Arjuna menyisir rambutnya di depan cermin. Sepulang sekolah tadi ia bergegas untuk mandi sore. Lalu mengenakan jeans hitam terbaiknya dan kemeja slimfit berwarna biru. Arjuna menggulung kemejanya sampai siku. Memakai jam tangan kesayangannya lalu menyemprotkan parfum.
"Mau kemana lo kak rapi banget?" Darius bertanya.
"Mau tau aja lo."
"Duh keponakan tante mau kencan ya wangi banget?"
"Ketemu someone special tan. Juna jalan dulu ya."
Juna menggunakan motor kesayangannya untuk pergi mengunjungi Ayu padahal jarak rumah tantenya ke rumah Ayu tidak jauh. Arjuna tidak ingin berkeringat saat bertemu Ayu.
"Sore tan, Ayunya ada?"
"Ada. Masuk!"Sarah menjawab dingin. Sarah lalu memanggil Ayu ke kamarnya.
Ayu turun dari kamarnya di lantai dua dan berjalan menuju ruang tamu. Dilihatnya Arjuna sudah duduk manis di salah satu sofa. Di hadapan Arjuna, Sarah duduk sambil membaca majalah.
"Ada apa kak Juna ke sini?"
"Pengen ketemu kamu, kangen."
Sarah menatap Arjuna, horor. Arjuna menunduk.
Mana enak ngobrol kalau ada satpamnya gini. Batin Arjuna
"Duduk dulu Yu, aku pengen ngobrol sebentar aja."
Ayu menatap ke arah ibunya. Sarah mengangguk tanda ia boleh duduk. Lalu Sarah menepuk bagian kosong sofa di sebelahnya.
"Ibu, lampu kamal Hanif mati." Hanif tiba-tiba datang.
Belum juga ngobrol udah ada gangguan. Gerutu Arjuna dalam hati.
"Betulinnya tunggu daddy pulang ya, ibu kan nggak bisa naik-naik tangga."
"Yah, nanti gelap dong kamal Hanif. Daddy kan pulangnya malem"
"Kak Juna aja yang betulin, gimana? Kak Juna bisa kok kalau cuma betulin lampu." Juna berinisiatif.
"Kak Juna bisa?" Tanya Hanif. Juna mengangguk.
"Ayo!" Hanif menarik Juna menuju kamarnya di lantai 2.
Juna mengikuti arah Hanif berjalan. Ia memasuki sebuah kamar dengan interior khas anak-anak. Sarah dan Ayu mengekori mereka dari belakang. Hana sedang duduk dan bermain di dekat ranjangnya.
"Tuh lampunya" kata Hanif.
"Wah lampunya tinggi, ada tangga nggak?"
"Ada di halaman belakang" kata Hana
"Yaudah kak Juna ke bawah dulu."
Arjuna turun menuju halaman belakang mengambil tangga lalu kembali naik ke kamar sambil membawa tangga.
Demi Ayu biar deh cape juga. Arjuna menyemangati diri.
Sampai di kamar Arjuna memasang tangga tepat di bawah lampu. Ayu memegang bagian tangga agar tidak goyang saat dinaiki Arjuna.
"Lampunya putus, ada lampu cadangan?" Arjuna menatap ke bawah tepat ke wajah Ayu.
Kak Juna ganteng. Sejenak Ayu terpaku melihat Arjuna.
"Ada lampu cadangan nggak Yu?"
"Ada kak ada, Ayu ambil dulu"
Ayu mengambil lampu cadangan di ruang lain lalu menyerahkannya pada Arjuna. Arjuna memasang lampu.
"Coba dinyalain"
Klik!
Lampu menyala terang.
"Alhamdulillah, makasih ya kak Juna." kata Hanif.
Kok aku jadi deg-degan ya liat kak Juna. Benak Ayu.
Selesai memperbaiki lampu Arjuna kembali membawa tangga ke halaman belakang. Lalu duduk kembali di ruang tamu. Tidak lama Ayu datang membawa segelas es teh manis.
"Diminum kak, pasti haus" kata Ayu sambil menunduk menahan detak jantungnya yang tak menentu.
Arjuna menenggak habis es teh manis itu. Arjuna memperhatikan Ayu yang sepertinya jadi salah tingkah lalu ia tersenyum.
"Makasih ya Jun sudah bantu betulin lampu, sudah hampir Maghrib nih sebaiknya kamu pulang." Sarah berkata.
"Kalau gitu, saya pamit pulang tante. Saya pulang dulu ya Yu, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Sarah dan Ayu menjawab.
Ayu melepas kepergian Arjuna sembari tersenyum dan Arjuna melihat itu. Walau sore itu Arjuna tidak sempat mengobrol dengan Ayu tetapi senyum yang diberikan Ayu sudah cukup baginya.
■□■□■
Siang itu Ayu pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. Ia terpaksa pulang cepat karena perutnya terasa melilit.
"Sakit banget bu perut bawah Ayu"
"Ibu oles minyak kayu putih ya, terus kamu minum air anget. Kalau nanti sore belum reda juga kita ke dokter ya."
Ayu mengangguk lalu merebahkan dirinya di kasur. Perutnya kembali terasa melilit. Ayu bangkit menuju kamar mandi.
"Aaa... ibu!" Ayu berteriak memanggil ibunya.
"Ada apa Yu?"
"Celana dalam Ayu ada darahnya"
"Coba ibu lihat"
"Kamu haid Yu, inget nggak kita pernah membahas masalah haid?"
"Iya bu"
"Anak ibu udah gadis sekarang" Sarah mengelus kepala Ayu.
"Ibu ambil pembalut dulu ya."
Sarah mengajari Ayu cara menggunakan pembalut, dan mencuci noda darah haid.
"Sekarang kamu sudah baligh, semua kewajiban dalam Islam sudah jadi tanggung jawab kamu sendiri. Kamu nggak boleh ninggalin sholat 5 waktu dan puasa Ramadhan, kalau pas Ramadhan kamu tidak puasa karena haid maka harus kamu bayar di hari lain. Jaga pergaulan kamu baik-baik."
"Iya bu"
"Kalau dulu kamu belum merasa tertarik dengan lawan jenis, sekarang kamu mungkin akan merasakan rasa suka dengan lawan jenis. Ibu minta kamu terbuka, cerita sama ibu terutama soal pergaulan kamu. Kalau ada yang suka kamu atau kamu suka sama seseorang cerita sama ibu ya. Selamat ya Ayu kamu sekarang sudah jadi perempuan beneran" Sarah memeluk Ayu.
"Perut kamu masih sakit?"
"Masih"
"Ibu buatin jamu kunyit asem ya, biar perutmu rada enakan."
Sarah berjalan menuju ke dapur. Hana dan Hani datang ke kamar Ayu setelah sebelumnya juga mendengar teriakan Ayu. Ayu menjelaskan sebisanya pada Hana dan Hanif perihal sakitnya. Lalu keduanya kembali bermain di halaman.
Di sore hari Arjuna sudah berdandan rapi. Hari ini ia ingin kembali mengunjungi Ayu setelah pekan lalu gagal mengobrol dengan Ayu.
"Kak Juna!" Hana dan Hanif menghampiri Juna
"Kak Ayu nya ada?"
"Ada tapi lagi sakit" kata Hanif
"Sakit?"
"Iya sakit pelut" Hana menjawab
"Kak Ayu beldalah" Hanif menambahkan
"Berdarah?" Juna terkejut. Hana dan Hanif mengangguk.
"Kak Juna pergi sebentar nanti balik ke sini lagi"
Juna keluar dari rumah Ayu lalu mengeluarkan ponselnya. Menekan nomer yang sangat dikenalnya.
"Kak kalo sakit perut terus berdarah itu sakit apa ya?"
"Apanya yang berdarah?"
"Nggak tau, berdarah aja. Nggak bilang apanya yang berdarah"
"Siapa yang sakit?"
"Temen gue"
"Ya harus jelas apanya yang berdarah, gue nggak bisa tau penyakitnya apa kalau infonya nggak jelas gini"
"Kak kalo cewe lo sakit, lo gimana?"
"Yang sakit cewe lo?"
"Jawab aja lah nggak usah nanya balik"
"Gue nggak mau jawab"
"Ok gue jujur, calon cewe gue yang sakit. Puas lo"
"Baru calon aja lo udah bingung gimana kalo udah jadi cewe lo"
"Males gue ngomong ama lo" Arjuna mematikan ponselnya.
Arjuna melajukan motornya. Ia khawatir dengan kondisi Ayu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ia berbelanja sebentar lalu membawa motornya kembali ke rumah Ayu.
"Bi, ini buat Ayu tolong disampaikan ya." Arjuna memberikan 1 kantong plastik dan sebuah kotak makanan pada Bi Inah.
"Iya Den."
Bi Inah menyampaikan pemberian Arjuna pada Ayu. Ayu membukanya, sekeranjang buah dan satu porsi bubur ayam dengan sebuah kartu.
Cepet sembuh ya, gue pengen liat senyum lo lagi
◆Arjuna-yang lagi kangen Ayu◆
Ayu menatap kartu itu sambil tersenyum. Ia tidak menyangka kalau adik-adiknya membuat Arjuna salah sangka.
Kak Juna baik banget. Ada getaran di hati Ayu saat menyebut nama Juna.
****