103. Memukul Mundur

1909 Kata

Zefanya melahap rujak buah yang Cherry beli di depan barusan. Sambil matanya menatap pada langit yang mulai dihias semburat jingga, tanda bahwa hari mlai sore. Di sisinya, Haikal sedang berselonjor kaki dengan bantal dan laptop di atas pangkuan. Dia tampak serius sekali mengerjakan sesuatu di sana. Sesekali, pria itu mencomot rujak atau camilan yang berada di hadapan mereka. Sementara Cherry, dia merebahkan kepala di pangkuan Zefanya sambil membaca buku. Gazebo di belakang panti memang tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu. Terlebih dengan hijaunya tambulampot (tanaman sayur dan buah di dalam pot) yang menyegarkan mata serta pikiran. “Bukankah aku harus mencari pekerjaan di sini?” tanya Zefanya tiba-tiba, membuat Haikal dan juga Cherry seketika menghentikan aktivitas mereka masing-ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN