Raka mengangguk. Mengiyakan pertanyaan yang dilayangkan oleh Zefanya barusan. “Aku mengetahui semuanya,” gumam pria itu. Zefanya menggeleng dengan dramatis. “Lalu kenapa kamu masih menginginkan aku? Bukankah kamu tahu konsekuensinya besar, Raka? Hubungan kita terlalu riskan--” “Aku sama sekali tidak pedul, Ze,” balas Raka, menyela ucapan Zefanya. “Aku hanya tahu aku mencintai kamu. Aku ingin bersama kamu, memiliki kamu, memperistri kamu, dan bertanggung jawab atas janin di dalam perut kamu. Aku ingin kamu, Ze.” Zefanya menjambak rambutnya pelan. Berharap dengan itu rasa pening yang kian mendera setidaknya berkurang. Namun ternyata nihil. “Kamu tidak tahu dengan apa yang kamu katakan barusan, Raka,” katanya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca saat mendongak dan melihat wajah Raka. “Janin

