“Cha, saya suruh kamu siap-siap kok nggak siap-siap sih? Kan saya udah bilang kalo kamu harus ikut.” “Sa-Saya ikut, Pak?” Ujarnya dengan suara terbata-bata. Wajahnya menegang. Aku mengangguk untuk membenarkan. “Buruan gih kamu ganti baju. Saya tunggu. Jangan lama-lama, nanti keburu malem. Kasian Tiara nggak bisa puas mainnya.” Dari ekspresinya, aku yakin dia ingin menolaknya. Tapi apalah daya statusnya di rumah ini yang memang nggak punya hak untuk menolak. Dengan wajah memelas dia berbalik untuk berganti pakaian seperti instruksiku. Aku tebak dia pasti masih teringat momen sore tadi dimana dia menendang selangkanganku dengan kuatnya. Aku memejamkan mata mengingat momen itu. Sungguh momen yang nggak terduga sekali. Aku hanya berniat mengisenginya, tapi yang kudapat justru selangkangan

