Cemburu

2107 Kata
"Sayang, malam ini mas pulang. Jam 8 pesawat mendarat." Kata Satria lewat telpon. "Bukannya besok?" "Mas percepat, mana tahan jauh dari kamu lama?" Sarah yang mendengar jawaban itu sebenarnya ingin bersorak gembira. "Anak-anak juga pada kangen mas" "Kalau kamu?" "Kangen pake banget" jawab Sarah. "Mau dijemput aku atau mang Asep? "Mang Asep aja" Padahal aku pengen banget jemput. Hati Sarah berkata. "Iya mas." "Nanti ada sekretaris mas mau anter dokumen buat meeting besok." "Iya mas" "Sayang, mas udah harus masuk pesawat nih. Bye honey. Mmuach" Sarah menaruh gagang telponnya. "Permisi, ibu Sarahnya ada?" Seorang perempuan berpakaian pekerja kantoran berdiri di balik gerbang. "Ada, mba siapa ya?" "Saya sekretarisnya pak Satria" "Masuk mba" bi Inah mempersilakan. Sarah menatap sekretaris suaminya, Carla. Rok sepan pendek sepaha dipadu dengan blazer warna senada, kemeja putih semi transparan di dalam blazernya dengan dua kancing teratas yang terbuka. Carla bisa dikategorikan gadis yang cantik, kulitnya putih bersih, hidung mancung, mata bulat dan berambut ikal sebahu. "Ibu, ini dokumen yang diminta bapak" Carla menyerahkan satu map plastik berisi berkas-berkas yang diminta suaminya. "Eh ada tamu" Hana menghampiri ibunya. Hanif mengikuti di belakangnya. "Hana sama Hanif ya? Tante punya coklat nih buat kalian" Carla mengeluarkan dua batang coklat dari tasnya. "Hana Hanif, nggak boleh nerima pemberian dari orang asing" Ayu tiba-tiba datang. "Tante Carla kan bukan orang asing, tante sekretarisnya daddy kamu." Carla membela diri. "Tetep aja nggak boleh, kembaliin!" Ayu mengambil kedua batang coklat dari tangan Hana dan Hanif lalu menyerahkannya ke tangan Carla. "Ayu, nggak boleh kasar gitu sama tamu!" "Biarin!" Ayu ngeloyor pergi. "Maaf ya Carla, Ayu mood nya lagi nggak baik jadi agak kasar." Sarah meminta maaf. "Oh nggak pa-pa bu namanya juga belum kenal. Saya permisi dulu." Carla keluar dari rumah itu dengan wajah cemberut. Berusaha mengambil hati keluarga bosnya eh justru malah kena kekesalannya Ayu. "Ayu, tadi kok kamu kasar banget sama sekrtarisnya daddy?" Sarah menghampiri Ayu di kamarnya. "Dia itu pelakor bu" "Pelakor, apaan tuh?" Sarah pura-pura tidak tahu. "Masa ibu nggak tau. Itu loh perebut lelaki orang." "Ayu tau istilah itu dari mana?" "Dari tante Maya mamanya Luna." "Jangan sembarangan nuduh orang pelakor Yu, nggak baik." " Kata tante Maya, tante Carla itu pelakor karena dia udah ngerebut calon suami tantenya Luna ibu. Kemarin waktu Ayu cari kado sama Luna kan ditemenin tante Maya terus ngeliat tante Carla lagi jalan sama bapak-bapak. Nah tante Maya marahin tante Carla." "Mereka berantem?" "Nggak sampe pukul-pukulan bu." Apa benar dia pelakor ya? Aku jadi khawatir. Batin Sarah ■□■□ "Mas, Carla itu sekretaris baru?" "Carla gantiin Tasya yang cuti melahirkan. Kenapa?" "Bajunya itu loh mas, terlalu terbuka." "Nanti mas ingetin" Satria berkutat kembali dengan laptopnya. "Mas, mm... menurut mas Carla cantik nggak?" "Cantik" Kok rasanya sakit ya? Benak Sarah "Seksi?" "Kok nanya gitu?" Satria berhenti menatap laptopnya. "Ya... bajunya kan terbuka gitu jadi aku penasaran aja pendapat mas." "Dia seksi tapi kamu lebih seksi" "Jadi mas ngakuin dia seksi?" "Setiap laki-laki juga kalau mau jujur pasti bilang gitu tentang Carla. Kenapa? Kamu cemburu?" "Diakan setiap hari ketemu kamu mas... " Sarah berkata lirih. "Sayang cinta sejatinya mas, Carla itu seksi tapi kamu jauh lebih seksi karena cuma kamu yang bisa bikin mas b*******h walaupun pakai baju tertutup. Cuma kamu yang ngasih mas anak-anak hebat dan lucu-lucu. Cuma kamu yang baik banget bisa maafin kesalahan besar mas. Cuma kamu sayang, di hati mas cuma ada kamu dan anak-anak." ■□■□■ Dua kali sehari saat pergi dan pulang ke sekolah Arjuna selalu melewati rumah Ayu. Pertemuan yang hanya seminggu sekali itu terasa amat kurang bagi Arjuna. Walau rute berangkat dan pulang sekolah harus memutari komplek Arjuna tidak keberatan. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat Ayu walau dari kejauhan. Motor Arjuna berhenti sejenak di dekat pohon. Arjuna menatap ke rumah Ayu. Ayu sedang duduk di teras bersama seorang anak laki-laki seumurannya dan memakai seragam sekolah yang sama dengan Ayu. Tidak lama sebuah motor ojek online datang. Anak laki-laki itu menaiki ojek online lalu melambaikan tangannya pada Ayu sambil tersenyum dan Ayu membalas lambaian tangannya. Itu siapanya Ayu? Ayu kok dadah dadah ke dia?. Hati Arjuna berbisik. Arjuna melajukan motornya ke arah rumah Ayu dan berhenti tepat di depan pagar. Ayu yang baru saja akan masuk ke rumah menoleh ke arah pagar. Melihat Arjuna yang ada di depan pagar Ayu lalu menghampiri. "Eh ada kak Juna" "Yang tadi itu siapa Yu?" "Yang mana?" "Yang barusan naik ojek online" "Oh itu Dewa teman aku. Habis ngerjain tugas kelompok tadi." "Tugas kelompoknya cuma berdua?" "Iya" Wah gawat ada saingan. Arjuna mulai cemburu. "Besok kak Juna tanding basket di sekolah. Ayu dateng ya?" "Mm... Ayu nggak tau bisa dateng atau nggak kak tergantung ibu sama daddy." "Kak Juna!" Hana berteriak kencang. "Hai Hana!" "Kak Juna mau ajalin Hana main basket ndak?" "Mau tapi nggak sekarang ya" "Yaah" "Besok Hana mau nggak nonton basket di sekolah kak Juna? Kak Juna tanding loh" "Nonton basket? Mau mau mau" Hana semangat. "Datengnya sama kak Ayu ya" kata Juna "Ok!" Hana mengangkat jempolnya. ■□■□■ "Daddy besok kak Juna tanding basket, nonton yuk!" "Siapa yang ngasih tau kamu ada pertandingan basket?" "Kak Juna. Besok kak Juna tanding basket di sekolahnya. Ya daddy ya?" "Besok kan kita mau ke rumah Opa" "Sebental aja daddy. Hana pengen nonton" "Hanif juga pengen nonton." "Yaudah kita mampir ke sekolah Juna dulu sebentar baru ke rumah Opa." "Yess nonton basket!" Hana bersorak. *** Hari Sabtu pagi yang cerah. Sarah memandikan si kembar di kamar mandi sementara Satria membaca koran di teras. "Permisi!" Carla tersenyum dari balik pagar. "Carla, ada apa pagi-pagi ke sini?" "Barusan habis cari sarapan terus lewat sini jadi sekalian mampir Pak" Carla tersenyum semanis mungkin di depan Satria. "Masuk masuk" Satria mengajak Carla masuk. "Saya bawa sarapan buat di sini" Carla menunjukkan 6 bungkus bubur ayam. "Banyak banget?" "Biar bisa sarapan bareng bapak" Carla tersenyum menggoda. "Taruh di dapur aja, anak-anak lagi mandi." Satria kembali menekuni korannya. Carla berjalan ke arah dapur. Rok lipit sepaha berwarna biru yang dipakainya bergerak seirama dengan gerakan pinggulnya. Kaos hitam ketat yang dipakainya jelas mencetak lekuk tubuhnya. "Tante ngapain ke sini?" Ayu datang dari kamarnya. "Tante bawa bubur ayam, kita sarapan bareng ya!" "Kami mau segera berangkat, nggak sempet sarapan di rumah nanti telat." Ayu menjawab ketus. "Kak Ayu udah siap?" Hanif menghampiri Ayu diikuti Hana di belakangnya. "Udah dong" jawab Ayu. "Hai jagoan, udah rapi mau kemana nih?" "Nonton kak Juna tanding basket" jawab Hana. "Kak Juna? Siapa tuh?" Tanya Carla. "Kepo!" Ayu mendengus. "Ibu , Daddy ayo kita berangkat, udah siang nih nanti terlambat!" Ayu teriak. "Loh bukannya mau sarapan dulu, ibu siapin rotinya sebentar" Sarah sudah rapi dengan jilbab hijaunya. "Iya sarapan dulu, tante bawa bubur ayam loh" "Nggak usah tan, kita buru-buru nanti telat. Ayo Hana Hanif kita ke mobil!" "Daddy ayo cepetan, Hana mau liat basket!" Hana teriak. Ayu, Hana dan Hanif berlarian menuju ke mobil yang terparkir di garasi. "Ibu, daddy ayo cepetan!" Kali ini Hanif yang teriak. "Maaf ya Carla anak-anak udah mau berangkat, kamu pulang aja" kata Sarah. "Terus buburnya gimana?" "Bagiin aja sama pengemis!" Ayu kembali lalu menarik tangan Sarah menuju ke mobil. □■□■ Lapangan basket ramai dengan penonton. Permainan basket sudah dimulai selama 15 menit. Keluarga Satria datang telat karena sebelumnya mereka mampir ke warung bubur untuk sarapan. Arjuna bergerak lincah mendribel bola lalu mengopernya pada teman satu teamnya. Sorak-sorak gadis-gadis di sekitar lapangan riuh terdengar menyemangati Arjuna sang kapten team basket SMA Teladan. Arjuna melihat ke arah penonton saat suara anak kecil terdengar nyaring di telinganya. "Kak Juna!" Hana dan Hanif teriak kencang. Arjuna seakan mendapat tambahan energi saat melihat Ayu dan keluarganya menonton. Ia tersenyum hangat. "Arjuna senyum, meleleh gue!" Seru gadis yang duduk tepat di depan Ayu. "Ganteng banget, sumpah!" Seru gadis di sebelahnya. "Arjuna, we love you!" Teriak gadis yang satu lagi. Banyak yang suka kak Juna. Benak Ayu Pertandingan berlangsung seru. Berkali-kali Arjuna memasukkan bola ke ring lawan dan penonton terutama gadis-gadis teriak histeris. Ayu, Hana dan Hanif menatap kagum. Pertandingan dimenangkan oleh team SMA Teladan. Satria dan keluarganya bergerak keluar dari area penonton. "Hana mau ketemu kak Juna daddy" "Hanif juga. Kak Juna hebat!" "Boleh" kata Satria. Arjuna dan teamnya dikerubungi oleh para penonton terutama gadis-gadis yang ingin memberi selamat. Sebagian dari mereka ada yang membawakan tisu ataupun minuman dingin. Ayu menatap ke arah kerumunan itu dengan tatapan yang sulit diartikan dan Arjuna melihatnya. "Hana, Hanif haus nggak? Kak Ayu mau beli minum. "Hana mau kak" "Hanif juga" "Yaudah tunggu di sini" Ayu berjalan menuju ke arah penjual juice jeruk. Lalu memesan minumannya. "Ayu, kamu nonton juga?" Dewa menghampiri Ayu. Ayu mengangguk "Loh Dewa di sini?" "Abangku maen jadi aku nonton" Arjuna menyusul Ayu ke arah penjual minuman. Ia berhenti sejenak melihat Ayu yang asyik mengobrol bersama Dewa, anak laki-laki yang dilihatnya dulu. Ngapain tuh bocah di sini? Tanya Juna dalam hati. Arjuna berjalan cepat menghampiri Ayu. "Eh kak Juna selamat ya" kata Ayu. Arjuna tidak menjawab hanya menatap tidak suka pada Dewa. "Neng ini esnya" Abang penjual juice jeruk memberikan 3 gelas juice yang sudah dibungkus plastik pada Ayu. Arjuna membayar penjual juice itu dengan selembar uang berwarna biru lalu menarik tangan Ayu menjauhi Dewa. "Kak Juna biar Ayu yang bayar" Juna terus menarik Ayu sambil berjalan cepat. "Dek Ini kembaliannya !" Abang penjual jus teriak sambil mengacungkan uang. "Ambil aja kembaliannya bang!" Arjuna balas teriak. "Lepasin kak! Sakit" Ayu menarik tangannya. Saat mereka sudah berjalan cukup jauh dari keramaian barulah Arjuna melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Ayu. "Kakak ngapain sih narik-narik Ayu?" "Gue nggak suka lo dekat-dekat cowok lain selain gue, daddy lo dan Hanif" Arjuna berkata penuh penekanan "Emangnya kenapa?" "Denger baik-baik" Arjuna menatap Ayu sambil memegang kedua bahu Ayu. "Gue cem-bu-ru!" "Cemburu?" "Iya. Hati gue sakit liat lo sama cowok lain. Ayu menatap bingung. "I love you Ayu!" Arjuna berkata tanpa ragu-ragu. "Dicariin dari tadi kirain kemana, Hana sama Hanif nungguin minumnya tuh!" Sarah datang tiba-tiba. "Iya bu, Ayu ke sana dulu" Ayu pergi meninggalkan Arjuna. "Arjuna jangan cemari anak saya, biarkan ia tumbuh sesuai usianya. Saya tidak mau Ayu dewasa sebelum waktunya." Kata Sarah tegas. "Maaf tan" susah ngontrol perasaan. lanjut Juna dalam hati. ■□■□ Sudah lama Sarah tidak berkunjung ke kantor suaminya. Hari itu ia memutuskan untuk ke kantor suaminya setelah menjemput Hana dan Hanif di sekolah. Si kembar bersorak gembira saat diberi tahu akan mengunjungi ayahnya di kantor. Sampai di lobby kantor, staf kantor tampak memberi hormat pada Sarah. Hana dan Hanif berlomba menuju lift. Sarah menekan tombol 15 tempat suaminya berkantor. Keluar dari lift Hana dan Hanif kembali berlari lalu membuka pintu ruangan ayah mereka. "Daddy!" Seru mereka bersamaan. "Mas!" Sarah terkejut melihat pemandangan di depannya. Sarah lalu menggendong Hana dan menarik Hanif berlari kembali ke lift. "Sarah! Honey! Mas bisa jelasin" Satria mengejar anak dan istrinya. Sarah segera masuk ke mobil dan memerintahkan mang Asep untuk pulang secepat mungkin. Sarah sibuk menghapus air matanya selama di perjalanan. Sarah meninggalkan Hana dan Hanif di ruang tengah. Bi Inah segera mengurusi mereka sementara Sarah masuk ke kamarnya. Sarah melemparkan tasnya ke atas ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tidak berapa lama Satria datang menyusul. Ia tahu dimana Sarah berada, tidak lain dan tidak bukan adalah kamar mandi tempat Sarah meluapkan kekesalannya. Satria masuk ke kamar mandi yang tidak dikunci itu. Ia melihat Sarah yang terus menggosok lantai kamar mandi menggunakan sikat di tangan kanannya dan sesekali menyeka air mata dengan tangan kirinya. "Sayang, aku bisa jelasin semua" "Hiks.... nggak perlu... semua udah keliatan jelas" "Baby, yang kamu lihat itu nggak seperti yang ada di pikiran kamu" "Semua istri pasti punya pikiran yang sama denganku saat melihat suaminya berpelukan dengan perempuan lain." Sarah berkata sambil tetap menyikat lantai tanpa menatap suaminya. "Sarah sayang, please lihat aku dan berhenti menyikat lantai!" Sarah menggelengkan kepalanya sambil terisak. "Sarah please, sampai lantai ini mengkilat juga masalah kita nggak akan selesai." Sarah masih berurai air mata, tatapannya masih melihat lantai. Satria berjongkok lalu memeluk istrinya erat. "I love you Sarah" Satria berbisik di telinga istrinya. Lalu menangkup wajah istrinya sambil menatap lekat. "Kamu bisa lihat di cctv kantor apa yang terjadi sebenarnya. Carla terpeleset lalu mas menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai." "Hiks...hiks...hiks..." Satria mengusap air mata Sarah dengan ibu jarinya. "Lihat aku, tatap aku sayang. Cuma kamu yang aku cinta. Aku akan pecat Carla, aku janji." Sarah melihat kejujuran di mata suaminya lalu mengangguk, melepas sikat di tangannya lalu memeluk suaminya. "Aku cemburu mas, maaf" Sarah berbisik. "Nggak papa, cemburu tanda cinta. Baju kamu basah sayang." "Baju kerja mas juga ikut basah." "Kan udah sama-sama basah. Mandi bareng yuk!" Satria mengerling genit. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN