Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat, membelah jalanan yang sepi di tengah malam yang gelap gulita. Usai informan kepercayaannya memberikan informasi keberadaan Zefanya saat ini, Nathan langsung pergi dengan tergesa-gesa. Dia tidak ingin melewatkan satu detik pun kesempatan untuk bertemu Zefanya. Tak peduli, bahkan bila saat itu masih pukul satu dini hari. Sudah cukup dia menyesal untuk hal-hal yang pernah dia lakukan sejak dulu hingga kemarin. Dia tidak ingin lebih menyesal lagi. Rasa itu terlalu sesak dan menyiksa, demi Tuhan! “Tunggu aku, Ze. Aku akan datang menjemput kamu dan calon anak kita. Aku tidak akan ragu sama sekali,” monolog pria itu. Tatapan matanya bertekad, menatap jalanan dengan tatap nyalang. Nathan menghentikan mobilnya dengan gelisah saat menemui lampu me

