"Itu bukan urusanku sama sekali," balas Zefanya. Dia menampilkan ekspresi datar. Tidak ingin membuat Jinny merasa menang jika dia memperlihatkan raut wajah terkejut apalagi kecewa. Toh, dari awal dia sudah dikecewakan. Sementara, tidak ada lagi kepercayaan yang dia punya sekarang. Sehingga mengapa dia harus kecewa lagi? "Benarkah?" Jinny terkekeh mengejek. "Tapi bagiku, itu juga urusan kita. Karena kehadiran ayah kamu di hidup ibuku membuat keluargaku hancur, Ze." "Hentikan omong kosong ini, Jinny. Kita berdua sudah dewasa. Bukankah tidak etis membicarakan permasalahan keluarga di tempat umum seperti ini?" ucap Zefanya. Mulai merasa meradang dengan sikap kekanakan Jinny yang rasanya tak pernah berubah. Jinny tertawa pelan. "Lucu melihat kamu membicarakan soal apa yang etis dan tidak,

