04. Menolak Pesona Arya

1840 Kata
Sang surya seakan sekutu bagi Sekar, ikut menampakkan tidak sukanya pada Arya. Mentari tak sungkan menerobos masuk ke dalam pori-pori kulit Arya, yang duduk di hadapan Sekar. anya dipisahkan oleh meja persegi. Namun, mereka mendapatkan perlakuan yang berbeda dari semesta. Duduk di samping jendela memang berisiko menjadi incaran sinar ultraviolet, terutama pada siang hari menjelang sore. Dikarenakan, matahari belum berniat untuk menurunkan intesitas panasnya. Ia masih berhak untuk menyiksa mahluk bumi, selama paling tidak empat jam kedepan. Sekar sedikit beruntung karena daun pepohonan yang merambat, berhasil menjadi penghalang, meneduhkan Sekar. Akan tetapi, ranting tak cukup panjang untuk ikut melakukan hal yang sama kepada Arya. Sebenarnya, bisa saja Arya pindah dari sana, atau bertukar tempat dengan Sekar. Namun naluri kejantanan yang menggebu-gebu untuk mengikat hati Sekar, menjadikan dirinya tak masalah untuk diterpa panasnya cahaya panas. Sesekali ia harus memicingkan mata saat matahari lancang menghantam wajahnya. “Kamu mau duduk di sana kan? Aku mundurin meja ama sofanya dikit ya biar kamu nggak kesilauan” ucap Arya setelah berhasil meyakinkan Sekar bahwa tak masalah untuknya membayarkan pesanan Sekar.   Kejadian beberapa menit lalu, bisa saja membuat siapa pun wanita di muka bumi ini yang haus perhatian, terlebih cinta akan terpesona dan mendaratkan hatinya pada Arya. Akan tetapi, itu tak berlaku bagi Sekar. Ideologinya lebih bertindak, saat ia dihadapkan dengan persoalan hubungan antar manusia. Baginya, kisah percintaan tak lebih dari perasaan semu yang berkamuflase. Berusaha membenarkan apapun tindakan mengatas namakan cinta. Tak jarang, ia mendapati kasus kejahatan yang berkaitan dengan kisah asmara. Mulai dari, suami yang membunuh istri karena cemburu. Saat sang istri mempunyai teman pria lain. Ada pula seorang istri membunuh wanita lain yang dimiliki sang suami. Jika ditelisik, terkesan pantas, karena sang pelakor terlah merebut hak dan jiwanya. Akan tetapi, yang lebih tak masuk akal bagi Sekar adalah, secara terang-terangan, seorang pelakor menghabisi nyawa istri sah. Dengan dalih, agar dapat menguasai si pria seutuhnya. Sekelumit tindakan kriminal berkedok asmara tak hanya terjadi dalam bahtera rumah tangga, hal itu juga berlaku bagi pasangan kekasih yang belum meniak. Contohnya, baru-baru ini tejadi kasus pembunuhan yang sedang diikuti oleh tim divisi kriminal dan kejahatan tempat kerja Sekar. Kasus mengenai seorang pria membunuh kekasihnya, kemudian ia memutalasi jasad korban hingga menjadi dua belas bagian. Tujuannya bukan lain untuk menghilangkan jejak. Motif pembunuhannya pun klise, sang perempuan minta untuk dinikahi. Karena sudah terlanjut telat bulan, dan tak ingin menjadi manusia yang tidak bertanggung jawab. Seperti yang sudah dapat ditebak, berawal dari pertengkaran kecil, berbuntut kriminal. Dengan berakhirnya nyawa sang perempuan, saat ia mencoba mengancam akan memberitahu keluarga sang lelaki perihal kehamilannya. Akibat pujaan hati, memilih untuk lari. Tak ada cara lain agar sang lelaki bertanggung jawab, ancaman keluarga menjadi senjata . Nahas, bukan pelaminan yang didapat, melainkan akhirat yang ia tuju. Selain itu, kehidupan yang cenderung repetitif. Membuahkan pemikiran pada Sekar, bahwa percintaan sekadar jembatan bagi manusia, untuk melestarikan kehidupan manusia itu sendiri. Manusia lahir, tumbuh dalam keluarga dengan berbagai macam aturan,agar dapat tetap diasuh. Kemudian bekerja setelah keluarganya merasa ia mampu menafkahi diri sendiri, sehingga tak perlu diasuh. Lanjut menuju jenjang lebih tinggi, yaitu menikah. Agar dapat menghasilkan manusia baru, untuk mereka asuh. Siklus masih berjalan saat manusia sudah mengalami sakit-sakitan dikala tua. Siklus kembali pada titik awal, untuk kembali diasuh oleh keluarga, sebelum akhirnya siklus terpotong akan kematian. Itulah siklus yang selalu diulang oleh setiap manusia dimuka bumi ini, menurut Sekar. Walaupun tak jarang ,bahwa siklus itu tidak bekerja pada setiap insan. Ada yang langsung memotong siklus itu dengan kematian, tanpa melakukan tahapan selanjutnya. Ada pula yang mati, setelah melalui beberapa tahap. Entah bagaimanapun siklus itu bekerja, kematian lah yang menjadi tujuan.  Sekar mendapati pemikiran tersebut, setelah mengalami realita kehidupan saat keluarganya harus meninggalkannya sendiri selama-lamanya. Jadi, tidak heran Sekar tak menaruh perhatian penuh pada persoalan cinta. Itu mengapa, ia tidak pernah merasakan kecewa, sedih, bahkan patah hati. Saat semua pria yang menyatakan cinta padanya, berakhir meninggalkannya. Sebenarnya bukan salah Sekar sepenuhnya, karena Sekar hanya menjalankan perannya sebagai mahluk sosial. ia merasa diuntungkan, dengan memiliki kekasih. Paling tidak, saat ia tak berdaya karena sakit menyerang, ada yang mau mengurusnya. Mulai dari hal kecil seperti, mempersiapkan makan untuknya, hingga hal besar seperti membantunya buang hajat. Egois, bila hanya Sekar yang merasa diuntungkan Pria yang menjadi status pacar Sekar pun mesti merasa diuntungkan, karena mendapatkan perempuan yang cantik, pintar, populer, dan mandiri. Sekar dapat meningkatkan status pria yang berstatus pacar dalam lingkup sosial pria tersebut. Dengan memamerkan kepada seluruh khayalak, bahwa pria tersebut merupakan pria jantan nan hebat. Dapat mendapatkan wanita nyaris sempurna seperti Sekar. Mereka hanya dapat melakukan hal itu kepada Sekar, tak boleh lebih dari itu. Sifat egois Sekar yang mendominasi, dapat memenuhi keinginan pria yang semula hanya tertarik pada fisiknya berujung pada tuntutan lain. Mereka menginginkan Sekar membalas perlakuan mereka, dengan menyediakan waktu untuk mereka, memberikan perihal yang sama, bahkan tak jarang banyak yang mengingkan Sekar sebagai pemuas nafsu belaka. Sekar hanya mengejek pada realita, saat satu persatu pria mengucapkan kata cinta yang sakral. Akhirnya memilih mundur, ketika hasrat mereka tak dapat dikabulkan oleh Sekar. Bahkan semata-mata hanya membalas pesan, saat seluruh pria yang hadir dalam kehidupan asmara Sekar, menanyakan kabar kekasihnya itu. Dalam sekejap, semua usaha, perhatian, ketampanan fisik, kekayaan materi, melunturkan kesan mereka di mata Sekar. Tak ada lagi status sebagai sepasang kekasih di antara mereka. Jika berkaca pada fenomena sosial saat ini, tentu tidak ada pria yang tahan dengan wanita yang mengaku menjadi kekasihnya. Namun, tak dapat menjalin asmara layaknya pasangan lain di luar sana. Apalagi, mereka masih terbilang muda. Sehingga, tak jarang Sekar mendapati cibiran dari teman-teman wanitanya, karena mereka tak mampu mendapatkan pria-pria seperti mereka yang mengincar Sekar. Terlebih, saat mereka melihat perlakuan Arya yanglangsung menjalankan aksinya setelah menawarkan tenaganya pada Sekara, untuk memundurkan kursi dan meja yang akan diduduki Sekar. Tentu hal yang Arya tawarkan itu berlaku secara cuma-cuma. Namun bagi Sekar yang selalu skeptis pada pria seperti Arya, tak menggap hal itu merupakan aksi tanpa upah. Sekar yakin, Arya menginginkannya untuk berbicara padanya, paling tidak beberapa menit. Sebagai upah atas usaha heroik memukau yang ia lakukan. Bahkan, usaha Arya sungguh maksimal, ia berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi yang dihasilkan dari gesekan lantai dengan meja serta bangku yang dipindahkan. Agar tidak menganggu manusia lain yang hadir di café tersebut. Akan tetapi, aksinya justru mengundang beberapa pasang mata wanita muda yang sudah memperhatikannya sejak ia berdiri dalam antrean. Seketika, pria itu sukses membuat Sekar duduk dengan nyaman di sofa favoritnya. Tanpa takut paparan sinar matahari membakar kulit cantiknya yang natural. Tanpa olesan riasan dan perawatan berlebih. “Bagaimana kamu tahu ini tempat favoritku?” tanya Sekar, tak ingin mengakui bahwa ia cukup terkesan dengan tindakan Arya. Ia sempat memandang ke beberapa pasang mata yang iri padanya. Memberitahu mereka, bahwa mereka bukanlah tandingannya. “Sebenarnya, pas aku nyamperin kamu pertama kali itu....” Arya sempat berhenti, bukan karena ia masih sibuk dengan penggeseran tampat duduk yang ia lakukan. Namun ia sedang menimbang, apakah bijaksana menjelaskan kepada wanita super tak bersahabat di depannya itu. Tetapi tatapan Sekar yang menunggu, sangat mengintimidasi. Membuatnya harus melanjutkan perkataanya yang terputus saat ia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan menyeret kursi terakhir yang menjadi satu paket dengan tempat yang di duduki Sekar.   “Itu keempat kalinya, aku melihat kamu duduk di sofa ini.” Tuntasnya sambil mengarahkan tangannya pada bangku kosong yang berhasil ia seret.  “Aku boleh duduk di sini kan?” tanya Arya sopan, masih berdiri di samping tempat duduk Sekar seraya menunjuk sofa yang ia seret. Sofa itu berbentuk dan bernada sama seperti yang ada diduduki Sekar. Kali ini, pemuda itu mendapatkan jawaban positif dari Sekar tanpa argumen. Dengan senang, Sekar mendaratkan tubuhnya di hadapan Sekar. Tanpa mengetahui sekali lagi Sekar memandangi seluruh perempuan yang menatapnya iri. Setelah itu, matanya kembali menatap Arya yang tersenyum penuh kemenangan. Menurutnya, paling tidak dengan Sekar sudah bersikap lunak padanya. Merupakan tanda awal yang baik,dalam persahabata mereka. “Oh ya? Jadi bisa dibilang ini ke tujuh kalinya kita berada di tempat yang sama?” tanya Sekar, dahinya sampai mengkerut tak percaya pertemuannya dengan manusia keturunan Adam di hadapannya ini, sudah seperti hal rutin dalam sebulan ini. Ekspresi wajah heran Sekar, hanya dijawab anggukan beriring senyuman lebar oleh Arya. “So, kapan misteri itu terpecahkan?” tanya Arya antusias, sembari menyandarkan tubuhnya pada sofa yang tingginya tak dapat menampung seluruh badannya. Tidak seperti sofa Sekar yang masih menyisakan sedikit ruang di atas kepala Sekar. “Kenapa waktu itu kamu nyamperin aku?” malah dibalik tanya Sekar, tanpa memedulikan pertanyaan Arya. Akan tetapi, Arya tak bermasalah akan hal itu. Menurutnya, itu hak Sekar untuk menjawab setiap pertanyaan yang ia ajukan atau tidak. Ia kurang lebih sudah memahami watak Sekar, wanita ini bukanlah wanita yang suka kehidupannya diumbar. Bukan juga wanita yang haus akan kesan macho, jantan sepertinya. Sekar wanita berkelas, walau penampilannya jauh dari kesan itu. Berkelasnya Sekar bukan dari gaya busana seadanya yang selalu ia kenakan, bukan juga dari tingkah lakunya yang seenaknya. Berkelasnya Sekar dari bagaimana ia memperlakukan lawan bicaranya, membuat siapa pun yang berhadapan dengan Sekar seakan tunduk dan sukarela meladeni keegosian wanita tersebut. “Pertama kali aku liat kamu kayanya dua bulan lalu, aku duduk di sana,” Arya berbalik, menunjuk tempat duduk yang disedikan bagi siapa saja yang ingin memanjakan dirinya di café ini. Tempat duduk itu, berada setelah dua bangku di belakangnya. Dari posisi tempat duduk itu berada,  mau tak mau Arya pasti akan melihat wajah Sekar setiap kali ia menatap ke depan. “Waktu itu aku sedikit terngganggu karena ada suara cewek di depanku, yang tiba-tiba ketawa kencang banget. Jujur, aku pengen negur, karena ini kan ruang publik. Tapi pas aku liat, ternyata cewek itu mempunyai ekspresi ketawa yang membuat orang lain jadi ikut tersenyum. Ditambah, cewek itu langsung meminta maaf ke semua orang, pas tahu dia tanpa sadar sudah mengagetkan banyak orang,” kenang Arya mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Ia sampai salah tingkah, saat Sekar menatapnya tak percaya. “Aku sempat terpesona dengan kamu waktu itu!” ucapnya tulus, bukan sebagai balasan pada Sekar yang telah membuatnya salah tingkah. Akan tetapi, Sekar tetap tak menganggap serius kalimat Arya. “Kamu adalah orang kesekian yang terpesona sama aku, jadi sudah biasa. Terus?” membuat Arya justru tersenyum. Menciptakan kerutan lain di dahi Sekar. “Apa yang kamu bilang ada benarnya juga, pasti sudah biasa buat kamu dikagumi oleh orang. Ya wajar, walaupun kamu berpenampilan seadanya, tapi aura kamu begitu kuat. Kecantikanmu bukan hanya dari luarnya saja, tapi juga dari dalam!” Arya harus mengakui itu. Teorinya tak mendapatkan hasil berbeda dari Sekar. Ia hanya tertawa sedikit, sebagai balasan atas pujian yang tulus dari pria yang belum dikenalnya lama. “Well, thanks! Terus?” tanya Sekar akan kelanjutan cerita Arya yang terpotong. Namun, bukannya melanjutkan kalimatnya, justru Arya hanya menatap Sekar dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan olehnya. Tatapan itu teduh namun menelisik. Tatapan itu hangat, namun mencurigakan. Tatapan itu menghipnotis, membuat Sekar termakan kecanduannya. Sekar tiba-tiba tersadar, ia tak boleh bersikap lembek. Dirinyalah yang harus memegang kendali. Sekar sampai meyakinkan diri, untuk tidak terpesona dengan pria di hadapannya ini. “Terus?” tanya Sekar sedikit tegas, bukan dituju untuk Arya. Namun untuknya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN