia tidak akan melirikmu sedikit pun, Sai.” Pemuda elf itu, Sai, seketika melipat wajahnya sebal. “Bisakah kau kecilkan suaramu? Bagaimana jika ada orang dengar nanti?” “Memangnya kenapa? Bukankah bagus jika ada orang yang mendengar kemudian berita akan mengalir dari mulut ke mulut hingga sampai pada telinga Fillia. Kau tidak perlu repot-repot untuk mengutarakannya secara langsung, bukan?” “Tentu saja itu tidak bagus!” seru Sai semakin jengkel. “Bahkan sebelum itu sampai pada Fillia, aku akan terkenal di Fanworld dengan julukan lelaki elf bodoh yang bisa-bisanya jatuh hati pada gadis se-ekstrem Fillia.” “Pffft ....” Lios menahan tawanya. “Berhenti mengejekku, Bodoh!” seru Sai kesal. “Kau ini sahabatku atau bukan, sih?” Seketika tawa Lios meledak melihat ekspresi sahabat elf-nya itu, sambil membayangkan ia di tertawai oleh orang jika itu terjadi. Ya, Fillia memang amat dikenal oleh rakyat Fanworld. Jika Lios terkenal sebagai peri berparas tampan yang disukai banyak gadis dari semua kalangan, Fillia terkenal karena kecerobohannya dalam membuat mantra-mantra aneh. Terkadang ia membuat mantra yang membahayakan dirinya sendiri juga orang lain. Ia memang seorang gadis tapi tidak ada yang pernah menyebutnya demikian karena ia tidak pernah mengurus dirinya sendiri. Penampilannya acak-acakan. Tingkahnya juga lebih mirip lelaki dibandingkan wanita. Ia juga tidak pernah suka bergaul dengan wanita. Karena baginya mereka sangat membosankan hanya menghabiskan waktu percuma untuk menatap diri di depan cermin. Dan satu lagi, Fillia adalah petualang. Ia tidak pernah takut dengan apa pun. Itulah mengapa para pemuda lebih memilih menjadi temannya dibandingkan dengan kekasih. Ia benar-benar tidak pantas disebut wanita. Tapi itu pula yang menjadi daya tarik tersendiri dari sosok Fillia bagi Sai. “Baiklah. Maafkan aku, Sai,” ucap Lios tulus saat berhenti tertawa. “Sudahlah,” jawab Sai acuh. “Bagaimana? Apa kau sudah mengirim pesan padanya?” “Tentu,” jawab Lios serius. “Aku sudah periksa keadaan. Kita akan aman jika berangkat besok lusa pada malam hari. Para raksasa dan penjaga perbatasan tidak akan ada di tempat itu karena rakyat akan disibukkan oleh upacara kematian Ratu Layla dan sang puteri untuk yang ke enam belas tahun.” “Baikalah kalau begitu. Fillia pasti akan senang mendengar kabar itu.” “Tapi, Sai,” ucap Lios. Terdengar nada khawatir pada ucapannya. “Bagaimana jika Fillia tidak mendapat izin dari ayahnya? Dan bagaimana dengan rumor itu?” “Soal diberi izin atau tidak, kau tentu tahu Fillia akan tetap pergi. Tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya,” jawab Sai serius. “Tapi soal rumor itu ... aku juga merasa takut, Lios. Semoga saja Fillia menemukan sesuatu untuk sedikit menghalangi naga-naga itu agar tidak menyerang kita.” “Ya semoga saja.” “Dari pada itu,” kata Sai. “Kita harus ingat tujuan kita untuk menemukan para penghianat kerajaan. Hanya kalian berdua yang mempercayai pendengaranku. Dan hanya kita bertiga yang dapat memecahkan misteri ini sebelum kehancuran datang.” “Kau benar, Sai,” jawab Lios dengan sedikit amarah. “Aku pasti akan membantumu menemukan mereka. Dan aku akan mengungkap siapa pembunuh orang tuaku, juga apa motif mereka melakukannya.” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN