“Mamaaaaa...”
Aku bersuara semanja mungkin pada Mama yang sedang sibuk di dapur. Kupasang senyumku yang paling manis untuknya. Sebagai anak yang baik, aku harus berpamitan dengan Mama. Walau nggak mungkin untukku berpamitan dengan terang-terangan, tapi aku akan bersikap semanis mungkin pada Mama.
Sebelumnya aku nggak pernah bersikap semanis ini. Apalagi sampe meluk-meluk Mama dari belakang. Yah, karena aku akan kabur, jadi aku benar-benar harus memanfaatkan waktu berdua dengan Mama. Mungkin terdengar lebay, tapi kaburku kan tanpa batas. Bisa saja aku hanya pergi dua minggu, dua bulan, atau yang terparah sampai satu tahun. Tapi tunggu... rasanya nggak mungkin deh sampai satu tahun. Setengah tahun pun nggak mungkin juga. Bisa-bisa aku sudah jadi gembel beneran dalam waktu selama itu.
“Kamu ngapa manggil-manggil Mama kayak gitu? Kamu sehat?”
Nah, kan. Anaknya sopan dan manis, dikira nggak sehat. Anaknya pecicilan, dikiranya masih kayak anak kecil.
“Kan aku mau pamit, Ma.” Karena aku anak yang baik, nih aku kasih kode. Tinggal menunggu kepekaan Mama.
“Pamit kayak apa aja sih, Al. Biasanya juga kamu nyelonong pergi sana-pergi sini dalam sekejap. Palingan juga mau ke tempat balet kan?” cerocos Mama dengan terus menambahkan aneka bumbu ke sayurannya.
“Ih, kok Mama bisa tahu sih...” Jawabku dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat. Memang selama ini aktivitasku nggak pernah aneh-aneh. Paling hanya kuliah, ketemu Salsa, dan latihan balet. Tambahan lain ya cuma shopping kalau duitnya ada.
Kalau kalian bertanya balet yang kumaksud adalah balet seperti yang dilakukan oleh princess-princess itu, maka aku akan membenarkannya dengan sangat bangga. Setidaknya itulah hal yang kusadari kalau aku bisa melakukannya sejak jaman dahulu kala.
Sejak kecil aku memang cukup nggak jago dalam banyak bidang. Aku nggak pintar menggambar, menyanyi, dan nggak terlalu suka banyak bicara. Tapi di sisi lain, aku paham kalau aku menyukai tarian. Aku suka melihat orang menari dan kadang saat sedang sendirian malah menari nggak jelas. Mama yang menyadarinya langsung memasukkan aku ke tempat les balet. Dan meskipun umurku bertambah, nyatanya aku tetap mengikuti les balet sampai detik ini.
“Jadi boleh nggak nih?” Tanyaku lagi. Mama mematikan kompor dan menatapku.
“Ya udah sana. Mau balet aja kayak mau ke Arab aja pake izin-izin segala. Sana pergi. Mama mau ngelanjutin masak lagi, Hush... Hush!”
Hash hush... Memangnya aku kucing apa? Oh, belum tahu ini rasanya ditinggal kabur sama anaknya yang cantik. Tunggu aja. Palingan abis ini nangis-nangis, aku tertawa jahat dalam hati.
***
Aku berjalan keluar rumah dengan bersenandung kecil. Senyumku melebar saat aku masuk mobil dan mendapati koperku masih aman sentosa di bawah jok. Sejauh ini semuanya masih aman terkendali. Papa dan Kakak laki-lakiku nggak tahu apa-apa, dan Mama malah mengizinkanku dengan santainya. Semuanya persis seperti yang kurencanakan.
Di dalam koper itu aku mengepak semua hal yang akan aku butuhkan dalam masa kaburku. Selain pakaian, aku juga mengepak beberapa tas branded yang harganya cukup untuk menyambung kehidupanku kalau-kalau uang cash yang kuambil dari ATM sudah habis. Mungkin terkesan ribet, tapi percaya deh, ini sudah kupikirkan dengan matang-matang.
Aku nggak membawa tas-tas branded itu untuk tetap fashionable selama aksi kaburku. Aku memutuskan membawanya karena aku berencana untuk menjualnya. Tentu saja itu nanti kalau uangku benar-benar sudah habis dan nggak ada tanda-tanda aku akan kembali ke rumah. Aku nggak mau ada dalam kondisi kehabisan uang dan terpaksa menarik uang melalui ATM. Kalau itu sampai terjadi, alamat keberadaanku akan segera ditemukan dan bisa jadi aku langsung dinikahkan detik itu juga.
Dulu Papa selalu bilang kalau beli tas branded itu nggak berguna. Tapi sekarang aku bisa dengan gagahnya bilang kalau pemikiran Papa salah. Tas branded bisa buat investasi. Apalagi buat orang yang berencana kabur seperti aku. Begitu dijual, aku dapet banyak duit. Sedikit masalah akan terselesaikan.
Mobilku berhenti di sebuah tempat steam yang merupakan langgananku. Aku mengeluarkan barang-barang bawaanku lalu membiarkan mobilku untuk dicuci. Aku menghembuskan nafas sebelum memulai aksi kaburku.
“Pak Ujang, nanti tolong ambilin mobilku ya.” Kataku pada supir yang ada di rumah.
“Emang mobilnya dimana , Non?”
“Mobilnya aku steam di tempat biasa. Tahu, kan?”
“Iya, saya tahu, Non. Kira-kira jam berapa ya saya ambilnya?”
“Sejam lagi aja. Oh ya Pak, bawa kunci cadangan ya. Soalnya pintunya saya kunci. Saya bosen nunggu di tempat steam. Okay?”
“Oke, Non.”
Aku menangkupkan kedua tanganku di depan d**a dengan sumringah. Kenapa kaburku ini terasa sangat mudah. Nggak ada hambatan. Semua berjalan sesuai rencanaku. Ya ampun, kalau tahu kabur segini mudahnya, sudah dari kemaren-kemaren aku kabur saja. Daripada dijodohin sama duda!
Setelah memastikan mobilku aman pada pemilik steam, aku bergegas pergi. Dengan uang tunai yang baru kuambil tadi dan satu koper besar berisi lima tas branded, aksi kaburku benar-benar dimulai detik ini juga.
Mama, Papa, maafkan anakmu yang durhaka ini!
***
Lima hari kemudian.
Kutatapan bagian depan cottage tempatku menginap selama lima hari dengan tatapan hampa. Aku beneran ya harus ninggalin tempat nyaman yang bernama cottage ini? Harus! Uang lo udah menipis, Alysa b**o! Batinku berseru dengan kuatnya.
Ini semua salahku. Iya, salahku. Sudah tahu dalam aksi kabur, uang yang dibawa nggak banyak, tapi aku malah kebanyakan tingkah dengan menginap di cottage yang harganya cukup mahal. Sebenarnya ini bukan cottage kelas atas, harganya standar sekali. Bahkan kalau dibandingkan dengan cottage lainnya, cottage ini terbilang murah. Tapi kalau dibandingkan dengan kosan bulanan atau apapun itu, jelas cottage itu mahal banget.
Aku mengutuki kebodohanku. Seharusnya aku menginap di kosan bulanan, atau di manapun asal murah meriah. Bahkan kalau perlu jangan sampai mengeluarkan uang. Tapi aku justru memilih menginap di cottage. Uang yang seharusnya bisa tahan sampai sebulan mendadak habis dalam lima hari gara-gara aku memilih menginap di cottage. Ini yang namanya sudah dikasih hati dan masih minta jantung. Sudah tahu sedang miskin tapi masih pengen menginap di cottage.
Alhasil sekarang aku hanya bisa menatap bagian luar cottage itu dengan hampa. Aku terpaksa harus pergi sebelum uangku semakin menipis gara-gara harus bayar uang penginapan, uang laundry, uang makan, uang ngemil, dan uang untuk lain-lainnya.
Kepalaku berdenyut-denyut memikirkan uang tunaiku yang semakin menipis. Astaga, baru lima hari dan aku sudah kehabisan uang. Dan rencananya aku mau kabur sampai sebulan lebih? Fix, jadi gembel beneran ini mah.
Kalau saja aku bener-bener bisa berhemat, aku pasti akan jaya sekali. Aku mengambil uang tunai lumayan banyak. Selain itu juga, destinasi kaburku nggak terlalu jauh –hanya Bogor- sehingga nggak butuh duit banyak untuk pindah. Tapi kok ya aku dodol banget nggak bisa mengendalikan uang itu. Wajar kalau Papa frustasi dengan caraku mengelola uang. See, sekarang pun aku sudah frustasi dengan diriku sendiri karena nggak bisa mengelola uang. Mungkin ini juga salah satu efek uang itu nggak berkah makanya cepet habis.
Sekarang aku bener-bener luntang-lantung di Bogor. Lima hari lalu aku masih bisa melipir ke sana dan kemari pake mobil, sekarang? Cuma bisa melongo lihat orang-orang naik mobil sementara aku jalan sambil menggeret koper. Ini bener-bener tragis.
Dan yang lebih tragis lagi adalah sekarang aku kelaparan dan nggak menemukan tempat makan murah yang kelihatan menggugah selera. Astaga, cobaan apalagi ini, Tuhan! Lima hari lalu aku pikir rencanaku berjalan dengan lancar, tapi sepertinya inilah saatnya aku diberi kesulitan. Tuhan benar-benar tahu kapan harus memberikan pelajaran ke anak durhaka.
Di tengah-tengah rasa frustasiku, aku melihat sebuah tindak kejahatan yang cukup mengusik nurani. Ada ibu-ibu yang berusaha mempertahankan tasnya dari aksi pencopet. Karena nggak ada satpam ataupun orang yang lewat –intinya hanya ada aku- naluriku sebagai sesama perempuan muncul. Aku mengedarkan pandanganku untuk menemukan sesuatu yang bisa kupakai untuk melawan pria nggak bermoral itu.
Kuambil sebatang kayu panjang yang cukup keras, kemudian aku berlari menuju ibu-ibu yang sudah kewalahan melawan pencopet itu. Tanpa pikir panjang langsung kuhantamkan kayu itu ke tubuhnya. Aku memukuli pria itu dengan brutal, sekaligus berteriak meminta bantuan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa bersyukur memiliki suara super cempreng. Karena suaraku, orang-orang dari seberang jalan yang sebelumnya tak memerhatikan pun datang berusaha menolong. Yah, mungkin suaraku adalah tipe-tipe suara untuk menolong dalam hal teriak-teriak.
Aku mengibaskan rambutku kebelakang dengan bangga saat copet itu sudah diamankan oleh warga yang melihat. Aku menyeka sedikit peluh yang ada di pelipisku. Itung-itung olahraga, walau dengan perut keroncongan sekalipun.
“Hei, kamu!”
Merasa dipanggil, aku menengok ke belakang. Dengan semanis mungkin aku coba tersenyum. Padahal sih aku yakin, ibu-ibu tadi melihat dengan bagaimana brutalnya aku menghajar si pencopet. Aku yakin image manis yang aku tampilkan ini nggak akan berpengaruh apapun.
“Ibu nggak kenapa-napa, kan?” tanyaku dengan sopan. Kulihat ibu itu mengangguk. Pandangannya tertuju pada dua koper besarku lalu menatapku dengan pandangan menilai. Dilihatnya aku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Alisnya mengkerut. Ada yang salah ya sama penampilanku? Batinku.
“Kok bawa-bawa koper? Mau ke mana kamu?” Tanyanya dengan suara yang halus dan sopan. Sangat berbeda dengan cara Mamaku yang bertanya seperti ngajak orang berantem.
“Anu...” Aku memutar otak, mencari jawaban yang paling pas dengan situasi dan kondisi sekarang ini. “Saya pindahan, Bu.” Jawabku dengan cepat yang terkesan aneh. Aku hanya mampu menunjukkan cengiran karena sudah bertindak bodoh.
Ibu itu tersenyum sopan, lalu balik bertanya lagi. “Pindahan dari mana? Ke sini mau sekolah apa mau cari kerja?” Tanyanya lagi. Aduh, kok aku berasa di interogasi sih.
“Pindahan dari Palembang. Ke sini mau cari kerja.” Entah kesambet apa kok aku pake bawa-bawa Palembang. Padahal nggak ada seorang pun saudaraku yang tinggal di Palembang. Ibu itu hanya ber-oh-ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Eh ngomong-ngomong kamu mau kemana? Makasih lo udah bantuin. Saya sampe lupa nggak berterimakasih.”
“Oh nggak apa-apa kok, Bu. Saya kebetulan lewat, dan ngeliat live action pencopetan kayak gitu. Naluri aja sih, Bu, jadi langsung nolongin.” Kataku sopan.
“Pokoknya makasih banget, ya.”
“Iya, Bu, sama-sama. Kalo gitu saya permisi ya, Bu.” Pamitku karena mulai bingung harus melakukan apa lagi. Dari pada di sini dan terus berbohong, lebih baik aku pergi. Dosaku sudah banyak, nggak mau nimbun lagi dalam jangka waktu dekat.
“Eh, kamu sudah makan siang belum? Gimana kalo saya traktir kamu di restoran itu? Itung-itung ucapan terimakasih gitu.”
Demi apa gue mau ditraktir di restoran? Ya ampun, ya ampun!!
“Ah, nggak usah, Bu, ngerepotin. Saya permisi aja.”
“Nggak ngerepotin, kok. Pokoknya ayo saya traktir, kalo nggak gitu, nggak akan saya biarin kamu pergi.”
Waduh, kan kalo gini jadinya tambah enak. Ini namanya rejeki nomplok. Nggak boleh ditolak. Untung aja basa-basiku nggak beneran basi.
“Beneran ya Bu nggak ngerepotin? Makasih banget pokoknya.”
“Saya lho yang seharusnya berterima kasih. Ayo masuk.”
Kayaknya ini nih yang namanya menuai apa yang kamu tanam. Padahal aku baru nolong sekali, itupun cuma bermodalkan kayu plus teriakan super keras kayak toak masjid. Dan hasilnya? Aku malah ditraktir di restoran. Makan enak tapi uang aman. Ini sih bener-bener nikmat mana lagi yang kau dustakan pokoknya.
***
“Oh ya, nama kamu siapa ya?”
Uh-oh. Aku langsung gelagapan. Pake nanya nama lagi. Nggak mungkin kan kalau aku bilang namaku Alysa Prameswara. Kalau gitu mah pasti aksi kaburku bisa langsung ketahuan karena nama Prameswara udah cukup terkenal.
“Lho, kok diem?” Ibu-ibu itu mengibas-ibaskan tangannya di depan mukaku. Aku kaget dan langsung nyengir.
“Emm, nama saya Icha, Bu.” Jawabku mantap dan tentunya bohong. Nggak sepenuhnya bohong sih, karena kadang-kadang ada yang memelesetkan nama Alysa menjadi Icha. Lebih mudah katanya.
“Oohh, Icha...”
“Nama Ibu sendiri siapa?”
“Nama saya Widya.”
Bu Widya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah memahami sesuatu. Aku tak mau ambil pusing karena pesananku sudah datang. Aku benar-benar kelaparan sampai sanggup mengabaikan semuanya.
“Nak Icha sudah dapet kerjaan belum?” Bu Widya bertanya dengan sopan.
Aku yang sedang asyik-asyiknya menimbun makanan dalam mulutku langsung berhenti detik itu juga. Kutatap Bu Widya dengan tatapan bingung.
“Belom, Bu. Cari kerjaan itu ternyata susah banget ya apalagi buat yang lulusan SMA kayak saya.” Ujarku sambil menambahkan bumbu drama sedikit agar kebohonganku tidak terendus.
“Kenapa cari kerjaannya di Bogor? Kenapa nggak di Jakarta aja?”
“Di Jakarta itu udah padat banget, Bu. Saya aja nggak yakin kalau bakal ada lowongan buat saya yang notabene-nya cuma lulusan SMA.”
Duh, kok mulutku mulai terbiasa merangkai cerita bohong ya? Apakah ini yang dinamakan sekali berbohong maka kamu akan terus bohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan lainnya? Alamaakkk! Belum juga hilang dosa-dosaku sebelumnya dan sekarang aku sudah menambahnya lagi.
“Kalau kamu kerja sama saya, mau nggak?”
Waduh, nggak yakin nih. Lulusan SMA mau kerja jadi apa? Jangan-jangan jadi pembantunya Ibu ini lagi? Oh, No!
“Emang kerja apaan, Bu?”
Semoga bukan pembantu, batinku. Bener-bener turun derajat dong kalau aku sampe jadi pembantu.
“Saya punya cucu perempuan yang umurnya enam tahun. Dia itu kesayangan saya banget. Nah, sekarang saya butuh jasa babysitter buat jagain dia. Dia itu hiperaktif banget dan saya butuh babysitter yang mampu ngimbangin cara mainnya dia yang hobinya lari sana-sini.”
Demi Pluto yang udah hilang dari jajaran planet, masa iya sih aku jadi babysitter? Aku ini anti banget sama yang namanya anak-anak, tapi kok aku malah dapat pekerjaan yang berhubungan dengan anak-anak. Nggak ada pekerjaan yang lebih baik lagi kah?
Dulu, ketika duitku masih banyak dan otakku hanya sebesar kacang kedelai, aku nggak ada rencana untuk kerja dalam masa kaburku. Kupikir itu bakal merepotkan banget. Tapi setelah duitku menipis seperti ini... haruskah aku mulai bekerja?
Tapi masa iya sih jadi babysitter?!
“Kok bengong sih? Gimana mau nggak?”
“Aduh, gimana ya, Bu.” Aku benar-benar takut untuk mengiyakannya. Lalu aku teringat sesuatu tentang tempat di mana aku bekerja. “Ngomong-ngomong saya kerjanya di mana ya, Bu?”
“Di rumah saya dong. Di Jakarta.”
Ingin rasanya aku menepuk jidatku detik ini juga dengan batu. Masa balik lagi ke Jakarta lagi sih. Itu mah deket banget sama keluargaku. Jakarta itu kecil lho. Besar banget kemungkinan ketemu orang-orang yang kenal sama aku. Kalo gitu mah nggak berguna aksi kaburku. Bisa-bisa kalo ketangkep langsung dinikahin, nggak perlu pake lamaran-lamaran segala.
Tapi kalau nggak diambil, sayang banget. Bisa-bisa diriku yang kece ini bisa jadi gembel beneran. Apalagi dengan statusku yang cuma lulusan SMA. Memangnya kerjaan apa sih yang bagus buat anak lulusan SMA? Jadi babysitter aja udah syukur alhamdulillah.
Tapi kalo diambil, harus siap-siap jadi babysitter yang kerjaannya ngurus anak kecil yang nakal. Aku bergidik sendiri membayangkan bagaimana anak-anak itu nanti akan ngusilin aku. Masa diriku yang kece begini harus jadi babysitter. Terima nggak ya? Kalo diterima aku bakal turun derajat dong. Tapi kalo nggak diterima bakal jadi the real gembel dong. Oh, bingungnya diriku.
TBC