Raka berdiri membeku mendengar kalimat terakhir yang Zefanya katakan sebelum telepon akhirnya diputus sepihak. Rasa nyeri yang pekat tiba-tiba menjalari hatinya. Babagaimana bisa … bagaimana bisa dia melupakan Zefanya? Bagaimana bisa semua semudah itu? Raka mengerang pelan. Terduduk lesu sambil memegangi dadanya yang nyeri. Hal yang paling dia takutkan akhirnya terjadi. Zefanya, meninggalkannya. “Dokter Raka?” Raka tidak mengangkat wajah mau pun membalas panggilan itu. Dia terlalu tenggelam dalam rasa sakitnya sehingga tidak ingin mempedulikan apa pun sekarang ini. Raka menyayangkan dirinya yang terlambat menyadari perasaan khususnya untuk Zefanya. Raka terlambat jujur. Raka terlambat menarik Zefanya ke dalam dekapannya. Seandainya dia lebih cepat. Seandainya dulu, dia lebih berani, mun

