“Al, aku tahu apa yang aku mau sebagai permintaan pertama.” Ujarku tiba-tiba di hari yang cerah. Seketika saja ekspresi wajah Alysa berubah tegang banget. Aku duduk dengan punggung tegak bersandar di kursi. Kuperhatikan wajah Alysa yang sekarang sedang manyun sebal sambil menatapku. Aku terkekeh pelan lalu bertopang dagu. “Udah deh, Pak, jangan belibet. Cepet ngomong. Katanya udah tahu mau minta apa. Nggak usah sungkan.” Aku terkekeh mendengar nada suaranya yang terkesan dipaksakan. Senyumnya juga. Duh, gemes banget sih. “Nggak sungkan kok, tapi memang lagi berpikir aja,” Aku menunjukkan cengiranku yang paling mempesona. “Setelah kupikir-pikir, aku baru aja nemuin restoran yang kayaknya enak banget deh. Restorannya belum lama buka sih, tapi pengunjungnya udah banyak banget. Agak mahal s

