ALYSA – KABUR YANG MEMBAWA PETAKA

1602 Kata
Aku setuju untuk menjadi babysitter –walau dengan berat hati- dan detik itu juga aku langsung diboyong oleh Bu Widya ke rumahnya di Jakarta. Dalam hati aku berdoa semoga saja Papa nggak terlalu berlebihan mencari keberadaanku. Pasalnya, sekarang ini aku benar-benar sudah di Jakarta dan sedikit saja Papa berusaha menemukanku, pasti bakal ketemu. Dan daripada ditemukan, akan lebih ringan hukumannya kalau aku kembali dengan sendirinya. Bener-bener kelar hidupku kalau ditangkap Papa. Keluarga Bu Widya mengamati aku dengan lekat-lekat dari atas sampai bawah. Aku menunduk untuk memperhatikan penampilanku yang semoga saja nggak ada masalah. Dan memang nggak ada masalah. Semua yang kupakai sederhana dan cocok untuk image calon babysitter. Tapi kenapa mereka terus menetap aku seolah-olah aku ini begitu aneh? Keluarga Bu Widya hanya terdiri dari suami, seorang anak laki-laki, dan juga ada anak kecil yang kuduga sebagai cucunya yang akan aku urus. Nggak terlalu besar, tapi tetap saja ini adalah kali pertama aku berdiri di suatu tempat dan ditatap dengan pandangan menilai yang meragukanku. Tiba-tiba saja aku bergidik menghadapi kemungkinan tersulit dari pekerjaanku. Aku nggak mungkin di siksa kan ya? Kalau iya, aku benar-benar harus sujud di bawah kaki Mama dan Papa biar azab ini nggak terus berlanjut. “Al, kenalin ini namanya Icha. Dia yang Mami pilih buat jadi babysitter-nya Tiara.” Bu Widya memperkenalkan aku pada anak laki-lakinya. Aku tersenyum sopan pada pria itu untuk meninggalkan kesan yang baik, tapi apalah daya karena pria itu justru menatap aku dengan pandangan meragukan. “Mami yakin nggak mau ngambil dari agen yang terpercaya? Yakin dia bisa ngurus Tiara?” Duh, apa begini ya rasanya diragukan? Seumur hidup baru kali ini ada yang meragukan kemampuanku. Memang benar kemampuanku mengurus anak kecil sangat-sangat tidak baik, tapi aku kan bisa belajar. Suatu saat aku juga pasti akan punya anak, jadi nggak mungkin selamanya aku anti pada anak-anak. Intinya masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi, namun sudah ada manusia-manusia yang meragukannya. “Mami yakin, Al. Mami hampir aja kecopetan di Bogor, eh si Icha dateng nolongin. Dia mukulin si pencopet sampe kewalahan seorang diri. Hebat banget kan? Orang-orang macem ini nih yang cocok buat ngurus Tiara. Dia energik banget, cocok deh buat nemenin Tiara lari-larian.” Aku menelan ludahku mendengar perkataan Bu Widya. Ini mah udah pasti aku bakal kerja keras pake banget. Dengan terang-terangan lho Bu Widya ngasih tahu kalau dia butuh babysitter yang energik biar bisa nemenin cucunya lari-larian. “Mami hampir kecopetan? Astaga, Mi. Kok bisa sih? Makanya kalo keluar nggak usah dandan yang berlebihan. Kan jadi bahaya sendiri kalo gitu.” “Dandanan Mami kan memang selalu kayak gini sih, Al.” Bu Widya merajuk. Bukannya mendapat perhatian dari anak laki-lakinya karena hampir kecopetan, tapi malah mendapat omelan. “Ya memang udah mau apes kali. Tapi syukurnya itu ketemu sama si Icha ini. Jugaan mungkin ini jodohnya Icha buat dapet pekerjaan. Soalnya dia luntang-lantung di Bogor lagi nyari pekerjaan.” Aku menyadari anak laki-lakinya Bu Widya melirik aku dengan jauh lebih berempati dari sebelumnya. Ingin rasanya aku mendengus keras-keras di depan wajahnya buat menunjukkan kalo aku lebih dari pantas untuk dapet pekerjaan ini. “Gimana? Kamu setuju kan sama keputusan Mami?” “Aku sih setuju-setuju aja. Cuma ya... karena dia nggak dari agen resmi, takutnya mentalnya lebih lemah lagi dari yang sebelum-sebelumnya. Inti dari babysitter-nya Tiara itu harus tahan banting.” Tahan banting? Maksudnya perumpamaan kan itu? Bukan tahan banting dalam artian yang sebenarnya. Masa iya sih anak sekecil itu bisa banting perempuan dewasa macem aku? Hm, jadi penasaran. “Tenang aja, dia pasti tahan banting. Lebih strong dari yang sebelum-sebelumnya.” Okay, karena Bu Widya sudah mempromosikan aku dengan sebaik mungkin, maka tugasku sekarang adalah membuktikannya. Aku harus membuktikannya, terutama pada anak laki-lakinya Bu Widya kalo aku lebih dari sekedar mampu. “Tiara, kenalin ini Mbak babysitter kamu yang baru. Baik-baik ya sama Mbaknya, jangan dinakalin lagi.” Dari sikap Tiara, aku menyimpulkan kalau Tiara itu nakal sekali. Lihat, baru saja neneknya menasehati agar dia tidak nakal padaku dan sekarang dia justru melengos tidak mau menyapa aku. Dia nggak menyukaiku. Dan bocah krucil ini menunjukkannya dengan terang-terangan. “Oma, kok Mbaknya jelek sih? Kan aku mau Mbaknya yang cantik.” Okay, lidahnya juga tajam. Sikapnya jelek, lidahnya tajam, dan pemilih. Kenapa aku harus mendapat pengalaman pertama mengurus anak kecil yang seperti ini sih? Sudah harus turun derajat jadi Mbak-Mbak, eh ketambahan ngurusin yang sifatnya begini. Apes banget hidupku ini. “Icha, sore ini kamu istirahat dulu. Pasti masih capek kan? Sekarang biar Tiara dijaga sama Oom-nya dulu. Kamu istirahat, terus nanti keluar buat makan malem.” Dan untungnya ada Bu Widya yang menjadi pemanis di sini. Kurasa di keluarga ini hanya Bu Widya yang sedikit lebih manusiawi dibandingkan anak laki-lakinya atau bahkan cucunya. *** “Ini kamarnya, Neng. Semoga betah ya di sini.” Ucapan Mbok Yem –sang asisten rumah tangga- terdengar seperti motivator yang sekarang sedang menyemangatiku. Yah, semoga saja aku memang betah. Kutatapi kamarku dengan hampa. Jadi seperti ini ya kamarnya pembantu. Di rumah, Mama nggak punya pembantu. Mama menyiapkan semua hal seorang diri, jadi aku benar-benar nggak tahu seperti apa kehidupan pembantu. Dan sekarang ketika merasakannya, aku benar-benar tak bisa berkata-kata. Bahkan ranjangnya pun nggak empuk, batinku saat mendudukkan bokongku ke ranjang. Tiba-tiba saja hatiku yang paling dalam tersentil. Ya ampun, kok sekarang hidupku ngenes banget ya? Kamar sempit, ranjangnya apalagi. Lemariku juga kecil, berbanding jauh dengan bawaanku yang banyak. Koleksi tas branded mau di taruh dimana? Nggak mungkin, kan aku masukin ke lemari itu. Di kamarku yang dulu, aku punya walk in closet. Biasanya, tas-tas koleksiku akan aku tata di etalase berjejer dengan rapi. Aku selalu merawatnya meski nggak aku pake sekalipun. Sekarang? Boro-boro mau aku tata, aku mau masukin ke lemari itu aja mikir-mikir lagi. “Mbok bantu menata bajunya ya, Neng?” Lamunanku buyar. Aku menggeleng dengan sopan. Kupikir tugas Mbok Yem sudah terlalu banyak, jadi aku akan berusaha semaksimal mungkin buat nggak merepotkan beliau. Kasihan juga beliau sudah tua. “Nggak usah malu-malu. Sini, biar Mbok bantu.” Okay, kayaknya untuk hari ini pengecualian. Aku masih terlalu syok dengan kondisiku yang terbaru. “Makasih ya, Bi.” Kataku dengan seramah mungkin. “Nggak usah Bibi-Bibian, Neng. Panggil aja Mbok Yem. Semua orang di sini manggilnya begitu.” Dia memberitahu dengan ramah. Dan sekarang penilaianku berbeda lagi. Kalau tadi Bu Widya hanya sedikit lebih manusiawi, maka kali ini Mbok Yem mendapatkan status sangat manusiawi dariku. Dia baik banget, astaga. “Iya, Mbok.” “Neng ini asalnya dari mana?” “Palembang, Mbok, tapi ketemu Ibu di Bogor karena lagi cari kerjaan.” Dalam hati aku tersenyum miris karena sudah mampu mengucapkan kalimat bohong tanpa resah. Sepertinya aku sudah ahli dalam hal berbohong. “Mbok sudah lama kerja di sini?” “Udah lama banget. Dari jamannya Den Alvaro masuk SMP kalo nggak salah.” Wow, sudah lama banget berarti. Dan itu tandanya Mbok Yem mengenal keluarga ini dengan baik banget. “Mbok, sifat Tiara itu kayak mana sih? Kok kayaknya nakal banget ya?” aku terkekeh malu. Semoga saja Mbok Yem nggak akan mengadukan ini pada Bu Widya yang akhirnya akan membuat aku dipecat detik ini juga. “Non Tiara itu baik kok, Neng, tapi ya memang manjanya luar biasa. Apalagi setiap ada kemauan langsung diturutin sama si Ibu dan Aden, jadi ya lumayan sulit ngontrolnya.” Jadi bisa dibilang si Tiara ini hidup kayak anak sultan ya. Apa saja yang dia mau tinggal ngomong dan besoknya langsung ada. Pantas saja tadi aku melihat banyak sekali mainan dan pakaian yang masih berlabel. Sepertinya dia baru saja punya kemauan dan Oom-nya dengan senang hati menurutinya. “Tapi kok babysitter-nya pada mundur ya, Mbok? Nggak ada kekerasan yang berbahaya kan di sini?” Mbok Yem malah tertawa melihat wajahku yang sudah paranoid sepenuhnya. “Nggak ada yang begituan, Neng. Cuma Non Tiara ini memang jahil banget. Dia kalo nggak suka sama babysitter-nya, ada aja kelakuannya biar si babysitter-nya mundur. Kayak yang kemarin ini. Kasihan sih sama babysitter-nya, tapi ya mau bagaimana lagi. Selain itu juga dia hiperaktif banget, jadi ya memang agak kewalahan ngurus Non Tiara yang hobinya lari-larian terus.” Kalau nggak ada Mbok Yem, aku pasti sudah mengusap wajahku dengan kasar. Aku benar-benar nggak nyangka kalau anak kecil yang akan aku urus itu macem Tiara. Aku yang nggak berpengalaman tiba-tiba harus mengurus anak kecil senakal itu. Mau jadi apa aku nanti? Udah, ini mah fix aku bakal mengundurkan diri dalam waktu seminggu. Luntang-lantung lagi dan jadi gembel beneran. “Neng, kok ini tasnya kelihatan mahal banget ya? Ini mau ditaruh mana?” Mataku langsung terbeliak saat Mbok Yem sedang menatapi tas brandedku dengan bingung. Buru-buru aku menutup koper tersebut dan terkekeh. “Ini bukan tas mahal kok, Mbok. Keliatannya aja mahal, aslinya murahan. Seratus ribu tiga itu.” Aku tertawa sumbang. Ya ampun, aku benar-benar menjatuhkan tas Chanel dan Prada milikku yang harganya sampai berjuta-juta. Maafkan Mama, nak! “Udah, Mbok, ini biar aku aja yang selesaiin. Makasih ya Mbok udah dibantuin.” Mbok Yem mengangguk dan bergegas pergi. Dengan baiknya beliau menutupkan pintu. Aku langsung menjatuhkan tubuhku ke ranjang yang sangat nggak nyaman ini. Kutatapi langit-langit kamarku yang nggak menarik, lalu baju-bajuku yang sudah tertata rapi di lemari, dan terakhir tas-tas brandedku dengan hampa. Sungguh keadaan yang sangat miris. Sekarang aku bukanlah lagi Princess yang bisa berbelanja barang branded dengan gampangnya. Lebih tepatnya lagi statusku sudah turun sampai ke tingkatan paling bawah, yaitu babysitter. Aku bakal mengurusi anak kecil bernama Tiara yang sangat menyusahkan namun sangat disayang keluarganya. Hidupku yang sebelumnya ada pada genre keluarga, sekarang berubah drastis memasuki genre petualangan yang memuakkan. Kabur benar-benar membawa petaka.    TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN